Ada sesuatu yang magis tentang janji pernikahan—bukan sekadar kata-kata, melainkan cetak biru kehidupan bersama. Pernah kupikirkan bagaimana 'Aku memilihmu tiap hari, bukan karena sempurna, tapi karena kau adalah rumah bagi jiwa yang selalu merindukan pulang' terdengar seperti lirik lagu yang ditulis oleh langit. Atau mungkin 'Di hadapan waktu yang tak bersahabat, aku berjanji menjadi pelindung mimpi-mimpimu yang paling liar', yang mengingatkanku pada sumpah knight dalam 'The Witcher' tapi dibungkus kain sutra.
Janji-janji semacam ini selalu lebih dalam ketika disentuh oleh keunikan pasangan. Misalnya, 'Aku bersumpah akan selalu menyisakan ruang di lemari es untuk makanan kesukaanmu yang absurd' atau 'Kau boleh mencuri selimut setiap malam, asal jangan mencuri hatiku lagi—sudah jadi milikmu sejak lama'. Romantisisme itu ada di detail-detail kecil yang hanya kalian berdua yang paham.