Duka Sang Putri Tertawan
Jeritan Isabel menggema di seluruh area belakang panggung.
Para staf membeku, terkejut. Beberapa mulai berteriak panik, yang lain sibuk mencari ponsel untuk memanggil ambulans.
Aku menarik pisau itu keluar dan berdiri tegak.
"Seorang dari Keluarga Permana selalu melunasi hutangnya," kataku, menatap Isabel yang tergelatak di lantai memegangi tangannya yang berdarah dan terisak. "Ingat itu."