Ada sesuatu yang sangat jujur tentang 'Cinta Alesha' yang membuatku sulit berhenti membacanya hingga halaman terakhir. Buku ini bukan sekadar kisah cinta biasa, melainkan eksplorasi mendalam tentang bagaimana seseorang bisa menemukan kembali dirinya setelah patah hati. Alesha digambarkan dengan begitu manusiawi—kekurangannya, ketakutannya, dan perlahan-lahan kebangkitannya terasa nyata. Dialognya mengalir natural, seolah kita mendengar percakapan sehari-hari teman dekat.
Yang paling kusukai adalah bagaimana penulis menghindari klise. Alih-alih ending yang dipaksakan bahagia, Alesha justru belajar menerima bahwa cinta bukanlah obat ajaib, tapi bagian dari proses tumbuh. Adegan ketika dia berdiri di depan cermin dan berkata, 'Aku cukup,' menjadi momen paling powerful bagiku. Buku ini layak dibaca bukan hanya untuk yang sedang patah hati, tapi juga untuk siapa pun yang perlu diingatkan tentang arti mencintai diri sendiri.