TULANG SUCI NAGA ABADI
Gemericik kendi, letupan kecil dari kayu yang terbakar, dan obrolan samar mengisi keheningan malam.
Di lingkaran api, seorang pria tua duduk bersila, berjubah lusuh. Rambutnya putih, alisnya tebal seperti ulat, matanya kecil tapi memancarkan tajam khas orang yang lama mengamati. Pak Tua Santo, begitu semua memanggilnya.
“Pak Tua, kau mau arak?” salah seorang pengawal menyodorkan kendi.
Pak Tua Santo menerima, menyeruput sedikit, lalu menyandarkan diri ke tongkat kayunya. “Sedikit saja, anak muda. Jika terlalu banyak, mata ini bisa kabur.”
Hot Chapters