Terpaksa Jual Diri
Salah seorang, dengan lipstik merah menyala, berkata dengan nada yang sedikit menusuk,
"Eh, Dylan …," suaranya dingin, mengamati aku dan Qiara dengan seksama. "Kamu ternyata ada di sini juga? Siapa mereka?"
Aku melirik Pak Dylan. Wajahnya memerah, seperti menahan amarah yang terpendam. Lengannya dengan sigap merangkul bahuku, sentuhannya begitu posesif. "Dia pacarku," ucapnya, sambil memberikan senyuman termanis.