DOSA TERINDAH
Tak dapat kutahan lelehan air mataku, mendengar Mas Adam yang seperti ini, aku tentu saja teringat tahun-tahunku bersamanya.
“Maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu, Aya. Kurasa aku sedang menuai karmanya saat ini.”
Kurasa Ivan menguatkan genggamannya.
“Tak perlu dibahas lagi, Dam.” Suara Ivan.
Ya, aku setuju. Tak perlu melihat ke belakang lagi. Benar apa yang dikatakan Mas Adam tadi, kita tak bisa mengubah masa lalu, tapi bisa menggenggam masa depan. Seperti genggaman tangan Ivan saat ini padaku, juga genggaman tangan Nindya yang kulihat meraih tangan Mas Adam. Beruntung Supri datang dan dengan ciri khasnya membuat suasana haru sedikit menegangkan tadi langsung buyar oleh pembahasan mere