Menanti Kabut dan Awan Berpaling
Dia menundukkan kepala, memandang dengan lambat saat salju mulai menenggelamkan lututnya.
Tumpukan salju yang tebal sudah berakumulasi di pundaknya, membuat mantelnya basah kuyup.
Gigi-giginya bergemertak, saling berbenturan atas bawah tanpa bisa dihentikan. Kelopak matanya pun sudah mulai membeku, membuat setiap kedipan terasa sangat sulit.
Namun meski begitu, Ardian menjalaninya dengan penuh sukacita.