LOGIN"Kalau memang dalang di balik semua kecelakaanmu adalah keluarga Airlangga, semuanya jadi masuk akal. Karena mereka pasti punya akses ke semua informasi tentangmu yang tersimpan di Akademi," ujar Bagastya, akhirnya tampak mulai memahami pola peristiwa yang dialami Ridhika. "Tapi, mungkin mereka masih tidak yakin apakah kau anak keturunan mereka atau bukan. Makanya, mereka masih lebih berhati-hati. Kalau tidak begitu, sebenarnya mudah saja bagi mereka untuk langsung mengirim pembunuh bayaran.""Tapi ... Ibu bilang, aku paling aman di Akademi Natyadharma. Kalau Ibu sudah tahu bahwa keluarga Ayahku punya kuasa yang besar disana dan bahwa mereka bisa jadi mengincarku, bagaimana Ibu bisa berpikir begitu?!" Mata Ridhika bergerak liar, bergantian menatap Bagastya dan Ibu Ambar. Semua kenangan sejak dia pertama kali menginjakkan kaki di Akademi sampai sekarang berputar di dalam kepalanya. Dia berusaha mencari adakah tanda-tanda bahwa dia secara aneh diperlakukan berbeda, tetapi tidak ada. Na
Ketika itu, sudah hampir tengah malam ketika Ridhika tiba di rumahnya. Dia menghabiskan beberapa saat untuk membujuk Bagastya agar menginap disana saja, alih-alih putar balik dan kembali ke rumahnya sendiri. Selama itu, Ibunya terus menunggu di ambang pintu. Padahal, biasanya Ibu tidak akan banyak peduli dengan adegan seperti itu, sama halnya dengan sewaktu Ridhika pertama kali diantarkan oleh Bagastya.Dugaannya akan sesuatu yang tidak biasa ini terbukti benar pada saat dia menyadari bahwa hal pertama yang diperhatikan oleh Ibu ketika dia berbalik adalah pergelangan kakinya. Secara spesifik, pergelangan kakinya yang kini telah mengenakan gelang kaki yang disimpan oleh Bi Mala."Kau pergi ke rumah Bi Mala, Ridhi?" Tanya Ibu tanpa basa-basi dengan ekspresi serius.Ridhika hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia yakin, dengan sudah melontarkan pertanyaan tersebut saja berarti bahwa Ibunya telah mengetahui apa yang baru diketahuinya. Meskipun begitu, jantung Ridhika tetap berdegup kencang,
"Nona Ridhi, Bibi tidak tahu apakah ketika Nona menerima diari ini, Bibi masih sempat bertemu dengan Nona atau tidak, tapi Bibi berharap semua yang Bibi tulis disini akan bisa menjawab semua pertanyaan Nona dengan atau tanpa adanya Bibi.Keluarga Bibi banyak sekali berutang budi pada keluarga Nona. Bertahun-tahun lalu, pada saat kami sedang susah-susahnya karena petinggi menghentikan pembiayaan rumah tangga kami dengan alasan bahwa dunia cerita leluhur keluarga kami kurang sukses, Neneknya Nona bersedia mengajari kami cara membuat obat dan cara mengobati orang lain agar kami tetap bisa mencari nafkah. Namun, karena saking besarnya budi itu bagi kami, akhirnya kami memilih untuk mengabdi pada beliau.Ketika Nyonya Lian melahirkan Nona, secara misterius dinasti keluarga Calon Arang seperti dirobohkan secara perlahan. Saya tidak pernah tahu siapa yang ada di balik itu semua atau apa alasan mereka, tapi samar Saya bisa menebak bahwa peristiwa itu sedikit banyak pasti ada hubungannya denga
Hari itu, hujan sudah mengguyur Akademi Natyadharma sejak pagi buta. Kendati demikian, Ridhika tetap bersikeras menggunakan poinnya untuk pergi keluar. Untungnya, Bagastya tampak tidak keberatan. Justru pria itu sudah tiba di depan Griya Nayika lengkap dengan helm dan jas hujan tambahan.Oleh sebab itu, setelah meninggalkan pesan untuk Amayra yang masih tidur, dia bergegas meninggalkan asrama, menempuh perjalanan jauh menuju desa yang sudah sepuluh tahun lebih tidak pernah dikunjunginya."Kudengar kau pergi mengunjungi Adishra lagi!" Seru Bagastya nyaring, berusaha agar suaranya tidak tenggelam dalam deru hujan. "Bagaimana keadaannya?!""Dokter bilang, proses penyembuhannya berjalan lebih baik daripada yang mereka harapkan!" Ridhika menjawab dengan tidak kalah keras. "Mereka sendiri bingung kenapa dia tidak kunjung sadarkan diri!""Bagaimana dengan keluarganya?! Kau sudah bertemu?!"Ridhika tidak langsung menjawab, melainkan mengingat-ingat terlebih dahulu setiap kunjungannya ke rumah
"Aku tidak melihat wajah wanita itu dengan jelas karena jaraknya cukup jauh. Ditambah lagi, dia mengenakan syal yang menutupi kepala. Tapi, aku ingat ada bekas luka di kedua pergelangan kakinya.""Bekas luka seperti apa?""Seperti ... bekas ikatan rantai yang terlalu kuat. Aku terutama mengingatnya karena ada beberapa orang di desaku yang pernah menjadi tahanan juga memilik bekas luka seperti itu."Mendengar kata "tahanan" membuat jantung Ridhika rasa-rasanya berhenti berdetak. Di titik ini, dia sudah tidak bisa membedakan apakah sedang memperoleh sebuah fakta atau memicu pertanyaan lain. "Kalau perkataan Adishra benar, apakah mungkin orangtuaku sempat ditahan karena hubungan terlarang mereka?" Tanyanya lirih.Bagastya mengangguk, "Bisa saja. Kita asumsikan bahwa kau memang mengalami lupa ingatan sebagian pasca kecelakaan sepuluh tahun lalu itu, selain potongan ingatan ini, apa ada informasi relevan lainnya yang masih kau ingat? Mungkin kita bisa coba menghubungkan semuanya dan menca
Brak!"Ridhika!" "Hah? Hah?!""Ridhika, ayo kita pergi dari sini!""Bagastya, Adishra! Keluarkan Adishra!"Bagastya secara paksa mengangkat tubuh Ridhika. Entah mengapa gadis itu terus memberontak, padahal bahunya sempat terkena robohan atap dan pasti terluka setidaknya sedikit.Memikirkannya saja sudah membuat Bagastya pening. Bekas luka Ridhika dari kecelakaan sebelumnya saja masih belum sepenuhnya mengelupas, di beberapa bagian tubuhnya bahkan masih terlihat ruam samar dari keracunan dulu, tetapi sekarang sudah muncul luka baru! Namun, alih-alih peduli dengan itu semua, Bagastya malah menyaksikan betapa keras kepalanya Ridhika ingin melompat menembus api untuk menyelamatkan Adishra."Bagastya, bawa Adishra juga!""Tenang, Ridhika! Kau tidak lihat sudah ada pengawas yang menanganinya?! Ayo, kita keluar!"Bagastya menggendong tubuh Ridhika, kali ini dengan tenaga yang lebih kuat, sehingga gadis itu tidak memiliki ruang untuk menolaknya. Tanpa buang waktu sedikit pun, dia berlari me
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan







