Masuk
"Apa tidak bisa lebih lama lagi, Kangmas? Masa cuma sebentar," protes Wening, istri Jayendra. Wanita berparas ayu yang hanya berbalut kain jarik sebatas dada itu merengek, enggan ditinggal secepat itu oleh sang suami. "Aku loh, belum puas."
Di dekat sana, Banyu—kusir Jayendra sempat menoleh ke arah majikannya yang tengah berdiri di ambang pintu gapura. Namun, manik hitamnya tak sengaja menangkap gundukan indah yang menyembul di balik kain jarik istri majikannya. Ia tahu diri, jika terus menatap aset sang majikan sama saja dengan mengundang golok melingkar di lehernya. "Waduh, Ndoro Ayu ini sengaja atau lupa sih? Kok keluar cuma pakai kain. Mana kelihatan lagi. Ini sih namanya menggoda iman duda yang hampir berkarat ini," batin Banyu. "Tidak dilihat sayang, dilihat nyawa bisa melayang," gumam Banyu seraya mengelus leher kuda yang menarik kereta milik Juragan Jayendra. "Besok malam bisa kita lanjut lagi. Siang ini Kangmas harus ke Kadipaten karena ada barang dagangan baru yang masuk. Kangmas harus mengeceknya sendiri. Mungkin baru kembali besok sore." Wening berdecak. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Terus saja pergi meninggalkannya dengan dalih pekerjaan. Setelah perjalanan jauh besok, belum tentu kondisi tubuh pria itu masih bugar. Yang ada, sang suami pasti langsung bertolak tidur tanpa ingat ada istri yang tengah merana menunggu. Jayendra mencengkeram lembut dagu istrinya yang tengah merajuk. "Mintalah Banyu untuk mengantarmu ke pasar. Belilah apa saja yang kamu suka." Mendengar namyanya disebut, Banyu menoleh sesaat, ia sempatkan menatap wajah ayu sang majikan yang terlihat lesu tak bergairah. Iris mata Wening seketika bergeser pada pria yang berdiri tak jauh dari kereta kuda. Kusir baru, bertubuh tinggi tegap itu tampak berdiri membelakangi mereka. "Tapi—" "Sudahlah, Sayang. Kangmas pergi untuk bekerja. Semua ini Kangmas lakukan untukmu, demi memenuhi semua keinginanmu." Jayendra mengulurkan tangannya ke arah pelayan yang berdiri sigap di belakang mereka, meminta selembar kain untuk menutupi bahu mulus Wening yang terekspos. "Tunggu Kangmas besok malam. Jadilah istri yang penurut," pesan Jayendra lembut namun tegas. Jayendra kemudian berbalik dan berseru, "Banyu! Antar aku ke rumah Juragan Broto. Setelah itu, baru kamu antar Ndoro Ayu ke pasar!" "Baik, Ndoro Juragan," jawab Banyu patuh meskipun sedikit tersentak kaget. Banyu kembali ke kediaman Jayendra setelah menjalankan tugas dari sang majikan. Kini ia siap untuk tugas keduanya. Ia berdiri di depan pendopo utama, menanti istri Juragan Jayendra yang katanya akan pergi ke pasar. Beberapa menit menunggu, Wening keluar dengan kebaya kutu baru berwarna hijau zamrud yang dipadukan dengan kain jarik sidomukti kualitas premium. Rambut yang disanggul sederhana menambah kesan elegan. Anting serta kalung emas pun tak luput dari tubuh wanita muda itu. Banyu terpesona, melihat Wening dengan penampilan terbaiknya. Maklum saja, pria dari desa sepertinya tidak pernah melihat wanita seanggun dan secantik Ndoro Ayu Wening. Bukan tidak ada gadis yang menarik di desanya, melainkan tidak ada yang bisa menandingi karisma dari istri majikannya tersebut. Postur tubuh Wening tampak proporsional, tanpa ada satu pun yang terlihat berlebihan. Kebaya yang membalut tubuhnya dengan pas semakin menegaskan pesona anggun yang dimilikinya. Pemandangan itu membuat Banyu sejenak terpaku, sulit mengalihkan pandangannya. "Kenapa kamu itu? Ilermu loh itu netes," goda Wening saat melihat Banyu yang terpaku menatapnya. Ia menyembunyikan tawa itu dibalik telapak tangannya. Wajah Banyu memerah, merasa malu karena kepergok tengah menatap istri majikannya. Banyu menunduk, "Ma-maaf, Ndoro Ayu. Bukan bermaksud lancang. Ta-tapi—" "Sudah. Ayo berangkat. Aku nggak mau kesorean," ajak Wening pada Banyu. "Aku mau ke Juragan Sandang, mau beli beberapa kain," imbuhnya seraya berjalan menuju gapura. Sepanjang perjalanan, pikiran Banyu hanya di penuhi dengan Wening yang tersenyum menggoda ke arahnya. "Juragan beruntung punya istri cantik dan menggoda. Tapi sayang, sering dianggurin dengan ditinggal pergi ke kota sebelah. Coba kalau itu istriku, mana betah aku tinggal lama-lama." Banyu membatin. Banyu yang baru bekerja dua hari jadi kusir di kediaman Juragan Jayendra saja sudah tergoda dengan kecantikan Ndoro Ayu Wening. Yang hanya bertemu sekali dua kali, apalagi Juragan Jayendra yang bisa menyentuh bahkan menciumnya. "Banyu, bawa kain-kain ini ke pendopo samping, ya. Jangan lupa tata yang rapi," perintah Wening. Ia membungkuk, menunjuk barang-barang apa saja yang harus dipindahkan oleh Banyu sesuai perintah. Alih-alih fokus mendengarkan perintah majikan, fokus Banyu justru berada di tempat lain. Manik hitamnya tak lepas dari salah satu bagian tubuh Wening. Banyu kembali melihat sesuatu yang sedari tadi siang terus berputar di otaknya."Aku yang memutuskan ingin bercinta dengan siapa malam ini. Kamu sebagai istriku harus patuh dan diao melayaniku." Wening terus memberontak, tenaganya kalau besar dari tenaga Jayendra yang lebih kuat. Ia menghindar, saat Jayendra hendak mendaratkan sebuah ciuman di bibir Wening. "Wening, biasanya kamu akan merengek dan memohon padaku untuk bercinta denganku. Mana Wening yang dulu selalu ingin bermanja-manja? Hah?!" Jayendra berteriak. "Wening yang bodoh itu sudah pergi bersama dengan pengkhianatanmu, Kangmas. Saya sudah tidak ingin mengemis kehangatan darimu. Saya sudah tidak butuh!" Plak!! Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Wening. Membaut suasana menjadi hening. Teriakan Wening yang minta dilepaskan kini lenyap seketika. Wening tak meringis sedikit pun, meski sudut bibirnya terasa kebas. Kepalanya terlempar ke samping akibat benturan tangan Jayendra, tetapi tatapan matanya saat kembali menatap sang suami justru semakin dingin dan menusuk. Jayendra terengah-engah di
Pintu gudang terbuka, menampakan dua orang pria tengah duduk ditemani lampu minyak di atas meja. Kedua pria itu menoleh bersamaan ke arah pintu masuk dengan kening yang mengerut "Sepertinya Tuan-tuan ini membutuhkan hiburan." Dengan langkah pelan, Marni masuk ke gudang. Tidak lupa ia menurunkan selendangnya, menampakan bahunya dan separuh dadanya yang putih mulus. Kedua pria itu saling berpandangan. Mereka tahu jika Marni adalah pelayan kediaman yang siang ini mengajak mereka bicara. "Apa maksudmu, Nduk?" tanya Karman kebingungan. Dengan ia diusir dari kediaman utama saja sudah menjadi pukulan telak baginya, sekarang ia dihadapkan dengan gadis muda yang dengan berani datang ke gudang yang berisi pria dewasa. Marni duduk di bangku kayu di samping Karman. Ia mengulurkan tangannya ke paha Karman dan mengusapnya pelan. "Menghibur Kakang supaya tidak sedih," jawabnya dengan nada menggoda. Karman kembali melempar pandangannya pada pria di depannya. Refleks mengerlingkan matanya. "
Jayendra mencengkeram tangan Wening dengan sangat kuat. Matanya terbelalak berkilat penuh amarah. "A-apa kamu bilang?" Wening meronta, mencoba menarik cengkeraman tangan Jayendra dari lengannya. "Sakit, lepaskan!" Refleks, Jayendra melepaskan cengkeramannya. Sorot matanya meredup. "Kamu bilang apa? Siapa yang berani menyentuhmu? Katakan Wening!" Sembari mengusap tangannya yang terasa sedikit nyeri, Wening menyebutkan pria yang telah berani menyentuhnya tanpa izin. "Pria berkumis yang punya tompel di pipinya," jawab Wening dengan suara rendah. Jayendra meradang. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ia berteriak memanggil nama Karman. Banyu dan Mbok Suti melihat dari kejauhan. Mereka saling melempar pandang setelah melihat Jayendra terpancing oleh kalimat istrinya. "Ini yang kamu maksud, Banyu?" bisik Mbok Suti. Banyu mengangguk sembari tersenyum. Tatapannya tetap tertuju pada pendopo, tempat dimana Wening dan Jayendra berada. Seringai penuh kepuasan muncul di sudut bib
"Banyu!" Suara Mbok Suti yang rendah membuat pria itu menoleh. Meletakan sapu lidi yang ada di tangannya, kemudian mendekat pada wanita paruh baya itu. "Nggih, Mbok. Ada apa?" jawabnya. Banyu menangkap kilatan amarah di mata Mbok Suti. Membuatnya menaikan satu alisnya, penasaran dengan apa yang membuat wanita lemah lembut itu Simbok ingin mengusir mereka, Banyu! Baru sehari saja mereka sudah berulah. Apalagi kalau dibiarkan selama berhari-hari!" Rahang wanita tua itu mengeras dengan dada yang kembang-kempis menahan emosi. Tatapannya setajam pisau, seolah siap menghunus siapa saja yang berani memancing amarahnya. Perlakuan kasar dan kelakuan sewenang-wenang orang-orang suruhan Jayendra di area belakang benar-benar sudah melampaui batas kesabarannya. "Sepertinya yang tidak merasa terganggu hanya Marni. Gadis itu terus saja meladeni pria-pria itu sejak tadi," keluhnya lagi. "Sabar, Mbok," desis Banyu dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Bukan Simbok saja yang merasa kesal.
"Ada masalah di sini?" tanya pria berkumis tebal itu dengan suara berat. Namanya Sarjo, orang kepercayaan Jayendra yang terkenal paling teliti sekaligus tak segan menggunakan kekerasan. "Tidak ada," jawab Wening dingin, melipat kedua tangannya di depan dada dengan keangkuhan seorang nyonya rumah. "Apa saya harus melaporkan setiap kegiatanku padamu?" "Bukan begitu, Ndoro Ayu," sahut Sarjo dengan nada bicara yang menyiratkan rasa tidak percaya. "Juragan hanya berpesan agar saya memastikan Ndoro Ayu tetap aman di dalam rumah dan tidak diganggu oleh siapa pun." Wening berdecak kesal. Sangat muak dengan pria-pria asing yang tiba-tiba berkeliaran di dalam area kediaman. "Apa kamu melihatku di ganggu? Saya hanya ingin pergi ke pasar tapi kalian menahanku!" "Maaf, Ndoro Ayu. Kami hanya menjalankan perintah Juragan—" "Saya tidak peduli!" potong Wening geram. Tanpa mengatakan apapun lagi, Wening beranjak meninggalkan pria berkumis yang menyebalkan itu. Sepeninggal Wening, Sarjo tidak lang
Mbok Suti menggeleng cepat. Matanya berkaca-kaca menahan cairan bening yang hampir menerobos pertahanannya. "Tidak, Banyu. Simbok tidak lupa dan tidak akan pernah lupa. Simbok juga tidak akan pernah memaafkan apa yang mereka lakukan pada Gendhuk." Tangis itu akhirnya pecah. Mbok Suti tidak sanggup menahan gejolak dendam yang sudah mengakar di dalam hatinya. Kebencian yang selama ini ia tahan kini meledak sejadi-jadinya. Seorang ibu yang kehilangan putrinya dengan cara tidak adil—ditambah putrinya mati secara terhina—membuat Mbok Suti meradang. Wanita paruh baya yang biasanya bersikap lembut itu kini meluapkan amarahnya pada Banyu. Banyu merengkuh wanita paruh baya itu ke dalam dekapannya, mencoba menenangkannya dari gejolak perasaan yang sangat menguras emosi. "Sebentar lagi, Mbok. Bersabarlah sedikit lagi. Saya akan membalas apa yang mereka lakukan pada Arum dengan lebih keji. Saya janji." Mbok Suti mengurai pelukan Banyu, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan menuntut. "P







