Partager

Chapter 19 =Kecurigaan=

Auteur: daydreammm_ms
last update Date de publication: 2026-06-30 22:43:14

Ridhika membiarkan Widuri mengoleskan salep yang dikirimkan oleh Nenek Dokter kepada mereka segera setelah sisa bubur yang diperiksa positif mengandung Tvakvisa.

Kini, seluruh tubuhnya terasa lengket karena bahan salep tersebut. Namun, setidaknya sensasi panasnya sudah berkurang banyak.

Si Nenek juga mengirimkan ramuan untuk meringankan perih di tenggorokannya. Jadi, sekarang dia sudah bisa bicara, meski dengan suara pelan.

"Ini adalah alasan mengapa kita harus sukses di dunia cerita nanti, Rid
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 25 =Meminta Bantuan=

    Ridhika celingukan mencari sosok Bagastya di sekitar bangunan asrama biasa. Dia harap, pria itu ada di sana. Sebab, tidak mungkin baginya untuk mencari di wilayah Kelas Antagonis. Widuri bisa stres kalau sampai mengetahui dia nekad pergi ke sana dalam keadaan wajah seperti ini. Sekarang saja, dia sudah bisa membayangkan gadis itu mengomelinya tentang reputasi dan semacamnya jika hal itu benar terjadi."Eh, Nona Protagonis, kan?" Tukang masak yang kemarin Ridhika temui di dapur kafetaria datang menghampirinya sambil tersenyum ramah. "Cari Bagastya, ya?""Iya." Ridhika balas tersenyum, merasa agak canggung ada orang yang memanggilnya sebagai Nona Protagonis selain Bagastya. "Dia ada di sini?""Ada! Sedang panen sayuran di belakang bersama anak-anak lain. Ini Saya mau ke sana." Si Tukang Masak mengangkat keranjang-keranjang anyam yang dibawanya agar dilihat oleh Ridhika. "Ikut angkat sayur untuk disimpan. Nona mau ikut?""Boleh!" Seru Ridhika bersemangat. Tanpa sungkan dia mengambil beb

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 24 =Solusi Lainnya=

    Pagi itu, suasana di dalam kamar Ridhika dan Widuri agak sedikit berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena tadi malam mereka baru saja setuju untuk saling bantu menyelidiki Adishra, tetapi karena keberadaan Amayra yang menjadi pengingat bahwa masih ada masalah lain. Keluarga Darling.Ridhika sudah tahu dia akan terlibat kehebohan lagi ketika memutuskan untuk menolong Amayra. Dia tidak menyesal melakukannya. Hanya saja, dia baru sadar bahwa ternyata dia secara tidak langsung sudah menarik terlalu banyak perhatian."Aku lebih baik pulang saja," ujar Amayra. Tangannya memelintir lengan seragam dengan kuat, gelisah. "Aku yang bodoh! Bagaimana aku berpikir bisa lepas dari mereka?! Aku kan masuk Akademi ini untuk menyambung peran protagonis wanita Peter Pan.""Amayra." Ridhika berlutut di depan gadis itu dan menggengam tangannya erat. "Sudah kubilang, kalau kamu tidak mau pulang, jangan pulang.""Ridhika benar," timpal Widuri. "Kamu akan menghabiskan hidup menjadi pengganti orang lain sete

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 23 =Selangkah Lebih Dekat=

    "Baiklah! Ayo kita minta salepnya sekarang!" Ajak Ridhika sambil beranjak dari atas tempat tidur.Melihat Ridhika yang tiba-tiba bersikap antusias, Widuri tidak bisa menahan diri dari menatap gadis itu turun naik, menyelidik, "Bukannya tadi kamu terlihat terpaksa sekali, ya?""Lalu?" Ridhika balas menatap. Dia mengedikkan bahunya dengan santai, seolah perubahan reaksi yang ditunjukkannya itu adalah hal yang biasa. "Kamu sendiri yang bilang, kalau tidak segera ditangani, maka lukanya akan membekas. Walau bagaimana pun juga, aku tidak ingin itu terjadi."Ridhika tertawa kecil ketika menyaksikan bagaimana kini Widuri sedang menyipitkan mata ke arahnya, masih curiga. Sedang di sisi lain, Amayra hanya memandangi mereka dengan raut polos. "Ayo! Kalau tidak cepat, Adishra mungkin keburu tidur," ujarnya sambil menarik tangan Widuri agar ikut beranjak. "Amayra tunggu di sini saja, ya."Setelah melihat Amayra mengangguk patuh, Ridhika langsung menggandeng lengan Widuri untuk pergi ke kamar Adi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 22 =Petunjuk Demi Petunjuk=

    Ridhika menyentuh bagian keningnya yang terasa nyeri. Mendapati ada darah yang menempel di ujung jarinya, seketika membuatnya teringat pada peristiwa bertahun-tahun lalu, ketika dia dipukul bata oleh para anak nakal.Dadanya terasa terbakar. Marah bercampur sakit hati. Sebagian besar mungkin dipicu oleh kenangan tersebut. Yang jelas, dia bangkit dari posisi jatuhnya dengan ekspresi datar, lalu menatap si pria sengit. Dia mungkin tidak punya kekuatan fisik yang setara untuk melawan langsung. Namun, dia lebih dari mampu untuk membuat ancaman."Ridhika! Keningmu terluka." Amayra yang sempat membeku kini bergegas datang ke sisi Ridhika. "Astaga, bagaimana ini? Kamu cepat pulang saja! Aku juga akan pulang."Ridhika menoleh ke arah Amayra yang kini wajahnya basah oleh air mata. Dia menyadari tangan gadis itu yang gemetaran, barangkali tidak menyangka bahwa pengawalnya nekad berbuat kasar. Namun, Ridhika hanya menggeleng singkat, menolak untuk pergi.Sebaliknya, dia justru menarik Amayra me

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 21 =Pertemuan Tidak Terduga=

    "Jadi, kenapa kau ada di sini?" Tanya Ridhika sekali lagi.Dia duduk di atas kursi yang diambilkan Bagastya dari kafetaria, mengamati bagaimana pria itu memotong-motong sayuran dengan cekatan. Nah, sebenarnya dia mau saja membantu. Namun, masalahnya dia tidak pandai menggunakan pisau. Di rumah, Ibu biasa menjauhkan semua benda tajam dari jangkauannya."Karena tidak ada kegiatan," jawab Bagastya santai.Ridhika mengernyit, "Maksudnya? Kau tidak ada kelas?""Ada. Tapi, aku tidak harus ikut semua. Itulah esensi antagonis, untuk melanggar aturan."Jawaban Bagastya yang diucapkannya dengan penuh percaya diri tersebut membuat Ridhika gagal menahan senyum. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di benaknya. Sesuatu yang cukup menarik untuk ditanyakan, mumpung mereka berdua sedang akur."Aku lihat ada kembang api dinyalakan dari sini beberapa malam yang lalu. Kau salah satu yang terlibat, ya?""Bukan cuma terlibat." Bagastya menoleh kr arah Ridhika dengan ekspresi bangga. "Aku Ketuanya."Ridhi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 20 =Kafetaria Umum=

    "Hai, Nona Protagonis," sapa Bagastya sambil berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang ternoda debu setelah jatuh. "Bisa berdiri sendiri, kan?"Ridhika memutar bola matanya, jengah dengan lagak Bagastya yang tengil itu. Dia ikut berdiri, lalu seperti halnya apa yang pria itu lakukan, menepuk pakaiannya dari debu. "Jadi, benar ya kalau kau alergi?"Sontak Ridhika memegang wajahnya begitu mendengar kalimat Bagastya tersebut. Ketika menyadari bahwa syalnya sudah tidak berada di tempat yang benar, dia buru-buru merapikan kain tebal itu agar kembali menutupi setengah wajahnya."Kau menutupi wajah karena takut menakuti orang atau takut dianggap jelek?" Lanjut Bagastya dengan sebelah alis terangkat.Kini, Ridhika mendelik menatap pria itu. Apa-apaan sih pertanyaannya?! "Apa? Itu dua hal yang berbeda, kau tahu?" Bagastya membalas delikan yang diterimanya dengan polos.Ridhika menghela napas kasar, "Sedang apa kau di sini?" Tanyanya balik, sepenuhnya tidak mengindahkan semua perkataan Bagastya

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status