Selir Yang Terlupakan
Sikapnya tampak santai, namun sorot matanya tetap tajam seperti mata elang yang mengawasi mangsanya dari ketinggian—menghitung, menilai, mencari celah sekecil apa pun yang bisa ia temukan.
"Guqin bukanlah alat musik yang bisa dikuasai hanya dengan latihan sebentar," ucapnya perlahan, suaranya tenang namun penuh makna. "Ia tak sekadar membutuhkan jari yang lincah. Ia membutuhkan... jiwa yang selaras dengan bunyi yang dihasilkannya. Temperamen yang pas."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara yang sunyi.