مشاركة

Chapter 23 =Selangkah Lebih Dekat=

مؤلف: daydreammm_ms
last update تاريخ النشر: 2026-07-04 22:37:48

"Baiklah! Ayo kita minta salepnya sekarang!" Ajak Ridhika sambil beranjak dari atas tempat tidur.

Melihat Ridhika yang tiba-tiba bersikap antusias, Widuri tidak bisa menahan diri dari menatap gadis itu turun naik, menyelidik, "Bukannya tadi kamu terlihat terpaksa sekali, ya?"

"Lalu?" Ridhika balas menatap. Dia mengedikkan bahunya dengan santai, seolah perubahan reaksi yang ditunjukkannya itu adalah hal yang biasa. "Kamu sendiri yang bilang, kalau tidak segera ditangani, maka lukanya akan membek
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 47 =Hari Kunjungan ke Luar=

    "Ingat itu baik-baik di lain waktu ketika Anda mencoba terlibat dalam masalah lagi, Ridhika Maya."Kalimat itu terus berputar di dalam kepala Ridhika selama satu minggu terakhir, persis seperti kaset rusak yang tidak tahu kapan berhenti. Saking mendistraksinya, kadang sampai membuatnya kehilangan fokus ketika sedang belajar di kelas. Untungnya, belum pernah sampai ketahuan oleh Guru."Ridhika, kamu yakin tidak mau kuantar saja?" Tanya Widuri yang sudah duduk di dalam mobil jemputannya, bersiap pulang ke rumah."Tidak, Widuri. Terima kasih, ya. Kamu duluan saja." Sesudah berkata demikian pada gadis itu, Ridhika menoleh ke arah Amayra yang juga ada di sana. Bedanya, tentu hanya untuk mengantar mereka, tidak untuk pulang ke Keluarga Darling. "Kamu juga kembali saja ke asrama, Amayra. Sudah mulai terik.""Tapi, kamu betul bisa menunggu bus sendiri?" Tanyanya dengan ekspresi ragu-ragu.Jika ada citra tertentu bagi Amayra tentang Ridhika, itu adalah bahwa dia berasal dari keluarga protagoni

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 46 =Hukuman Adishra=

    Ketika masih dalam perjalanan menuju ruang Adhyaksa, padahal matahari sudah cukup tinggi. Ridhika tidak sempat melihat jam, tetapi dia yakin pastilah sudah sekitar jam 6 pagi hari itu. Namun, pada saat mereka tiba di ruangan Sang Kepala Sekolah Akademi Natyadharma, pemandangan di luar jendela justru kembali menjadi segelap malam."Ruangan ini berada di dimensi yang berbeda dengan sisa ruangan lainnya di Akademi," jelas Mel karena barangkali melihat tatapan bingung Ridhika. Jawaban yang memang gadis itu sudah duga. Di dalam ruangan tersebut, Ridhika dan Adishra berdiri bersebelahan dengan jarak 5 jengkal di antara mereka. Masing-masing tidak bicara maupun melirik pada satu sama lain. Cukup untuk membuktikan bahwa Adishra sepertinya sudah tahu alasan mengapa mereka ada di sana.Mel sudah keluar, sementara Ibu Berlian berdiri di belakang kursi Adhyaksa yang sedang menatap mereka berdua secara bergantian dengan ekspresi serius. Tangan pria tua itu tertaut di depan dada dengan disangga ol

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 45 =Penentuan=

    Ridhika kembali menelan ludahnya gugup, entah sudah untuk keberapa kalinya dalam 15 menit itu. Tangannya yang terlipat di belakang tubuh bergerak mengelupasi kulit di sekitar kuku jarinya yang memang sudah terkelupas sejak awal. Jika tidak sedang menjadi pusat perhatian dari dua orang yang tengah duduk di depannya, dia mungkin sudah sekalian mengigiti kuku hingga habis.Laporan hasil uji coba sudah beberapa kali dibaca, hamster dan ramuan pun sudah cukup lama diamati, tetapi Ibu Berlian tidak kunjung mengeluarkan sepatah kata. Justru, wanita itu lebih sering melirik dirinya dengan ekspresi datar dan menilai. Hal yang membuat kecemasan Ridhika semakin meningkat."Akademi Natyadharma menugaskan seorang Dokter khusus untuk merawat siswi-siswi di Griya Nayika. Membawa Dokter dari luar untuk menangani apa yang tergolong sebagai peristiwa pribadi di sini sangat dilarang," ujar Ibu Berlian seraya membetulkan kacamatanya dan memasukkan laporan hasil uji coba kembali ke dalam kotak.Namun, bar

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 44 =Keputusan=

    "Kamu tidak bisa langsung melapor kepada Adhyaksa. Ada jenjang kekuasaan yang harus diikuti," jelas Widuri dengan serius.Ridhika sudah memutuskan bahwa dia akan melaporkan apa yang terjadi padanya hari itu juga. Tidak peduli sudah gelap gulita di luar sana. Semua harus sudah selesai sebelum matahari terbit besok. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan Adishra."Lalu, bagaimana? Jelaskan aku harus apa," balasnya datar.Dia merasakan tangan Amayra menepuk-nepuk pundaknya pelan. Bahkan gadis itu saja tadi terkejut melihat keadaannya yang sempat linglung. Jika setelah mengalami serentetan peristiwa mengerikan itu dia masih bisa menunggu untuk melakukan sesuatu, maka dia pasti sudah tidak waras."Kita harus membuat janji temu dengan Ibu Berlian melalui Mel. Menunggu hingga Ibu Berlian punya waktu untuk mendengarkan ceritamu dan memutuskan bahwa kasus ini pantas dibawa ke depan Adhyaksa, lalu baru kita bisa melanjutkan."Mata Ridhika membulat. Mendengar penjelasan Widuri, beberapa kali dia

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 43 =Laporan Yang Ditunggu=

    "Kupikir, kamu bilang laporannya datang nanti malam!" Keluh Ridhika.Dengan langkah tergesa dia berjalan menjauh dari area aula yang tentu saja masih dipadati oleh para siswa dan siswi. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikan."Kamu pikir, aku tidak kaget?" Balas Widuri dengan ekspresi sebal. "Mereka meneleponku di tengah kegiatan belajar! Untung, Guruku tidak galak."Ridhika berdecak. Kecepatan langkahnya bertambah seiring dengan semakin dekatnya dia dan Widuri di tempat staf Nenek Dokter sedang menunggu mereka. Pagar belakang Akademi yang sudah lama tidak digunakan. Naas bagi kedua gadis tersebut, di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang Pengawas. Tanpa memiliki kesempatan untuk menghindar, Ridhika terpaksa berpikir cepat untuk mencari-cari alasan."Kenapa kalian berdua di sini?" Tanya si Pengawas, menatap Ridhika dan Widuri dengan ekspresi garang.Widuri menyikut lengan Ridhika, memberi isyarat pada gadis itu untuk memberikan j

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 42 =Kelas Pasangan=

    Bagastya mengangguk ke arah Ridhika yang baru meletakkan jarinya di atas pengait kotak kayu. Gerakan yang dianggap gadis itu sebagai sebuah persetujuan agar dia segera membuka kotaknya dan memang itulah yang Ridhika lakukan.Kotak itu terbuka dengan bunyi klik, menampakkan alas berwarna hitam dan seuntai kalung perak sederhana di dalamnya. Dengan napas tertahan, Ridhika menarik kalung tersebut pelan-pelan, mengelusnya di atas telapak tangannya dengan sentuhan yang teramat ringan hingga nyaris tidak mencapai kalung itu sendiri."Bagaimana ... kau mendapatkan ini?" Bisiknya, entah bisa didengar oleh Bagastya atau tidak.Matanya hanya tertuju pada bandul hijau berbentuk semanggi berdaun empat yang tergantung pada si kalung. Potongannya tidak terlalu halus, tetapi permukaannya berkilat-kilat indah ketika tertimpa cahaya lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula."Aku buat sendiri," jelas Bagastya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Ridhika yang tampak sedang sangat takjub

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status