KUNTILANAK MERAH
"Yah... setidaknya rambutku rapi tiap pagi. Tapi kalau sampai digelung mirip topi tumpeng, aku bakar tuh sisir."
Dan salon Wiwin tetap buka—sekarang lebih ramai dari sebelumnya. Tapi hanya mereka yang cukup berani dan punya nyali tinggi yang mau masuk setelah maghrib. Karena siapa pun yang masuk malam hari, harus siap... disisir oleh tangan yang tak terlihat, dengan sisir yang membawa cerita lama, dari masa saat rambut adalah kehormatan, dan sisir adalah pusaka arwah.
Dan kalau ada pelanggan yang tak sopan, mereka akan menemukan helaian rambut mereka dipotong... rapi... dalam tidur mereka sendiri.