Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Surga Reinkarnasi

Surga Reinkarnasi

Orang-orang di sekitar Takatsuki Sen adalah Ghoul kelas SS Tatara, Ghoul kelas SS Noro, dan Ghoul kelas S Kirishima Ayato. Tatara mengenakan topeng merah dan mantel panjang putih. Topeng itu menutupi bagian bawah wajahnya sehingga penampilannya tidak jelas. Noro bahkan lebih tertutup; tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat kecuali kedua tangannya. Kirishima Ayato juga mengenakan topeng, mata merahnya menatap Su Xiao dengan penuh tantangan. Tujuan keempat orang itu sangat jelas: menangkap Kamishiro Rize. Kemunculan Yamori sebelumnya juga memiliki tujuan yang sama.
10885 viewsOngoingAdded to Library 19 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam

Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam

Sejak datang, untuk pertama kalinya Ichiro menggenggam gagang pedang di pinggangnya. Setelah kematian Sora, kabar luar menyebut dia dibunuh oleh militer Doraia. Namun, Ichiro meragukannya. Hari itu Sora datang ke Doraia demi Keluarga Artika dan para mata-mata Gorasa. Musuh saat itu adalah Arlo. Hanya saja, tak ada yang percaya seorang pemuda 20-an tahun bisa membunuh Sora. Dia sengaja menantang Arlo untuk membuktikan kecurigaannya.
9.8521.7K viewsOngoingAdded to Library 11.5K Times as mashiro and sorata
Read
+Library
Terlahir Kembali Menjadi Dewa Perang

Terlahir Kembali Menjadi Dewa Perang

Sora membalikkan badan berharap calon suaminya itu berubah. "Terima kasih sudah memahamiku. Aku salah. Aku akan membalaskan semua dendamku setelah aku tahu siapakah pria asing di balik penyerangan Wings Tea. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Orlando memeluk Sora lebih erat lagi.
109.1K viewsOngoingAdded to Library 209 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
AMORAGA

AMORAGA

"Pukulan Saga emang luar biasa. Sakitnya sampai berbulan-bulan." Raga tertawa. Memang benar. Anak itu memberikan lebam yang sangat awet. Bahkan belum sembuh sampai 8 bulan lamanya. Ya, bukan karena sulit sembuh. Tapi beberapa kali Jeha mengincar lebam tangannya, membuat lebam itu muncul lagi ... dan lagi. "Gue jadi kangen Saga. Kalo gue perhatiin, dia mirip Amora, ya?" Cowok itu mengulum senyumnya. "Gak kenal takut, nekat, dan pemarah," kata Raga dengan suara pelan. "Tapi kalo mereka ketemu, kayaknya bakal jadi perang dunia."
109.0K viewsOngoingAdded to Library 351 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
Malam Kelam Bersama Presdir

Malam Kelam Bersama Presdir

Omel Langit. Sora jadi tertunduk. Ia merasa takut dimarahi oleh pria galak itu. "Maafkan saya, Tuan. Saya gak sengaja. Mohon maafkan saya." Pinta Sora menghiba. Langit jadi gemas sendiri melihatnya. Selama ini hidupnya terasa hambar sejak kepergian Qiandra, dan kini, setelah menikah dengan wanita polos seperti Sora, membuat hidupnya terasa sedikit lebih bewarna.
103.3K viewsOngoingAdded to Library 92 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai

Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai

Tumis brokoli, sup hangat dan salmon panggang. Seulas senyum kecil terbit di bibir Sora, lalu dia meraih ponsel yang tergeletak menelungkup di samping MacBook. Dia mencari chat room-nya dengan Figo, jarinya mengetik di sana. [Makan siang sama matcha latte-nya sudah sampai. Terima kasih.] Mata Sora seketika membulat saat pesannya yang baru saja dikirimkan langsung centang biru.
1077.7K viewsOngoingAdded to Library 2.6K Times as mashiro and sorata
Read
+Library
MOIROE

MOIROE

Lantas ia melukai tangannya sendiri, dan mengoleskan darahnya ke arah permukaan permata di lehernya. Isaura memejamkan matanya sambil mendengungkan bisikan. "Saudariku, bangkitlah, penantianmu sudah selesai. Aku, Sang penengah, memanggilmu untuk kembali." Seluruh peri pohon nampaknya mengerti panggilan ini, mereka yang menutupi sumur Urd segera bergerak menjauhinya, dan pintu kediaman kedua Dewi Moiroe yang juga di jaga oleh para peri pohon itu mulai bergetar, menandakan para peri pohon yang terbangun.
1026.0K viewsCompletedAdded to Library 830 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
KIPAS MERAH PEMURNI ARWAH

KIPAS MERAH PEMURNI ARWAH

Malam semakin larut dan bulan semakin meninggi, karena memikirkan soal pohon tadi Ryou menjadi tidak bisa tidur dan terbangun. “Ng … Uuh ….” Sora mengerang karena bermimpi buruk. Ryou menghampiri Sora, namun dia sampai di dekat Sora dia melihat jinbei atau baju tidur yang digunakan Sora sedikit terbuka dan sedikit menampilkan dadanya. Ryou merapikan pakaian Sora agar kembali tertutup lalu menyelimutinya lagi kemudian mencium kening Sora dengan lembut membuat Sora tersenyum dalam tidurnya dan Ryou yang melihat itupun ikut tersenyum.
2.0K viewsOngoingAdded to Library 80 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
Mirror : Death Note

Mirror : Death Note

Aku tidak dapat melihat dengan jelas orang yang Ye Jun tunjuk, karena lupa membawa kaca mata, dan lagi tidak memakai soft lens. Pengguntingan pita menjadi bentuk simbolis dari awal film ini. Aku di panggil maju ke depan dengan salah satu perwakilan perusahaan dan salah satu donatur. Pita beterbangan di atas merayakan keberhasilan ini. Suara riuh orang-orang terutama teman satu tim ku terdengar nyaring. Tanpa sadar aku pun meneteskan air mata bahagia. Rangga, aku berhasil.
1011.3K viewsCompletedAdded to Library 430 Times as mashiro and sorata
Read
+Library
PREV
12

Frequently Asked Questions

their challenges always felt rooted in the sheer weirdness of their situation. Living in the same apartment building with a genius artist who literally cannot function on her own? It's less about grand external obstacles and more about the daily, grinding work of creating a life around another person's total lack of ordinary life skills. Sorata's constant battle is against his own frustration and inadequacy—here he is, trying to figure out his own path in game design, while being the de facto caretaker for someone who outshines him in raw talent but can't even make toast.

Their main hurdle is communication, but not in the usual romantic drama sense. Mashiro expresses herself almost exclusively through her art; her words are sparse, literal, and often painfully blunt. Sorata has to learn to read the subtext in her paintings and in her few, quiet actions. The challenge is building a bridge between his emotionally intuitive, sometimes hot-headed world and her stark, focused, artistic reality. It's a miracle they get anywhere at all, honestly.

Then there's the looming pressure of her career versus his. She's a prodigy on a national stage, while he's a student struggling with deadlines and self-doubt. Navigating that imbalance, where her success could easily make him feel smaller, is a quiet undercurrent. They face it by him eventually finding his own footing—his games becoming his form of expression to stand beside her canvases. In the end, their shared challenge is building a partnership where two very different kinds of creation can coexist and support each other, which is way harder than any single dramatic plot point.

SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status