Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mafia Kaki Tangan Pemerintah

Mafia Kaki Tangan Pemerintah

Napena
“Lihat … siapa yang kalah pada akhirnya, Tuan Aksara Kalandra,” bisik Nasha tepat di telinga milik Aksa. Nasha menyeret turun pistol dari rahang tegas milik Aksa menuju dada bidang laki-laki itu. Dia mengedipkan sebelah matanya sebelum menarik pelatuk pistol hingga menimbulkan dentuman keras yang berhasil membuat Nasha meringis pelan. “NASHA ALESSIA! Dia ada di pihak kita!” Aksara Kalandra, seorang CEO muda yang dipuja akan sikap ramah dan wajah tampannya adalah sosok yang sama dengan laki-laki berdarah dingin yang tengah memegang revolver kesayangannya. Tangan kekar yang dipenuhi dengan darah itu adalah tangan yang sama dengan tangan yang sering memberikan uluran pada orang-orang disekitarnya. Laki-laki berlesung pipi dengan mata yang tersenyum seperti bulan sabit itu berhasil menyembunyikan sisi gelap yang ia miliki dari orang-orang disekitarnya. Namun, tidak ada kehidupan yang sempurna, bukan? Nasha Alessia, wanita cantik yang Aksa temui di bar malam itu adala awal mula topeng Aksa dipaksa untuk lepas. Membuat Aksa mau tidak mau harus menyeret masuk wanita berparas manis itu dalam dunia gelapnya. Dunia … dimana iba dan perasaan dibabat habis oleh logika dan ego penghuninya.
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
BIARKAN DENDAMMU JADI CINTA

BIARKAN DENDAMMU JADI CINTA

Tisya Vishaka
Niat Aiden Woo mendekati Katarina Lee hanya untuk sebuah misi balas dendam, semua kejadian sudah direncanakan dengan kakaknya. Aiden bersama kakaknya merencanakan untuk menyakiti Katarina bagaimana keluarga Katarina dulu membuat ibunya merasakan sakit sampai ia meninggal. Semua rencana berjalan seperti yang mereka susun, namun setelah pertemuan Katarina dengan Lelaki yang bernama Daniel Soo yang hangat dan selalu membuat Katarina tersenyum ketika bersamanya, dan semua itu membuat Aiden Woo merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya, merasa tidak suka dengan kedekatan mereka, karena Aiden tahu sejak pertama Daniel melihat Katarina ada ketertarikan di mata Daniel. Apakah selama ini Aiden memang ada cinta untuk Katarina? Haruskah dia membuang semua dendamnya, apa mungkin kakaknya dan keluarga Katarina memberinya izin untuk bersama? Banyak kelakuan Aiden yang diluar sifatnya ketika Katarina dan Daniel bersama. Akankah Katarina kembali lagi pada Aiden atau menerima cintanya Daniel. Apakah Katarina bisa mengubur perasaannya kepada Aiden? Apakah keluarga mereka juga akan berbaikan? apakah dendamnya akan begitu saja terhapus?. terkadang Benci dan Cinta hanya terhalang oleh tirai yang sangat tipis.
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Pernikahan 10 Tahun Hancur Di Tangan Pelakor

Pernikahan 10 Tahun Hancur Di Tangan Pelakor

Setelah menikah tujuh tahun, Manuel merasa hidupnya terlalu datar, jadi dia memelihara seorang mahasiswi di luar. Burung kenari yang lemah dan menyedihkan itu memanfaatkan tubuhnya untuk membujuk Manuel sampai dia tidak pulang sebulan. Tidak peduli bagaimana aku memanggilnya, tetap tidak ada gunanya. Di hari ulang tahun anakku yang ketiga, aku menggendong anakku yang demam tinggi, berlutut di luar vila, demi memohon Manuel pulang. Namun, Manuel justru berulang kali menginginkan tubuh simpanannya itu di depan jendela kaca besar. Di tengah suara kenikmatan mereka, anakku akhirnya mengembuskan napas terakhir di pelukanku. Di pemakaman, Manuel memelukku sambil menangis tersedu-sedu, bersumpah akan kembali ke keluarga dan mencintaiku dengan sepenuh hati lagi. Aku menyetujuinya. Namun, hanya karena sebelum meninggal, anakku berharap aku dan dia bisa kembali seperti dulu. Empat tahun kemudian, taman kanak-kanak tempat anakku dulu belajar merilis sebuah video penghargaan keluarga terbaik. Di dalam video, Manuel merangkul Nelly yang tampak berseri-seri. Di pelukannya juga ada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Anak kecil itu tersenyum ke arah kamera sambil mengangkat piala. "Papa, Mama, kita adalah keluarga paling bahagia!"
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Kill Me (This Is NOT Me)

Kill Me (This Is NOT Me)

Rindu Senja
Nadhirah Aleena yang kini hidup dengan trauma yang terus menghantui hidupnya menyebabkan terus menyesali apa yang telah terjadi, diselimuti ketakutan dan bahkan jauh dengan dirinya sendiri. Ia tidak mau siapapun hadir dalam hidupnya termasuk dari masa lalunya sekalipun. Tapi hal yang tidak di harapkan justru terjadi. Rendi yang merupakan masa lalunya datang kembali membuat Nadhirah berusaha untuk terus menghindar. "Menangislah, aku rindu tangisanmu, aku rindu semuanya tentangmu. Dan aku tidak pernah membencimu dengan keaadan sekarang.” Direngkuhnya tubuh Nadhira kedalam pelukan Rendi. "Aku tidak tahu apa arti kehidupan, aku lupa cara tersenyum, aku lupa bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Ini seperti bukan diriku. Aku mati, ya hatiku telah mati bahkan aku sangat membenci ketika melihat orang tertawa bahagia. Untuk tertawa saja aku sulit melakukannya apalagi untuk bahagia. Aku hidup dengan penuh rasa bersalah, penyesalan, dan tidak ikhlas dengan takdir yang telah digariskan. Apakah aku kejam? hahahaha sepertinya itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Tolong jangan tinggalkan aku.”Pinta Nadhirah dengan lirih diiringi isak tangis yang mengalun begitu menyanyat hati Rendi.
102.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 73 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan

Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan

Mom's Ainun
"Maaf saya tidak bisa menyentuhmu!" Ucap Alyas. Ucapan itu seketika membuat Andini berhenti tersenyum, ia bingung dan tidak mengerti apa maksud dari suaminya itu. Sebab seminggu sebelum pernikahan Alyas bersikap sangat baik dan begitu perhatian baik itu kepadanya juga kedua orangtuanya.
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 44 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Antara Janji dan Pengkhianatan

Antara Janji dan Pengkhianatan

Sahabatku yang patah hati, mabuk-mabukan di bar. Dia lalu meneleponku untuk menjemputnya pulang. Begitu sampai di area sofa di bar, aku justru melihat sahabatku merangkul leher tunanganku sambil bermanja-manja. "Ivan, aku sudah menunggumu selama tujuh tahun. Apa kamu belum bosan juga main-main sama Dinda?" Pria yang dahulu bersumpah akan memberiku pernikahan termegah abad ini, saat ini justru memeluk sahabat terdekatku dengan tersenyum penuh kasih sayang. Kemudian, Ivan menghabiskan banyak uang untuk membeli berita utama media di seluruh kota, demi melamarku di depan publik. Di depan kamera siaran langsung, aku tersenyum tenang sambil mengangkat tangan kananku yang dihiasi cincin berlian sepuluh karat. "Maaf Pak Ivan, aku sudah bosan bermain-main denganmu. Aku sudah menikah dengan orang lain."
1.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Madu Untuk Istriku

Madu Untuk Istriku

"Ijinkan aku menikah lagi, Ren?" Dengan berkaca-kaca, Dani memamdang Reni. "Apa kamu yakin sanggup, Mas? Membimbing satu istri saja kamu nggak bisa, apalagi dua?" Tidak! Reni tidak mau dimadu. Tanpa sadar Reni mengelus perutnya. Berharap anak dalam kandungannya tidak mendengar keinginan gila ayahnya. "InsyaAllah sanggup, Yank." Reni tersenyum kecut. Sholat aja tidak pernah sanggup dari mana? "Kamu gila, Mas!" Jengah dengan kegilaan Dani, Reni segera beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Dani. "Ren! Ren!" Dani segera menyusul Reni yang berjalan ke arah kamar. "Ren!" Dani menarik tangan Reni, namun segera ditepis oleh wanita itu. "Lepaskan, Mas!" Hatinya hancur, benar-benar hancur. Dia pikir suaminya telah kembali seperti dulu, namun ternyata dia salah. Malah sebuah permintaan gila yang dimintanya pada Reni. Tak menyerah, Dani terus mengekor Reni hingga ke kamar. Seketika Reni muak hanya dengan melihat wajah Dani. "Ren, dengarkan Mas dulu ...." Kali ini Dani telah berlutut di hadapan Reni. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan mata yang mulai sembab. "Mau ngomong apalagi, Mas?" Tangis tak lagi dapat ditahannya. Buliran bening itu akhirnya luruh juga. Ternyata dia tak sekuat yang dibayangkannya.
1090.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.4K kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
TOPENG MANIS SANG PEMBUNUH

TOPENG MANIS SANG PEMBUNUH

Langkah Hera terdengar pelan di lorong hotel. Sepatu hak pemberian tamu ke-2 ini terlalu sempit, itu sudah 5 tahun lalu, tapi ia belum mampu mengganti sepatu prada yang seperti itu . Bagi orang lain, gaun merahnya mungkin tampak mewah. Bagi Hera, itu cuma seragam. Topeng. Tangannya menggenggam erat tas kecil Hermes pemberian tamu ke-3. Di dalamnya hanya ada dompet tipis, lipstik murahan, dan kartu mahasiswa yang hampir jatuh tempo. Mahasiswa. Ya, itulah Hera di siang hari. Mahasiswi Sastra tahun akhir. Tapi di malam hari… ia menjual dirinya. Ia tidak pernah menyangka akan sejauh ini. Semua karena satu hal, uang. Adiknya butuh operasi, dan orangtuanya bahkan tak mampu bayar listrik. Hera belajar terlalu dini bahwa cerita di buku-buku tak pernah menyelamatkan orang miskin. Dan malam ini, ia harus menghadapi klien yang berbeda. Klien yang bahkan manajer tempat “kerjanya” tadi berulang-ulang, mengingatkannya, “Jangan macam-macam. Dia bukan orang biasa.” "hmm memangnya tamu seperti apa dia?" Hera menghitung jemarinya "oh, pria ini adalah tamu yang ke-9" Hera menghitung mereka untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidaklah semurahan itu. Managernya selalu bilang " Jangan banyak pilah pilih, untung cantik kalau tidak mah bisa gawat!" Pintu kamar 1705 terbuka otomatis. Sosok pria duduk di kursi dekat jendela, punggungnya menghadap Hera. Gelas anggur di tangannya berkilau diterpa cahaya lampu kristal. Pria itu bahkan tidak menoleh ketika Hera masuk. “Duduklah.” Suaranya berat, dalam, tapi tenang. Hera menelan ludah. Biasanya klien akan langsung tersenyum, meraba atau yang paling ekstrim langsung menerkamnya tanpa busana. Tapi pria ini? Ia hanya memandang keluar jendela, seolah keberadaan Hera bukanlah hal penting.
576 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Mr. Airlangga

Mr. Airlangga

Suwati van Rooij
Daaaarrr ! Lagi-lagi suara petir, biarpun aku nggak terlonjak seperti tadi tapi cukup bikin hati lumayan ngenes. Dengan kecepatan siput seperti ini jam berapa aku akan sampai Jakarta. Aku mendesah sedih, desahan yang sia-sia karena cuman aku sendiri yang tahu. Bruukkk ! Aku kaget lima kepalang. Aku menabrak sesuatu? Buru-buru aku melankah ke depan mobil, ingin melihat apa yang tadi sepertinya aku tabrak. Noooooo…..orang? Ada orang…eh laki-laki jatuh tertunduk di depan mobilku. “Tempat apa ini?” akhirnya dia berbicara. Pheeeww…aku menarik nafas lega, minimal dia bisa berbicara, coba kalau dia ternyata tidak bisa berbicara dan aku tidak tahu menahu bahasa isyarat bagaimana kita akan berkomunikasi coba? “Bandung….” Jawabku ragu-ragu, aku tidak yakin apa maksud pertanyaan dia dengan “tempat apa ini”, apa maksudnya kita di mana? Aku yakin sih aku belum meninggalkan bandung. “Bandung? Apa itu nama desa?” Hah…dia tidak tau Bandung? Mati gue, jangan-jangan tabrakan tandi membuat dia gegar otak. Sekarang dia mengalami amnesia dan tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu apapun! Terus apa yang harus aku lakukan? Tiba-tiba aku ingat film Jason Bourne, dimana dia mengalami amnesia setelah tertembak dan jatuh ke laut. Tetapi lelaki ini bukan Jason Bourne, tapi dari postur badan dan wajahnya bisa saja lho dia menjadi the next Jason Bourne. Aarrrgghhh gue ngelantur lagi. “Mas ingat namanya siapa?” ok, pertanyaan basic untuk memastikan apakah dia amnesia atau bukan. “Gajah Mada” jawabnya singkat. Aku dengan refleks menyunggingkan senyum kecil, pasti emak bapak si emas ini adalah fans berat patih maha tersohor dari Majapahit tersebut. “Kenapa kamu tersenyum?” tanyanya membuyarkan lamunanku.
109.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 252 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Jariku Terpotong, Godfather Menangis di Penjara

Jariku Terpotong, Godfather Menangis di Penjara

Demi merebut cincin pusaka keluargaku, tunanganku, Luca memotong jariku dengan pemotong cerutu. Dengan bangganya ia menyematkan cincin itu ke jari Putri Keluarga Oller, Sophia. Luca mengejekku, “Pantaskah seorang yatim piatu sepertimu memakai pusaka Keluarga Will, simbol sang Godmother?” Sophia memamerkan cincin itu sambil berpura-pura tersenyum lembut dan berkata, “Kak, jangan marah ya. Nanti biarkan Luca menggantikanmu dengan satu jari emas, gimana?” Seluruh tamu menertawakanku, tapi aku juga ikut tertawa. Sambil menghapus air mata, aku bertepuk tangan pada Luca dan berkata, “Selamat ya, Luca.” “Dengan satu jariku, kamu menukar seluruh jalan hidup Keluarga Will.” Melihat wajahnya yang kebingungan, aku tersenyum kejam. “Kamu pikir itu hanya sekedar pusaka?” “Bukan. Itu adalah kunci tunggal untuk mengaktifkan aset triliunan atas namaku.” “Sejak cincin itu lepas dari tanganku, Keluarga Will sudah resmi memulai hitungan mundur menuju kebangkrutan.”
3.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai tersenyum seperti ipin
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
910111213
...
50
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status