Dinikahi Suami Majikan
Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah empat shubuh.
"Astaghfirulloh. Ternyata hanya mimpi," gumam Ririn sambil mengusap peluh. Susah payah ia menggeser tubuhnya agar mendekat pada suaminya. Memeluk pinggang suaminya dengan erat . Air matanya turun tanpa aba-aba, sungguh ia sangat ketakutan saat ini, jika yang ada di mimpinya benar saja terjadi.
"Maafkan aku yang belum benar-benar ikhlas melepasmu, Mas. Maaf," bisik Ririn di balik punggung suaminya.