登入"Kita tetap bisa akur bahkan dari jauh, Bagastya," ujar Ridhika dengan suara rendah. Masih mencoba menekan rasa kesalnya.Namun, alih-alih menangkap maksudnya bahwa dia tidak nyaman pria itu berdiam terlalu dekat, Bagastya malah tertawa kecil. Seolah menganggap apa yang dikatakannya barusan itu adalah sebuah lelucon."Bagaimana bisa menunjukkan keakuran kalau kita berjauhan, hah?" Bagastya menarik sandaran kursi dari tangan Ridhika. Langsung duduk tanpa peduli apa-apa lagi. "Bodoh," gumamnya sambil masih terkekeh.Ridhika terbelalak. Tidak habis pikir. Bisa-bisanya pria itu mengatainya bodoh! "Ridhika, sudahlah." Amayra melerai dengan suara takut-takut. "Orang-orang sudah mulai memperhatikan. Nanti malah ribut lagi.""Tapi, kan kita mau duduk berdua di sini." Ridhika mengusap wajahnya frustasi."Kalian masih bisa duduk berdua. Si culun duduk di sini." Bagastya menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Dan kau, duduk di sini," sambungnya sambil menepuk paha dengan ekspresi jahil."Diam ka
"Apa-apaan ini?! Tadi video tidak jelas asalnya dan sekarang protagonis dipasangkan dengan antagonis!" Teriak salah seorang Guru dengan nada geram. "Bagaimana sih sistem keamanan yang diterapkan panitia acara?!"Seperti halnya tadi pagi acara dimulai dengan kehebohan, sekarang sepertinya juga akan ditutup dengan cara demikian. Namun, kali ini lebih berisik dan lebih penuh penghakiman.Para panitia yang mengatur jalannya acara dari balik panggung teater satu-persatu berhamburan keluar. Mencoba menenangkan semua orang, sekaligus menjelaskan bahwa mereka tidak tahu-menahu mengapa Yukma Nirnayakagnih bisa memasangkan dua orang dari "kasta" yang berbeda.Di sisi lain, Ridhika yang sekali lagi menjadi pusat perhatian untuk alasan yang tidak biasa justru sedang tenggelam di dunianya sendiri. Seolah dipaku di tempat, dia hanya bisa menatap ke arah si pria luka melintang yang tengah berjalan ke arahnya.Bagastya Dewa.Nama itu terus terngiang seperti mantra yang terasa cukup kuat untuk bisa me
"Baik, Bu," jawab Adishra, agak gelagapan. Namun, berusaha ditutupinya dengan segera tersenyum.Sayangnya, reaksi tersebut sudah terlanjur ditangkap oleh mata Ridhika. Jika dia adalah tipe orang seperti gadis itu sendiri, dia bisa membayangkan dirinya memanfaatkan hal ini untuk lebih menekan si gadis congkak. Akan tetapi, dia bukan. Jadi, yang dilakukannya hanya secara perlahan menghentikan tangis pura-pura."Sudah. Silakan lanjutkan acaranya," instruksi singkat Ibu asrama. Tanpa menunggu, dia langsung turun dari panggung dengan postur tubuh tegap, menunjukkan kepercayaan diri.Melihat hal tersebut, Ridhika juga ikut turun dari panggung. Sesekali dia melirik Ibu asrama yang masih berjalan menuju box seats khusus. Dia berpikir, wanita setengah baya itu tidak terlihat seperti seseorang yang bisa bersikap kejam. Setidaknya, mungkin tdak secara terang-terangan. Nanti, dia harus menanyakan hal ini pada Widuri.Sesampainya di kursinya sendiri, Ridhika sekali lagi menepuk-nepuk rok dan merap
"Loh? Apa ini?!"Ridhika menyaksikan Adishra yang kalang kabut berlari menuju belakang panggung dengan tatapan dingin. Jika dia tidak tahu, maka dia akan dengan mudah percaya bahwa gadis itu sedang panik, mencoba menghentikan video yang tidak semestinya diputar itu. Namun, menilik bagaimana microphone Adishra masih menyala, membiarkan semua orang mendengar setiap keluhan dan teguran si gadis pada panitia lain, Ridhika yakin betul, Adishra adalah dalang di balik peristiwa tersebut."Aduh, Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan tadi," ujar Adishra begitu kembali ke depan. Postur tubuhnya membungkuk sedikit untuk menunjukkan permohonan maaf, tetapi Ridhika bisa melihat kilat licik di balik ekspresinya.Para siswa, siswi dan pengawas mulai saling berbisik. Barangkali, membicarakan video tadi. Di titik ini, Ridhika tahu, dia harus bersiap. Sebab, masalah yang sebenarnya pasti baru akan dimulai.Dengan sikap tenang, dia menepuk rok serta merapikan rambutnya sedikit. Lantas, kembali
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cukup nyaring, beberapa siswa dan siswi kini tengah menatap ke arah mereka. Ridhika tahu. Perasaan pening yang familiar menyerang kepalanya hanya sedetik setelah orang pertama melayangkan pandangan menilai ke arahnya. "Ridhi, kenapa?" "Hm?" Ridhika mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menatap balik Widuri yang kini menampakkan ekspresi khawatir. "Tidak apa. Aku harus segera ke aula. Orientasinya dimulai jam 08.00.""Baiklah, kalau begitu."Ridhika membiarkan Widuri menggandeng lengannya. Menjauh dari kerumunan orang. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sedari tadi. Pegangannya pada tali tas bertambah erat. Dia harus mengingatkan diri bah
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela masih agak gelap. Namun, ketika dia memaksakan diri untuk melepas diri dari kasur, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Widuri yang sudah berseragam rapi. Sontak saja dia merasa kagum. Pasalnya, teman sekamarnya itu terlihat disiplin sekali. Padahal, semalam mereka tidur larut."Sudah bangun?" Widuri menatap Ridhika melalui kaca meja rias. "Cepat siap-siap, ya. Aku akan mengajarimu berdandan nanti."Sebelah alis Ridhika terangkat, "Berdandan? Kita kan harus ke sekolah.""Memang.""Kukira, siswi tidak boleh berdandan kalau ke sekolah."Widuri tertawa kecil, "Itu kalau di sekolah biasa, Ridhika." Dia membalikkan tubuh, menatap Ridhika yang masih duduk di atas tempat tidur dengan rambut beran
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk