เข้าสู่ระบบ“Sreeek sreeek sreeek!”Tungkai Iblis Hitam terkayuh mundur menahan nyeri. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi memberikan keuntungan bagi Giandra untuk membidik area selangkangan. Dia sangat kesusahan apabila musuh menghantamnya di bagian bawah, dan terlebih lagi kecepatan Giandra tidak mudah diukur.“Kurang ajar! Kau beraninya main serangan kotor, pendekar tengik. Kau harus merasakan pembalasanku!”“Heh, yang namanya pertarungan antara hidup dan mati itu bebas, tidak ada peraturan khusus. Salahmu sendiri yang kurang hati-hati,” ucap Giandra. Jari telunjuknya menunjuk pada siluman tersebut.Iblis Hitam yang mengernyit kesakitan menghentakkan kakinya yang sebelah kiri. Bumi pun tiba-tiba bergetar hebat. Dua bongkahan cadas besar yang ada di belakangnya melambung setinggi dua tombak dari tanah. Seolah dikendalikan dengan benang-benang sihir kasat mata, kedua batu itu mengapung tanpa terpengaruh oleh gravitasi. Iblis Hi
Petang merayap di puncak Gunung Ratri. Nuansa kemerahan membakar langit yang dikerumuni mega-mega. Bau belerang naik dan menebar dari dalam kawah yang luas, berpadu pula dengan udara dingin dan kabut tipis yang bersiaranSetelah menempuh perjalanan panjang, melintasi lembah dan mendaki gunung yang berselimut hutan, sekarang Giandra dan ayahnya tiba di hadapan wadah persembunyian Iblis Hitam. Tempat itulah yang bernama Gua Sarang Siluman. Pada masa lampau, asap pembakaran dari daging manusia yang dipanggang kerap tercium dari dalam gua tersebut.Semburan matahari petang membentuk garis-garis keemasan, menyinari tepat di hadapan terowongan lebar yang bagian dalamnya ditumbuhi lumut itu. Jika dilperhatikan dari luar, penampakannya mirip seperti mulut raksasa yang menganga kelaparan.Di sekitaran lokasi itu, terlihat banyak bongkahan-bongkahan cadas besar, kerikil kecil yang berserakan, dan hamparan pasir yang berasal dari abu vulkanik, semuanya itu menciptaka
Malam yang dingin menyelimuti rimba raya, suasana larutnya menenggelamkan suara jangkrik, kelompok kunang-kunang masih berpijar, gemerlapan di ranting pohon, kelap-kelipnya seolah menggantikan cahaya kejora yang sirna di langit. Kala itu embun dini hari sudah turun, rerumputan yang basah pun memancarkan bau lembab, berpadu dengan aroma daun-daun busuk yang menghitam di tanah.Dalam kondisi setengah sadar, Patrioda diikat tergantung pada sebatang dahan pohon. Kepalanya menghadap ke bawah, sedangkan dua kakinya mengarah ke atas. Dia sekarang tak ubahnya bagaikan kelelawar yang biasa bergelantungan di langit-langit gua.Lilitan akar-akar yang kokoh dan tumbuhan liar yang melayap membelenggu sekujur badannya. Entah sudah berapa lama dia siksa seperti itu, tenggorokannya terasa kering mencekat, kepalanya pusing dan perutnya mual. Cuma dialah satu-satunya yang terpisah dari rombongan saat berada di Gunung Ratri. Setelah yang lain sudah kembali ke istana, lelaki ini malah jadi bulan-bulanan
Di hadapan pintu kamar Jaka Purnama sendirian termenung. Walaupun malam kian meninggi, tapi lelaki itu masih belum jua istirahat. Dengan ditemani nyianyian Jangkrik dan hawa dingin yang menari di keheningan, dua tangannya bertumpu pada pagar kayu, dia silangkan semua jemarinya, pikirannya pun mulai membayangkan tentang apa yang akan terjadi besok.Derap langkah di lantai papan tiba-tiba terdengar. Ada yang datang mendekatinya. Jaka Purnama pun mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Tampaklah olehnya seorang wanita berpakaian kuning muncul, berjalan dengan anggun. Dia ini tidak lain adalah Alindra, dirinya tampak sedang membawa gelas bambu yang mengepulkan asap.Wanita itu tersenyum manis. Dia berhenti di dekat Jaka Purnama, lalu menyuguhkan minuman yang dibawanya tersebut. Aroma harum pun seketika tercium dari asap yang mengepul itu. Jaka Purnama tahu kalau itu adalah segelas kopi tubruk yang nikmat.“Minumlah, Kakang. Aku sengaja membuatkannya untukmu, biar Kakang tidak bosan mer
Setiba di ruangan khusus tempat menghadap sang raja, Giandra dan Jaka Purnama berjalan menginjakkan kaki di atas hamparan karpet merah. Cahaya obor menerangi ruangan yang megah ini. Di atas kepala mereka langit-langit istana yang remang dihiasi dengan berbagai ukiran gambar, menambah nuansa keelokan yang memukau pandangan.Senopati Wibisana segera mengambil tempat duduk di bawah anak tangga batu, berseberangan dengan Senopati Taraka. Tugasnya telah selesai untuk menghadirkan ayah dan anak ini ke hadapan sang raja. Di atas anak tangga batu yang bertingkat tiga itu terdapat lantai tinggi yang mirip seperti panggung. Di sana ada tiga buah singgasana dari kayu jati yang berukir, lapisan luarnya berupa sapuan emas yang berkilauan dan dihiasi pula dengan taburan-taburan intan. Pada singgasana yang di tengah, duduklah Prabu Surya Buana. Dia mengenakan jubah berwarna perak, mahkota bertabur permata, dan di lehernya ada seutas kalung yang berliontinkan Mustika Permata Hijau, benda ajaib yang
Malam telah turun menggantikan siang. Kilauan kejora menaburi langit di atas Istana Kerajaan Jayakastara. Puing-puing dari sebagian bangunannya yang runtuh masih berserakan tidak karuan. Bulan yang menggantung di awang-awang menyorotinya dalam warna keremangan. Angin yang lembut perlahan mendesah, membawa hawa dingin yang membelai kulit, berpadu dengan bau rumput dan semerbak bunga-bunga yang tumbuh di halaman istana. Kawanan kunang-kunang berkerlipan pada setiap lembar daun yang berjuntaian di pohon-pohon. Cahaya mereka terus berjoget bagaikan para penari. Dendangan syahdu dari jangkrik malam pun turut mengiringinya.Kala itu di halaman istana, Giandra tegak seorang diri di atas pendopo yang terbuat dari kayu jati. Sepasang bola matanya menatap ke angkasa raya yang luas. Seakan-akan dia hendak bertanya pada Ilahi, mengapa dunia ini begitu kejam?Sudah banyak nyawa gugur dalam pertempuran menghadapi Persaudaraan Iblis. Sekitar dua ribu pasukan yang diturunkan semuanya habis tanpa te
Seperti manusia yang tengah dirasuki roh jahat, Raditiya berjalan menghampiri Giandra. Dari Sorot mata dan raut mukanya menyiratkan bahwa dia sudah tidak lagi mengenali siapa pun.Yang memenuhi hati Raditiya saat ini hanyalah hasrat untuk membunuh. Pengaruh buruk dari ilmu yang tidak
"Dasar Biadab! Berarti memang dialah yang sudah membunuh keenam murid di depan pintu gerbang tadi!” ucap Kamajaya mengutuk. Nafasnya pun jadi mendengus karena terbakar amarah.Padmarini yang berada di sebelah kiri Giandra akhirnya juga tak dapat membendung emosi yang sudah meluap. Tangannya mulai ber
Mengetahui kalau lawannya sudah mengeluarkan ajian pamungkas, Ratu Kalinda Kamala tidak hanya diam saja dan tercengang menyaksikan pemandangan itu, untuk menghadapi Aryajanggala, dia pun terpaksa harus menggunakan Tiga Mutiara Inti Samudera.Ratu Kalinda Kamala menadahkan tangan kanannya di depan mul
Manik Maya mentransfer energinya lebih banyak lagi kepada Bayu Halimun, maka bola cahaya itu pun terus bertambah terang dan semakin membesar. “Wuuut wuuut wuuut wuuut wuuut.”Karena menyaksikan kalau kedua musuhnya itu sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang dirinya, maka Nyai Parmadita pun bers







