Terima Kasih, Mantan!
Sarno menunduk dan mengusap sudut mulutku, lalu berkata, “Aku yang mengajarimu segalanya, masa kau nggak tahu cara berterima kasih?”
Dalam kesunyianku, ruang sempit ini perlahan terasa hangat.
Aku menatapnya dan melepaskan keraguanku. Paling aku bayar dengan diriku sendiri, lalu aku dengan berani mendongak dan mencium pipinya.
Awalnya Sarno kaget, lalu matanya bergejolak dan bertanya dengan heran, “Ngapain kau cium aku?”
Aku mengerutkan bibirku dan menjawab dengan pelan, “Berterima kasih padamu.”