Saat aku keluar dari bioskop setelah menonton 'Geisha Lumpuhkan Ingatanku', angan-angan visual masih menempel kuat di kepala — dan itulah yang banyak disorot oleh kritikus juga.
Banyak ulasan memuji estetika film ini: sinematografi yang merayap pelan mempermainkan cahaya dan bayangan, desain kostum yang teliti, serta tata artistik yang membuat setiap adegan terasa seperti lukisan hidup. Pemeran utama juga sering dipuji karena mampu membawa kerentanan dan kekerasan batin tokoh tanpa berlebihan; beberapa kritikus menyebut penampilan itu sebagai jantung emosional yang menahan film ketika plot terasa melambat. Namun, tak sedikit yang menggarisbawahi bahwa adaptasi ini kadang terjebak dalam kemewahan visual hingga lupa menggarap kedalaman cerita secara konsisten.
Selain pujian visual, isu tentang akurasi budaya dan pendekatan naratif juga muncul. Sebagian kritikus menganggap film ini mengambil jalan aman dengan menonjolkan estetika, sementara isu-isu sosial dan historis yang penting dipadatkan atau diabaikan. Ada juga yang menganggap tempo yang lamban dan pembangunan karakter sampingan kurang memuaskan, membuat klimaks terasa kurang berdampak bagi penikmat cerita yang mencari substansi lebih. Bagi ku, ulasan-ulasan itu masuk akal: aku menikmati atmosfer dan penampilan pemainnya, tetapi setuju bahwa film ini lebih menggoda mata daripada benar-benar mengguncang hati seperti yang dijanjikan trailer.