Raga dan Lentera
Sikap dingin dan acuh yang ia dapatkan bukan semata-mata itu karena bawaan sifatnya dari lahir, tapi itu sebagai wujud rasa bencinya pada Lentera, dan bodohnya Lentera tidak menyadari itu.
Lentera tersenyum miris mengingat kebodohannya, dan sekarang ia jadikan itu pengalaman hidupnya untuk tidak mudah menganggap orang lain bagian dari keluarganya. Saat sedang menikmati malam dengan pikirannya yang melayang kesana-sini, Lentera mendengar suara pintu di ketuk, Lentera jelas tau siapa pelakunya.
Begitu Lentera membuka pintu, seperti dugaannya Ameta sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang sangat khawatir dan mata merah berkaca-kaca.
Bab Populer