SENTUHAN HARAM SUAMIKU
Aku kembali menundukkan wajahku, menyembunyikan mulai memerahnya manik mata, menahan rasa sakit sekaligus rasa malu.
"Kalau kamu merasa akan kuat, lanjutkan demi anak-anakmu. Tapi, kalau kamu merasa nggak akan sanggup, mundurlah. Ada aku yang akan selalu menunggumu," tutur Bambang dengan mimik serius.
Aku hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak tau harus menjawabnya apa. Tanpa terasa setitik air jatuh dari kelopak mataku.