PRAS, and his destiny
“Kau tau bagaimana tersiksanya aku, aku hampir gila dan memutuskan berhenti sekolah untuk berada di sini, melupakan dirimu yang aku yakin kau masih hidup. Daddy, Mommy, Ibu dan Ayah, semua menangis tiada henti dan berdoa tak putus demi dirimu. Tapi kau, menganggap ini seperti lelucon, sinting kau Alexander. Aku hampir putus asa hingga berfikir untuk mati supaya bisa menyusulmu. Kau keterla—“
Alex mencium kening Lily lama dan lekat. Air matanya tak bisa ia bending lagi. “Kau membuat— ku— mati – perlahan— Lex, kau…” Lily terisak, bahkan begitu sesenggukan. Alex memeluk Lily yang begitu kurus dari saat terakhir ia memeluknya.
“Aku mencintaimu, mencintaimu, sangat mencintaimu, Lily…, ampuni aku,
Bab Populer