登入Hari-hari berikutnya berlalu dalam keheningan yang aneh. Anastasia nyaris tidak bergerak dari ranjang—ia hanya bangun untuk ke kamar mandi dengan bantuan pelayan, lalu langsung kembali berbaring.
Pendarahannya perlahan berhenti setelah tiga hari meminum ramuan pahit dari tabib. Tapi tabib tetap menyarankan agar ia beristirahat total selama minimal dua minggu lagi. Arlos datang setiap tiga hari untuk memeriksa—meski “memeriksa” adalah kata yang salah. Ia hanya mas"Halo, Yang Mulia," Amara berdiri di ambang pintu dengan senyum yang penuh kebencian. Di belakangnya, Morathi dan selusin penyihir gelap berdiri dengan tongkat berkilau, siap menyerang.Arlos tidak membuang waktu dengan kata-kata.Api merah meledak dari seluruh tubuhnya—api yang begitu panas hingga udara di sekitarnya bergetar, hingga dinding mulai meleleh."KELUAR!" teriaknya dengan suara yang menggelegar, membuat seluruh istana bergetar."KELUAR DARI KAMAR KELUARGAKU!"Dia melangkah maju, menempatkan dirinya di antara tempat tidur—di mana Anastasia dan Sera masih tertidur—dan para penyerang.Amara tertawa—suara yang tinggi dan gila. "Terlambat untuk melindungi mereka, Yang Mulia. Mereka akan mati malam ini. Dan kau akan menyaksikan setiap detiknya."Dia mengangkat tongkatnya—LEDAKAN cahaya ungu menyambar ke arah ranjang—Tapi Arlos lebih cepat.Dinding api muncul di depan ranjang, menyerap s
Di sudut gelap istana, konspirasi sedang dijalin. Felix berdiri di ruangan gelap, wajahnya pucat dan berkeringat. Sakit kepala yang terus-menerus menyiksanya semakin buruk—rasa sakit yang menusuk yang membuat penglihatannya berkunang-kunang. “Kau harus membawa kami masuk,” suara wanita berbisik dari kegelapan. “Kaisar telah menjadi lemah. Terlalu fokus pada keluarga kecilnya. Ini adalah kesempatan sempurna.” “Tidak,” Felix menggeleng dengan keras, meski gerakannya membuat sakit kepalanya meledak. “Aku tidak akan mengkhianati Yang Mulia. Aku terikat—sumpah darah—“ “Sumpah darah mengatakan kau harus melindungi Kaisar,” suara lain berbisik—suara yang lebih tua, lebih mengerikan. “Dan wanita itu melemahkannya. Anak-anak itu membuatnya rentan. Untuk melindunginya—kau harus membuang mereka.” Felix merasakan pikirannya berputar. Itu... itu masuk akal, bukan? Kaisar menjadi lebih lemah sejak wanita itu kembali. Lebih
Dari balkon, Anastasia menatap dengan air mata yang mengalir, memeluk Sera yang menatap kakak dan ayahnya dengan ekspresi yang—meski dia masih bayi—tampak penuh dengan kekaguman.Ini adalah keluarga yang sempurna, Anastasia berpikir. Dan aku sangat bersyukur bisa melihatnya. Bahkan jika hanya untuk waktu yang singkat.☆☆☆Malam adalah waktu mereka yang paling intim.Setelah anak-anak tidur—Lucian di kamarnya yang penuh dengan mainan, Sera di tempat tidur bayi di kamar Anastasia—Arlos akan datang melalui pintu penghubung.Tidak untuk apa yang dia dulu datang—tidak ada kekejaman, tidak ada pengambilan paksa. Hanya untuk... menemani.Dia akan duduk di kursi besar dekat perapian, membawa berkas-berkas pekerjaannya, bekerja dalam keheningan yang nyaman sementara Anastasia berbaring di ranjang, membaca atau hanya menatap api yang berkobar.“Kau tidak harus ada di sini,” Anastasia berkata suatu malam, menatapnya dari ranjang. “
“Mama akan selalu ada di hatimu,” Anastasia melanjutkan dengan suara yang bergetar. “Bahkan ketika Mama tidak bisa ada di sini secara fisik. Mama akan selalu mencintaimu.”“Yang Mulia,” Margareth berkata dengan lembut dari pintu, mata berkaca-kaca mendengar bisikan sedih itu. “Kaisar akan segera kembali untuk makan siang.”Dan Anastasia mengusap air matanya dengan cepat, tersenyum untuk Sera—senyum yang tidak mencapai matanya tapi cukup untuk menjaga kekhawatiran dari wajah kecil yang menatapnya.☆☆☆Makan siang adalah waktu favorit Arlos.Dia akan kembali—kadang dengan Felix, kadang sendirian—dan langsung mencari keluarganya.Pintu terbuka, dan sebelum siapapun bisa mengatakan apa-apa, Lucian akan berteriak “PAPA!” dan berlari secepatnya, api kecil menari di kakinya karena kegembiraan.Arlos menangkapnya dengan mudah, mengangkatnya tinggi ke udara, membuat anak itu tertawa riang.“Lucian rindu Papa!”“
Hari-harinya memiliki rutinitas yang menenangkan.Pagi adalah untuk keluarga. Arlos akan sarapan dengan mereka—sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, selalu terlalu sibuk dengan urusan kekaisaran.Tapi sekarang, tidak ada yang lebih penting dari keluarganya.Mereka duduk di ruang makan pribadi yang terhubung dengan kamar mereka. Meja sudah disiapkan dengan makanan terbaik—roti segar, buah manis, telur, daging, dan susu hangat untuk Lucian.Anastasia mencoba makan sebanyak yang dia bisa—nafsu makannya masih buruk, makanan sering terasa hambar—tapi dia memaksa dirinya karena ramuan yang harus dia minum harus dengan makanan.Arlos memotong makanannya menjadi potongan kecil tanpa diminta, meletakkannya di piringnya dengan kelembutan yang membuat hati Anastasia hangat.“Makan yang ini dulu,” dia berkata dengan lembut.“Ini paling mudah dicerna.”“Papa! Lucian juga mau itu!” Lucian memprotes, menunjuk makan
“Jangan. Jangan menghabiskan waktu yang kita miliki mencari keajaiban yang mungkin tidak ada. Habiskan waktu itu... denganku. Dengan anak-anak kita. Biarkan aku—biarkan kami—memilikimu sepenuhnya.”Arlos menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca—kaisar yang tidak pernah menangis sekarang menangis di hadapannya.“Baiklah,” bisiknya akhirnya. “Baiklah. Tapi aku tetap akan mencari. Diam-diam. Tanpa mengambil waktu dari kalian. Aku harus—aku harus mencoba.”Anastasia mengangguk, memahami kebutuhannya untuk melakukan sesuatu, untuk tidak merasa tidak berdaya sepenuhnya.Tangisan bayi dari kamar sebelah memecah momen mereka.Sera. Rewel lagi. Dan Lucian—“Papa! Sera nangis! Lucian tidak bisa diam Sera!”Arlos berdiri dengan cepat, mengusap matanya dengan punggung tangan. “Aku akan—““Kita berdua,” Anastasia memotong, mencoba berdiri meski Margareth protes. “Aku ingin—aku ingin melihat kalian bersama. Lucian dan Sera dengan ayah







