แชร์

Nyaris...

ผู้เขียน: Wisha Berliani
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-17 23:58:16

Jantung Celine berdetak kencang. Untuk sesaat, kepalanya terasa kosong. Namun, ia segera menarik napas dalam, menoleh, lalu memaksa wajahnya tetap tenang.

“Oh—Pak Arta.” Celine tersenyum kecil, tetap profesional. “Tuan Aldean minta bertemu, Pak. Katanya ada desain yang perlu dibicarakan langsung dengan beliau.”

Kepala divisi itu mengernyit. “Desain?” Ia tampak berpikir sejenak. “Biasanya kalau ada apa-apa, Tuan Aldean selalu lewat saya dulu.”

Deg. Deg.

Degup jantung Celine makin cepat. Telapak
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 238

    Gavin menutup pintu kamar rawat dengan perlahan. Begitu berbalik, langkahnya langsung terhenti.Di ruang tunggu yang sepi itu, Aldean sedang duduk bersedekap dada. Tatapan tajam pria matang itu langsung mengunci Gavin. Jantung Gavin seolah turun ke perut. Aura Aldean benar-benar tidak main-main saat ini.Koridor rumah sakit yang seharusnya tenang mendadak terasa seperti ruang interogasi. Gavin menelan ludah, lalu melangkah mendekat.“S-selamat sore menjelang malam, Om,” sapa Gavin, suaranya bergetar tipis.Aldean tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit perlahan dari kursinya. Tingginya yang jauh di atas rata-rata membuat Gavin refleks menegakkan punggung.“Kamu tahu kenapa saya minta bicara berdua, Gavin?” suara Aldean rendah dan datar, namun cukup untuk membuat tengkuk Gavin menegang.“B-belum tahu, Om.”Aldean menatap Gavin beberapa saat.“Karena kamu sudah membuat kesalahan yang fatal.”Gavin langsung menunduk. Ia sudah menduga pembicaraan ini akan mengarah ke mana.“Maksu

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 237

    Beberapa saat kemudian, Aldean dan Celine kembali melangkah menyusuri koridor lantai perawatan setelah menyelesaikan makan sore di kantin bawah. Sementara itu, di ruang rawat, Kayra masih ditemani oleh Gavin.​“V-Vin... kamu tahu?” bisik Kayra setengah terbata, melirik pintu kamar rawat dengan waswas. ​“Sebenernya Papa sama Celine tuh... udah nikah.”Uhuk!​Gavin tersedak ludahnya sendiri sampai matanya nyaris melompat keluar dari kelopak. Pemuda itu membeku di kursinya, menatap Kayra dengan raut wajah yang luar biasa syok.“K-kamu bercanda, kan, Kay? Celine?! Temen kita... sekarang jadi Ibu sambung kamu?!”“Sssttt! Pelanin suara kamu, Gavin Alistair!” sergah Kayra panik, tangan kirinya bergerak cepat mencubit lengan Gavin. “Ini rahasia besar! Jangan sampai bocor ke anak-anak kampus, awas aja kalau kamu keceplosan. Aku kasih tahu kamu sekarang biar kamu nggak salah bersikap.”​Gavin menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa pusing tujuh keliling. Jiwa humorisnya seketika meron

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 236

    Gavin seketika membeku. Sepasang matanya melebar, terkejut mendengar ucapan Kayra barusan. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Melihat kekasihnya histeris dengan tubuh yang gemetar hebat karena didera rasa bersalah, Gavin segera merengkuh Kayra dalam pelukan hangatnya, berusaha menenangkan.​“Ssst... dengerin aku, Kay,” bisik Gavin tegas namun teramat lembut tepat di telinga gadis itu. “Tuhan tuh nggak se-pendendam itu. Dan kamu juga lihat sendiri, kan? Celine bahkan senyum tulus banget ke kamu tadi. Dia pasti udah maafin kamu sepenuhnya, kan? Kalau dia aja udah buka lembaran baru, kenapa kamu masih sibuk ngehukum diri sendiri?”​Gavin mengurai pelukannya perlahan. Kedua tangannya bergerak lembut menangkup wajah pucat Kayra, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang memancarkan keyakinan mutlak, membuat isak histeris Kayra terhenti.“Dan satu hal yang harus kamu tahu, Kay. Aku bakal selalu ada di sini buat nemenin kamu. Aku yakin, tanganmu past

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   235

    Begitu pintu kamar rawat tertutup rapat, keheningan yang tersisa di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih ringan. Gavin masih berdiri mematung di posisi terakhirnya, menatap daun pintu dengan pandangan kosong.​Perintah terakhir Aldean barusan benar-benar tidak bisa dibantah.​“Gavin...” Panggilan lirih itu akhirnya memecah lamunan pemuda itu.Ia mengerjap, lalu perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap brankar. Di sana, Kayra sedang menatapnya dengan binar mata yang campur aduk—antara cemas, bersalah, tapi juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.​Gavin mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa aura mengintimidasi Aldean yang seolah masih menggantung di udara. Ia melangkah lebih dekat, lalu duduk di kursi kosong yang berada tepat di sisi ranjang Kayra.​“Papa kamu... auranya bener-bener nggak main-main, Kay,” cicit Gavin jujur, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku berasa lagi diuji mental buat masuk perusahaan multinasional.”​Kayra tidak bisa men

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 234

    ​“Papa, ih! Jangan dilihatin kayak gitu, Gavin-nya takut!” protes Kayra dari arah brankar. Wajahnya semakin merona merah karena menanggung malu melihat kelakuan posesif papanya.​Celine yang berdiri di sisi lain hanya bisa menutupi mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa mati-matian agar tidak menyembur.​Aldean tak menggubris ucapan Kayra. Langkah pria itu kini sudah berhenti tepat satu langkah di depan Gavin. Perbedaan tinggi badan dan proporsi tubuh membuat Gavin yang sebenarnya sudah cukup tinggi, tetap saja terlihat kecil di bawah dominasi mutlak seorang Aldean Devantara.“Ngapain kamu di sini?” tanya Aldean dengan nada datar.“J-jenguk Kayra, Om. Saya dengar dia kecelakaan, jadi saya langsung ke sini,” jawab Gavin terbata.Mata Aldean melirik ke buket bunga yang dipegang Gavin.“Bawa apa kamu?” Aldean bertanya lagi, masih dengan nada datarnya.“Ini... anu, Om. Bunga lili putih untuk Kayra,” jawab Gavin, berusaha menstabilkan suaranya meski tangannya yang memegang buket suda

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 233

    Dalam hitungan detik, kehangatan yang baru saja tercipta di ruangan itu mendadak menguap, berganti dengan keheningan yang mencekam. Klek. Knop pintu itu bergerak turun dengan cepat, lalu daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan seorang pemuda dengan napasnya masih terengah-engah di ambang pintu. Di tangan kanan pemuda itu tergenggam seikat buket bunga lili putih yang tampak sedikit miring—pertanda ia membawa bunga itu sambil berlari tergesa sepanjang koridor rumah sakit. Wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kecemasan yang teramat pekat. ​Gavin. Pemuda itu akhirnya sampai setelah jantungnya nyaris copot mendengar kabar kecelakaan kekasihnya. ​Begitu matanya menangkap sosok Kayra yang duduk bersandar di atas brankar, Gavin menghela napas panjang, lega melihat sang kekasih selamat dari maut. Namun, saat menyadari tatapan tajam Aldean yang mengintimidasi, Gavin buru-buru membungkukkan badan dengan sopan. “S-selamat sore, Om... Celine,” sapa Gavin agak gugup, suaranya sedikit berg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status