Bimbingan Panas Sahabatku
Dengan sedikit malu, ia mulai menuliskan nama, NIM, dan kelas pada lembar jawaban yang tadi nyaris tak bertuan.
Baru beberapa huruf ditulis, suara dari meja sebelah tanpa sengaja menarik perhatiannya.
"Kalau bagian ini saya ubah pendekatannya, peluang menangnya lebih besar, Pak." Itu suara Fero.
Bita tetap menunduk, melanjutkan tulisannya. Namun telinganya tak bisa mengabaikan percakapan yang berlangsung hanya beberapa meter darinya.
"Boleh dicoba," sahut Pak Arman. "Tapi pastikan argumenmu tetap kuat. Juri biasanya lebih senang solusi yang realistis daripada terlalu muluk."
Sikat na Kabanata