Beranda / Young Adult / 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin / BAB 44 - Di Ranjang Rumah Sakit

Share

BAB 44 - Di Ranjang Rumah Sakit

Penulis: Wiziiw
last update Tanggal publikasi: 2026-09-03 10:00:00

Senja mulai turun ketika mobil Archer memasuki halaman Rumah Sakit Aruni.

Lampu-lampu di area Instalasi Gawat Darurat sudah menyala, sementara beberapa perawat dan petugas medis berlalu-lalang mendorong brankar maupun kursi roda. Suasana rumah sakit tetap sibuk meskipun hari mulai gelap.

Beberapa menit kemudian, Zeeya sudah berbaring di salah satu ranjang pemeriksaan.

Rasa nyeri di perut bawahnya memang sudah sedikit mereda setelah mendapat obat, tetapi tubuhn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 63 - Satu Pernyataan Mengejutkan

    Rasa penasaran membuat Archer akhirnya menghampiri mereka. “Zeeya.” Zeeya dan Dean menoleh bersamaan. “Baru pulang kerja, Pak?” tanya Dean. “Sudah dari tadi. Sepertinya kau juga baru selesai latihan.” Dean mengangguk. “Setelah latihan, aku melihat Zeeya berolahraga. Jadi aku menemaninya sampai selesai.” Pandangan Archer beralih kepada Zeeya. “Aku tidak bisa menghubungi Bapak. Takut mengganggu,” jelas Zeeya. “Seharusnya aku mengabarimu kalau hari ini tidak bisa menemanimu.” Zeeya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Lagi pula tadi ada Dean.” Archer tidak langsung menjawab. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatnya sedikit terganggu. Krukkk! Suara perut Zeeya memecah keheningan. Wajah gadis itu langsung memerah. Ia buru-buru menutupi perutnya dengan kedua tangan. Dean menahan tawa. “Zeeya, ayo m

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 62 - Ulat Kecil

    Archer baru saja tiba di Rumah Sakit Aruni. Ia langsung bergegas menuju ruang rawat kakeknya.Di hadapannya terdapat pintu bermotif kayu dengan tulisan emas “VIP” di tengahnya.Archer menggeser pintu tersebut. Di dalam, Pak Dalton sudah menunggu di sofa dan segera berdiri ketika melihatnya.“Bagaimana keadaan Kakek?” tanya Archer.Pak Dalton mengisyaratkan ke arah ranjang.“Archer?” Suara renta itu membuat Archer langsung menoleh. Ia segera berjalan mendekati ranjang.Kakek berusaha duduk dengan bantuan Pak Dalton.“Tidak perlu memaksakan diri. Tiduran saja,” ujar Archer.Kakeknya tertawa kecil. “Aku sudah tidak apa-apa. Tadi hanya tidur.”“Apa yang sebenarnya terjadi?”Pak Dalton menjawab, “Tuan pingsan karena kelelahan. Beberapa hari terakhir beliau banyak bertemu tamu penting. Selain itu, tidak ditemukan masalah serius.”Archer menghela napas. “Maaf

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 61 - Vas Bunga Yang Jatuh

    Elena menyesap kopi yang baru saja disajikan. Di seberangnya, Archer duduk dengan wajah datar seperti biasa, kedua tangannya bertumpu di atas meja.“Sepertinya kau tidak senang kuajak ke sini,” ujar Elena sambil meletakkan kembali cangkirnya.“Aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Cepat katakan apa tujuanmu.”Elena menghela napas panjang. “Apa kau benar-benar tidak nyaman berduaan denganku? Aku sedikit kecewa.”“Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku sebagai guru. Waktuku untuk menjadi guru sementara juga tinggal sebentar lagi.”“Benarkah?” Elena tersenyum tipis. “Bukankah itu bagus? Kau bisa kembali ke tempatmu.”Archer terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menatap ke ruang terbuka. “Entahlah…”Elena mengangkat sebelah alis.“Sepertinya aku cukup cocok dengan pekerjaan ini.” Archer tertawa tipis. “Aku tidak menyangka akan mengatakan itu.”Elena memperhatikan

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 60 - Menguping

    Pagi itu, hujan baru saja berhenti.Tetesan air masih menggantung di ujung dedaunan yang terlihat dari jendela ruang guru. Langit berwarna abu-abu pucat, sementara udara dingin masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.Beberapa guru sudah lebih dulu datang.Suara halaman buku yang dibalik, ketukan papan ketik, serta percakapan pelan memenuhi ruangan yang biasanya ramai menjelang jam pelajaran pertama.Meski begitu, pagi itu suasana ruang guru terasa cukup tenang. Tidak ada suara siswa yang berlarian di koridor. Tidak ada bel masuk yang memecah kesunyian.Hanya orang-orang dewasa dengan pekerjaan masing-masing.Archer duduk di mejanya sambil memeriksa beberapa lembar tugas siswa.Pulpen hitam bergerak perlahan di antara angka dan tulisan. Sesekali ia memberikan tanda merah pada jawaban yang salah sebelum membuka lembar berikutnya.Semuanya terlihat seperti pagi biasa.Setidaknya sampai sese

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 59 - Hal Yang Tidak Perlu Di Ketahui

    Archer berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Albert. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Pandangan keduanya bertemu.Tatapan Archer dingin dan tajam, sementara Albert tetap berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana.“Kenapa kau membawanya ke sini?” tanya Archer dengan suara berat.Albert menyunggingkan senyum tipis. “Hanya ingin berkenalan dengannya.”“Berkenalan?” Archer melirik Zeeya sekilas sebelum kembali menatap Albert. “Kau bahkan tidak perlu membawanya ke rumahmu untuk sekadar berkenalan.”Albert terkekeh pelan. “Aku melihat kalian sepertinya sangat dekat.” Pandangannya beralih kepada Zeeya. “Murid kesayangan biasanya memang mendapatkan tempat khusus di hati gurunya.”Zeeya langsung mengerutkan kening.Sementara Archer tidak menunjukkan perubahan ekspresi. “Apa yang kau katakan padanya?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa?” Ia sedikit memiringkan tubuh ke arah

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 58 - Foto Keluarga

    Mobil Albert akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar di kawasan Distrik Timur.Zeeya menatap bangunan di hadapannya melalui jendela mobil. Dinding berwarna krem, jendela-jendela tinggi, pagar besi hitam, serta taman yang tertata rapi membuat rumah itu terlihat seperti kediaman keluarga kaya dalam film.Albert mematikan mesin. “Sudah sampai.”Zeeya masih belum membuka sabuk pengamannya. Ia menoleh perlahan. “Paman benar-benar tinggal di sini?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Kau mengira aku tinggal di kontrakan?”“Bukan begitu.”“Lalu?”“Rumahnya terlalu besar.”Albert terkekeh. “Itu pujian atau sindiran?” Ia membuka pintu dan turun lebih dulu.Zeeya masih duduk beberapa detik. Entah kenapa, sejak tadi ada perasaan aneh yang terus mengganggunya.Ia memang mengenal Albert. Setidaknya, Albert adalah sepupu Archer. Namun selain itu… Ia tidak tahu apa-apa tentang p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status