Yuk, Nikah!
Dan dengan bodoh aku mengusirnya, menyuruh untuk melupakanku, memutuskan tali ikatan persaudaraan kami hanya karena aku selalu mengelak dari suatu rasa bernama cinta.
“Permisi ....” Kubelah lagi kerumunan, hingga hampir sampai ke barisan paling depan.
Mendengar, bahkan melihat sendiri kalau dirinya pergi dengan lawan jenis bertato itu, hatiku sangat terbakar. Kuakui, aku tak rela. Entah setan apa yang merasuki saat ini, tetapi aku sungguh merasa gila karenanya. Lupa sudah dengan pendirian untuk bertahan dari godaan. Aku kalah telak.