Papa selalu bilang, hidup itu seperti puzzle yang harus disusun bersama. Setiap anggota keluarga punya kepingannya sendiri, tapi baru berarti ketika disatukan. Dia sering cerita tentang bagaimana dulu kakek mengajarnya untuk selalu melihat keluarga sebagai 'rumah' pertama sebelum menjelajah dunia. Mama malah lebih suka memakai analogi taman - hidup butuh disiram dengan tawa, dipupuk dengan kesabaran, dan diterangi matahari kasih sayang. Mereka berdua percaya bahwa makna hidup dalam keluarga adalah menemukan kehangatan dalam chaos dunia, semacam pelabuhan kecil yang selalu menunggu.
Aku ingat sekali waktu remaja, ketika bertengkar hebat dengan adik, Papa diam-diam mengajakku naik gunung. Sepanjang perjalanan, dia tidak banyak bicara, tapi justru di puncak itu aku sadar. Keluarga itu seperti pendakian; kadang lelah, kadang jatuh, tapi selalu ada tangan yang siap menopang. Mama sering melengkapi filosofi Papa dengan tindakan kecil: sepiring bakwan jagung tengah malam, atau selimut yang dibenarkan diam-diam saat kita tertidur di sofa.