The Beauty & The Monster
“Tidak pernah lagi kudengar ada korban lagi. Apakah Moa sudah berhenti berbuat ulah? Apa dia menyerah?”
“Seperti apapun situasinya, kita tidak boleh lengah. Moa tetaplah ada, di sini.” Nara menatap ke arah lain, menatap sosok yang berdiri di antara canola. “Di umurku yang bahkan belum menginjak sepuluh tahun, aku sudah kehilangan banyak teman. Mereka pergi saat tahu kalau aku incaran monster seperti Moa. Aku tidak bisa pergi membaca buku, membeli sepatu bagus, atau bahkan bermain neolttwigi dan gongginori seperti anak-anak lain. Yang aku lakukan hanyalah berlatih memanah, pergi ke kuil, dan mencari tanaman obat bersama kakek. Ah, jangan lupa dengan ritual setiap purnama.” Nara tertawa pelan.
Hot Chapters