LOGINRidhika tidak akan pernah bisa melupakan hari itu. Fondasi demi fondasi bangunan yang satu-persatu roboh, menyisakan debu tebal di udara. Sosok Bagastya yang hilang dari pandangan. Tangan Ibu Berlian dan Amayra yang menyeretnya menjauh. Langit malam yang tiba-tiba berubah kelabu dengan kilat yang memencar di kejauhan. Semuanya masih segar dalam ingatan seolah baru terjadi kemarin.Setiap hari, saluran televisi masih terus menyiarkan berita keruntuhan Akademi Natyadharma. Publik geram dan menggunjing keluarga Airlangga yang begitu kejam memanfaatkan para alumni melenceng sebagai bahan bakar penggerak dunia cerita. Mereka juga mengutuk tindakan Sikha Airlangga yang memperluas penyalahgunaan kekuasaan itu dengan menyerap sari kehidupan para alumni tersebut demi keperluan pribadi. Para keluarga dari golongan protagonis terkemuka hingga figuran tidak dikenal berbondong-bondong membawa pulang anak-anak mereka. Menolak untuk menunggu, meski pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan bahwa a
Ridhika melihat Sikha Airlangga bergumam, persis seperti yang dilakukan Bima dalam ritualnya tadi. Wanita itu menutup matanya, sementara tangannya semakin erat menggenggam si bandul merah. Urat-urat di punggung tangan dan keningnya sampai terlihat menonjol akibat kencangnya kedua tindakannya tersebut.Ridhika tidak mengerti apa yang sedang coba dilakukan Sikha, tetapi dia yakin apapun itu pastilah bukan sesuatu yang akan berakhir baik. Sebelum dia sendiri sempat bereaksi lebih jauh, tahu-tahu Bagastya sudah menarik tangannya, memaksanya untuk berlari keluar dari ruangan itu melalui pintu tempat mereka tadi masuk."Bagastya! Ada apa?!" Tanyanya setengah berteriak."Itu mantra peruntuh! Sikha Airlangga berniat mengubur kita semua disini!"Benar saja, hanya berselang beberapa detik seusai pernyataan itu keluar dari mulut Bagastya, seluruh bangunan aula utama langsung bergetar hebat. Lampu-lampu gantung raksasa saling bertabrakan hingga ornamennya pecah dan jatuh ke lantai bagai hujan kom
Seperti sedang tersihir sesuatu mengaburkan kesadaran, Ridhika beranjak keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak peduli dengan Bagastya yang gelabakan menahannya atau dengan fakta bahwa seharusnya dia tidak boleh berjalan terlalu dekat ke arah Sikha Airlangga."Tidak! Dia Widuri," batinnya linglung. "Dia adalah orang pertama yang selalu membantuku, menjagaku. Tidak mungkin dia orang yang sama dengan wanita yang sudah berkali-kali coba membunuhku selama ini."Pada saat Ridhika sudah berada hanya beberapa jengkal dari wanita itu, yang perhatiannya masih tidak teralihkan dari mangkuk ramuan yang sedang dipegangnya, dengan suara tertahan dia coba untuk memanggil."Widuri."Tubuh Sikha menegang. Gerakan tangannya yang hampir meletakkan tepian mangkuk di ujung bibir seketika terhenti di udara. Ada banyak orang yang memanggilnya dengan nama itu, tetapi hanya satu yang mungkin adalah si pemilik suara tersebut.Ridhika menunggu Sikha sepenuhnya menoleh ke arahnya. Untuk sepersekian detik, di
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan hal ini," bisik Ridhika tanpa sadar.Bagastya mengelus punggungnya lembut sebagai upaya untuk menenangkan, tetapi tindakan itu mustahil lantas mengangkat beban moral Ridhika begitu saja. Demi Tuhan, sebentar lagi dia akan menyaksikan seorang manusia disedot sari kehidupannya di depan matanya! Psikopat macam apa yang menciptakan ritual semacam ini?!Sekuat apapun dia berusaha mengalihkan pandangan, matanya tetap terpaku pada belitan pipa-pipa tembaga berukuran ganjil yang terpasang di tengah ruangan, berliuk-liuk hingga berakhir di atas sebuah kuali yang berada tepat di bawah langit-langit kaca bermandikan cahaya bulan dan bintang. Di sekitar kuali terdapat botol dan toples kaca yang beberapa di antaranya aneh-aneh isinya. Ada yang tampak seperti getah, minyak, serbuk berwarna hitam pekat, bahkan cairan kental berwarna merah yang terlihat seperti darah.Membayangkan bahwa mungkin sekali cairan itu memang adalah darah membuat perut Ridhika bergejola
"Ingat, sebelum tengah malam, kalian sudah harus ada disana. Kami sudah pasang kamera di setiap sudut tempat itu. Kita akan siarkan pengakuan Sikha Airlangga ke seluruh negeri."Ridhika menggenggam erat kunci yang diberikan padanya oleh Nirmala ketika teringat perkataan Jordan Darling melalui telepon tersebut. Jantungnya berdebar tidak nyaman setiap terlintas dalam benaknya bahwa nanti malam terpaksa harus ada orang yang dikorbankan untuk mengelabui Sikha Airlangga agar tidak curiga. Namun, tahu bahwa tanpa pengorbanan itu maka rencana mereka tidak akan sukses, membuatnya terpaksa mengeraskan hati.Pagi-pagi sekali kemarin dia sudah diantarkan oleh sopir bayaran keluarga Nayanthara untuk kembali ke Akademi Natyadharma. Bagastya dan Amayra menyambutnya di depan Griya Nayika, disusul oleh Ibu Berlian yang juga datang dengan dalih memeriksa keadaan. Untung saja wanita itu hadir, sebab tanpanya, Ridhika tidak yakin bisa masuk ke asrama dengan tenang. Para siswi terus mengerubunginya seper
"Kalau kau bergerak sekali lagi, aku akan membunuhmu," omel Adishra datar dengan mata mendelik ke arah Ridhika."Salep ini ... membuat kulitku gatal.""Oh, ya? Jadi, haruskah sekarang kami mencarikan ramuan ajaib untuk menyembuhkan gatal, tuan puteri?"Hampir seminggu "didampingi" untuk mengurus luka-lukanya oleh Adishra membuat Ridhika sudah terbiasa dengan sarkasme gadis itu. Namun, ada hal lain yang juga dipelajarinya melalui rutinitas sehari-hari mereka, yaitu bahwa gadis yang selalu tampak bermuka masam itu ternyata cukup berhati lembut. Entah sudah berapa kali Ridhika melihat Adishra diam-diam mengusap air mata ketika mengganti perban atau mengoleskan salep di tubuhnya."Para orangtua sedang mengobrol," ujar Amayra selagi masuk ke dalam ruangan dengan tangan membawa nampan teh dan camilan. "Sepertinya tidak lama lagi mereka akan melancarkan rencana lainnya."Amayra menyerahkan segelas teh pada Adishra, lalu membantu Ridhika untuk duduk bersandar agar bisa meminum tehnya sendiri
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika







