POEDJAN
Tak ia pungkiri bahwa ia takut setengah mati dengan bagaimana kematiannya nanti, tapi ia berusaha untuk menyatukan pikirannya dan berharap kematian bisa datang lebih cepat.
Dengan tangan yang saling mengikat di belakang punggung, ia berjalan menuju ruang tamu dengan santai. Ki Sudarso berterima kasih pada siapapun yang membuat rumahnya sangat ramai, apalagi pemilihan Kidung Jawa yang menenangkan jiwanya.
Di tengah-tengah ruang tamu, ia menengadah ke lampu gantung dengan ukiran.
“Dari dulu, tidak ada permainan yang pernah kumenangkan. Pelarian kami hanya untuk menyenangkan Tuhan bahwa mungkin kami sudah jengah. Namun tidak. Kami menyembah pada iblis lain.
Hot Chapters