Malam itu, ketika angin berbisik lewat daun jati, nenek pernah bercerita tentang makna siulan di kegelapan. Konon, itu pertanda ada 'penunggu' yang sedang lewat—entah penjaga gaib suatu tempat atau arwah yang tersesat. Tapi bukan sekadar mitos; ada filosofi Jawa kuno di baliknya: alam selalu berbicara, dan kita harus peka. Nenek bilang, jika mendengar siulan, lebih baik diam sejenak, menghormati yang tak kasatmata. Justru lucu sekarang, di era Spotify, siulan malam bisa jadi cuma tetangga sedang nyanyi 'Cublak-Cublak Suweng' sambil mandi.
Yang menarik, beberapa komunitas di Jawa Tengah masih percaya siulan malam adalah 'pamali' (pantangan), terutama jika nada siulannya melengking. Mereka mengaitkannya dengan 'lelembut' yang suka mengganggu. Tapi di sisi lain, ada juga yang melihatnya sebagai tanda keberuntungan—tergantung konteks dan kepercayaan lokal. Aku sendiri lebih suka memaknainya sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk selalu waspada dan rendah hati terhadap hal-hal di luar nalar.