Rasaku Ditelanjangi
bisikku pelan, nyaris seperti gumaman.
Tapi Arga mendengarnya. Selalu saja mendengarnya.
“Apa? Jujur dikit aja nggak boleh?” ujarnya sambil tertawa pelan.
Arga menyelesaikan tusukan terakhirnya lebih dulu. Ia mengelap tangannya dengan tisu, lalu bersandar di bangku kayu yang mulai dingin, mengeluarkan rokok dari saku jaketnya.
Jari-jarinya tampak cekatan saat menyulut api, lalu mengisap dalam, menghembuskannya ke langit mendung yang mengambang di atas danau.