เข้าสู่ระบบNADIA
- 4 Kembalikan "Jika pada akhirnya aku menyerah, aku tidak akan menyesali keputusan itu. Karena aku sudah berusaha sekuat hati untuk bertahan dan memperjuangkan pernikahan ini." Davin membeku membaca satu paragraf di layar laptopnya. Tadi dia menemukan flashdisk hitam tanpa gantungan di laci paling bawah meja rias. "Ini punya siapa?" Karena penasaran, akhirnya dia menyalakan laptop dan memasukkan flashdisk. Hanya ada satu folder di sana. NADIA YANG HEBAT. Saat dibuka folder itu berisi satu file dokumen saja. NADIA YANG CANTIK. Membuat Davin semakin penasaran dan ia klik judul itu. Dan terbukalah semuanya. Tentang luahan hati istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Tiap kalimat menamparnya begitu hebat. Semakin menambah deretan penyesalan yang dalam. Ternyata sejahat itu dia pada seorang Nadia yang sangat mencintainya. Dalam catatannya, Nadia menulis tanggal dan jam kapan ia mengetik. Hampir semuanya ditulis disaat dirinya sedang bekerja. Ternyata begitu lama ia menjadi suami yang paling tidak tahu diri. "Kalau nanti aku benar-benar gagal bertahan, aku ingin mengingat bahwa aku pernah berjuang sekuat itu. Bukan hanya untukku sendiri, tapi untuk Adam. Meski ayahnya tak pernah menginginkannya." "Pada akhirnya aku memang harus mundur dan berhenti berharap hubungan ini akan membaik. Aku sadar, bukan aku wanita yang dicintai suamiku. Kami akan bercerai. Fighting Nadia yang cantik." Dan masih banyak tulisan tentang bagaimana Nadia sendirian merawat Adam dalam kondisi sakit atau rewel. Dada Davin tersengat. Kini setelah memutuskan bercerai dua bulan lalu, dan menjelang sidang ikrar talak, ketika semuanya tinggal beberapa hari lagi, barulah ia merasakan kehilangan yang begitu hebat hingga membuat dadanya sesak. Ia telah menyia-nyiakan seseorang yang mencintainya sepenuh hati. Rumahnya sepi. Tidak ada suara tangis Adam, omelan panjangnya Nadia. Juga tidak ada suara berisik di dapur setiap pagi. Tak ada lagi langkah kecil Adam yang memenuhi ruangan. Nadia juga sudah tidak mau lagi membalas atau menerima teleponnya. "Adam, jangan minta gendong 'Om Davin.' Nanti bau ompolmu. Dia sudah ganteng dan mau berkencan." Ia ingat ucapan Nadia di Minggu pagi saat Adam tertatih menghampirinya, sedangkan ia sudah rapi hendak keluar. "Sini ikut Papa." Davin menggendong tubuh kecil itu dan diajaknya keluar rumah. Bermain satu jam di teras, baru kemudian Davin pamit pergi. Ternyata mengingat kembali semua itu, terasa sangat menyakitkan. Nadia menyuruh anaknya sendiri memanggilnya Om. Dua bulan ini rumah itu begitu sunyi. Mamanya juga sudah berhenti peduli padanya, setelah tahu perceraian ini karena Davin selingkuh dengan mencintai wanita lain. Ketika lonceng pagar berbunyi, Davin membuka rekaman CCTV yang terhubung ke ponselnya. Pria itu menegakkan duduk saat melihat siapa yang datang. Nadia berdiri di luar pagar. Tanpa pikir panjang, Davin bangkit dan bergegas keluar. Ia berpapasan dengan ART-nya yang hendak membuka pintu. "Biar saya saja," ucap Davin cepat. Ketika pagar terbuka, Nadia yang terkejut memandang Davin berdiri dengan mata memerah. "Loh, Mas sudah di rumah. Kapan pulang?" tanya Nadia dengan nada yang begitu biasa. Padahal dalam perjalanan tadi, dia murung mengingat segala rasa sakit dan kesedihannya. "Jam sembilan tadi. Ayo, masuk!" Davin bergeser supaya Nadia bisa lewat. "Aku nggak akan lama. Ada sesuatu yang mau kuambil." "Aku juga ingin bicara denganmu." Nadia tidak menghiraukan itu. Bicara apa? Sudah tidak ada yang perlu dibahas. Ia melangkah masuk ke dalam rumah diikuti oleh Davin. Kemudian menaiki tangga dan langsung ke kamar. Laci dibuka dengan tergesa. Dia panik karena benda yang dicari sudah tidak ada di tempatnya. Padahal laci paling bawah itu jarang dibuka. Bahkan Davin tak pernah mengusik meja riasnya. "Ini yang kamu cari?" Davin menunjukkan flashdisk hitam yang dipegangnya. Nadia terkejut dan memucat. Dia tidak mempermasalahkan kalau Davin membaca bagaimana penderitaannya selama ini, tapi ia tak rela Davin tahu betapa besar cinta Nadia padanya. "Berikan padaku," pinta Nadia mendekat. Davin menatapnya lama sambil menggenggam erat benda di tangannya. "Berikan. Benda itu nggak penting buatmu, tapi akan jadi pengingat bagiku. Bahwa aku pernah memiliki pengalaman pahit sekaligus berharga dalam hidupku. Biar aku nggak salah lagi melangkah." Mata Nadia berkaca-kaca. Mata Davin pun memerah. "Maafkan aku, Nadia." Nadia menarik napas panjang. "Aku sudah memaafkanmu. Kembalikan flashdisk-ku. Aku harus segera pergi dari sini." "Kita bicara dulu sebentar," cegah Davin. "Tentang apa? Semua sudah kita bahas di sidang. Tinggal menunggu hari saja kita benar-benar akan selesai. Sepertinya Selina sudah nggak sabar menunggu hari pernikahan kalian." Davin menelan saliva. Pria itu menunduk sejenak lalu kembali memandang istrinya. "Kita bisa batalkan perceraian ini." Nadia terkejut. Kemudian tersenyum getir. "Bagiku hubungan ini sudah selesai, Mas. Kita sudah sampai di titik akhir. Harusnya Mas lega, kan?" "Aku kehilanganmu dan Adam." "Empat tahun aku selalu memberimu kesempatan. Walaupun kamu nggak minta maaf, aku selalu memaafkanmu. Meskipun kamu berkhianat, aku masih menunggu siapa tahu kamu kembali. Namun saat kamu bilang memilih Selina, detik itu aku berhenti. Dan menyadarkan diriku sendiri, kalau aku dan Andam nggak berharga bagimu." "Kita bisa memulainya dari awal, Na." "Mas lupa dengan apa yang pernah Mas katakan padaku, bahwa kamu dan Selina sudah berbuat hina dan kalian akan menikah?" Davin menghela napas panjang. "Selina nggak mempermasalahkan kalau dia hanya menjadi yang kedua." Nadia terkejut. Kemudian tersenyum sinis. "Kamu mau poligami, Mas? Kamu yakin akan mampu? Secara finansial mungkin kamu bisa. Tapi adil tidak hanya melulu tentang materi. Sudahlah, jangan bikin jokes yang nggak lucu. "Kalau Selina siap jadi yang kedua, aku nggak siap jadi yang pertama. Karena aku mau jadi satu-satunya. Aku nggak mau berbagi suami. Tapi aku sudah nggak ingin kembali padamu. Sampai kapanpun." Nadia bicara begitu mantap. Ia mendekat dan menengadahkan tangannya. "Kembalikan flashdisk-ku." Davin bergeming. Nadia berusaha merebutnya. Hingga ia terjatuh dalam pelukan laki-laki itu. Davin mendekapnya erat. "Lepaskan!" hentak Nadia. Lelaki itu masih mengeratkan dekapannya. "Mas!" Dan suara panggilan di depan pintu yang membuat dekapan terlepas. Nadia segera membenahi jilbabnya. Di depan pintu kamar, berdiri Selina dengan baju mahalnya yang seksi. Gadis itu memang dari kalangan kelas atas. Sebenarnya setara dengan keluarga Davin. Wajahnya tampak memerah melihat lelaki yang dicintainya memeluk istrinya. "Kamu di sini?" tanya Selina pada Nadia. "Kami masih suami istri. Iya kan, Mas?" Nadia tersenyum mesra pada Davin sambil merapat. Kemudian merangkul lengan pria itu dengan manja. Dan secara cekatan merebut flashdisk dari tangannya. Berhasil. Benda itu sangat berharga bagi Nadia. Bukan hanya sebagai tempat mencurahkan isi hatinya, tapi bisa menjadi bukti di pengadilan agama nanti kalau sampai Davin berniat membatalkan perceraian mereka. Davin kaget saat Nadia berhasil mengambil benda itu dari tangannya. Nadia menghampiri Selina. "Sepertinya kamu sudah nggak sabar untuk menjadi Nyonya Davin Hendrawan. Tinggal beberapa hari lagi kami resmi bercerai. Kalau sudah menikah, jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia selingkuh atau diambil pelakor. Awas kalau kamu nggak bahagia, Sel. Sudah capek-capek nunggu dudanya, setelah bersama malah nggak bahagia. Jangan sampai seperti itu." Kemudian Nadia memandang suaminya. "Mas, aku pulang dulu. Kita bertemu di pengadilan agama beberapa hari lagi." Dengan langkah mantap, Nadia menuruni tangga untuk meninggalkan rumah itu. Meski hatinya sakit. Melihat kenyataan bahwa Selina sudah berani datang ke rumah suaminya, bahkan masuk kamar yang dulu pernah mereka tempati. Next ....Foto wisudanya Nadia menjadi pusat perhatian, karena di sana ada almarhum Pak Lukman. Pria luar biasa yang akhirnya menjadi suami sahabatnya hingga tutup usia.Ketika senja hampir tiba, Bu Terry pamitan. Bu Isti mengantarkan sampai mereka masuk ke taksi online yang dipesan Selina."Hati-hati," ucap Bu Isti."Iya. Makasih banyak, Is. Kapan-kapan kita bisa bersilaturahmi lagi," jawab Bu Terry sembari melambaikan tangan. "Ya." Bu Isti memandang taksi itu hingga berbelok di ujung depan sana. Kemudian menghela napas panjang memandang semburat jingga di langit senja. Persahabatan yang dulu terputus, kini membaik lagi setelah tiga dekade lebih. Kalau dia tidak memaafkan, hanya akan menjadi beban dalam dada. Yang berlalu biarkan berlalu. Toh, dia pernah menjadi istri dan ibu yang sangat bahagia bersama lelaki bernama Lukmanto. Yang meratukannya, menyayangi Nadia layaknya putri sendiri."Tadi itu Terry ya, Mbak?" tanya Bulek Sari yang menghampiri sang kakak di depan teras."Iya. Sama Selina.
Selina pun diam. Serasa permasalahannya tak habis-habis. Dia juga belum menikah. Bahkan punya pacar pun tidak. Usianya semakin bertambah. Sudah 35 tahun sekarang. Setiap ada yang mendekati, hanya lelaki iseng yang tak ada keseriusan dalam perbincangan mereka. Takut juga kalau gagal lagi.Taksi sampai juga di depan pagar rumah Bu Isti. Matahari siang itu cukup terik. Makanya suasana sepi dan rumah itu tertutup rapat. Apa Bu Isti tidak libur mengajar? "Sel, kelihatannya sepi. Apa Isti belum pulang mengajar?" tanya Bu Terry saat mereka berdiri di depan pintu pagar."Aku juga nggak tahu, Ma. Bentar, aku tekan belnya." Selina mengulurkan tangan untuk menekan bel di balik tembok pagar.Beberapa saat setelah bel berbunyi, pintu rumah terbuka. Muncul wanita mengenakan gamis rumahan warna army dan jilbab hitam.Begitu melihat siapa yang berdiri di luar pagar, Bu Isti mematung. Kaget juga melihat siapa yang datang. Padahal dia sudah tidak kepikiran kalau Bu Terry akan menemuinya."Isti," suara
NADIA- 78 Sahabat "Pa, Mama minta di antar ke rumah Bu Isti." Selina memberitahu Pak Haris di bengkel. Saat pulang kerja ia mampir ke sana. Hari Sabtu, Selina kerja setengah hari."Antarkan saja kalau Mama sendiri yang mau, Sel.""Rencananya sepulang dari sini kuantarkan, Pa."Pak Haris manggut-manggut. "Bagaimana kerjaanmu?""Ya, butuh adaptasi lagi di tempat baru, Pa. Tapi Alhamdulillah, aku mendapatkan kerjaan yang lebih baik daripada sebelumnya.""Hati-hati kalau kerja.""Ya. Kalau gitu aku pamit dulu, Pa. Nanti mau langsung nganterin Mama."Selina pulang mengendarai motornya. Sudah sebulan ini dia bekerja sebagai staf di sebuah instansi swasta. Setelah menjadi kasir supermarket selama dua tahun, lalu berhenti karena mengurusi mamanya yang sering jatuh sakit. Sekarang baru mendapatkan pekerjaan lagi atas bantuan dari Dira.Setelah jatuh bangun dan tak ada lagi ada pegangan finansial yang cukup, baru hatinya sadar tentang kesalahan demi kesalahannya di masa lalu. Untung masih ada
Beberapa kerabat yang membawa barang hantaran, mulai dari tas mewah hingga perhiasan, nampak menghela napas lega saat mereka akhirnya bisa meletakkan barang bawaan di tempat yang disediakan.Kebahagiaan pecah di halaman rumah Nastiti. Rasa lelah, gamis yang sedikit berdebu, dan napas yang ngos-ngosan seketika terbayar oleh pemandangan lembah hijau di bawah sana. Panorama indah yang sepadan dengan segala peluh yang keluar.Desa di lereng Kelud ini memang sunyi, tapi pagi itu menjadi saksi sebuah penyatuan dua keluarga yang datang dengan penuh perjuangan.Para rombongan duduk di kursi-kursi yang sudah dipersiapkan. Menunggu calon pengantin laki-laki dirias untuk akad nikah.Bu Terry sesekali melirik pada Bu Isti yang ngobrol dengan kerabat Pak Haris. Mereka tampak akrab. Bahkan beberapa saudara Bu Terry sendiri juga menyapa wanita itu. "Setelah resepsinya Arda di Surabaya. Anterin Mama ke rumah Bu Isti, Sel," bisiknya pada Selina. "Mama, serius?""Ya." Bu Terry mengangguk.Sementara D
Jalanan terlalu curam dan sempit untuk dilalui kendaraan roda empat hingga ke titik tujuan."Kita jalan kaki dari sini, Mas?” Nadia melongok ke luar jendela, memandang tanjakan di depan yang seolah tak berujung. Arda sudah pernah cerita kalau rumah calon istrinya berada di lereng Gunung Kelud. Bukan di lereng lagi kalau begini, di tengah atau di puncak, batin Nadia. Sewaktu Arda lamaran, Nadia tidak ikut. Yang pergi waktu itu hanya Pak Haris dan beberapa orang kerabat. Karena Bu Terry juga sedang sakit.Dewa tersenyum sambil mematikan mesin. "Udara Kelud segar, Sayang. Ayo, kita turun."Yang semobil dengan Dewa, ada Nadia, tiga anak mereka beserta baby sitter dan Mbak Harti. Juga Bu Isti bersama Bulek Sari. Bu Hana memilih menghadiri acara di Surabaya saja seminggu lagi. Turun dari mobil, rombongan pengiring pengantin dari Surabaya itu segera disambut hawa sejuk yang menusuk pori-pori. Namun kesejukan itu tak mampu menutupi kecemasan para wanita yang sudah berdandan paripurna sejak
NADIA- 77 I Love YouTernyata Emir, Naima, dan keluarganya yang datang. Mereka sengaja memberikan kejutan tanpa mengabari lebih dulu. Dewa dan Emir sudah tiga tahun ini menjadi partner bisnis. Jadi mereka memang sering bertemu. Tapi tanpa mengajak keluarga, karena urusan pekerjaan. Terakhir mereka bertemu lengkap ketika Dewa mengajak Nadia ke Tulungagung sewaktu sang istri masih hamil Cantika.Suasana ruang keluarga begitu riuh dengan anak-anak. Zahra dan Aurel sekarang sudah remaja, usia 15 tahun. Cantika menempel terus pada dua remaja itu. Dia suka memiliki kakak perempuan yang sayang dan memperhatikan. Mengajaknya bermain dengan telaten. Kalau dengan dua kakak lelakinya, Cantika yang mengekori mereka. Ngalor ngidul. Di sofa utama ruang tamu, Dewa dan Emir duduk berhadapan dengan kopi yang mengepul. Tiga tahun menjadi mitra bisnis telah melunturkan sekat formalitas di antara mereka."Bulan depan kita bertemu di Blitar, Mas Emir," ujar Dewa."Share loc alamatnya nanti, Mas. Saya su







