LOGIN"Ingat, sebelum tengah malam, kalian sudah harus ada disana. Kami sudah pasang kamera di setiap sudut tempat itu. Kita akan siarkan pengakuan Sikha Airlangga ke seluruh negeri."Ridhika menggenggam erat kunci yang diberikan padanya oleh Nirmala ketika teringat perkataan Jordan Darling melalui telepon tersebut. Jantungnya berdebar tidak nyaman setiap terlintas dalam benaknya bahwa nanti malam terpaksa harus ada orang yang dikorbankan untuk mengelabui Sikha Airlangga agar tidak curiga. Namun, tahu bahwa tanpa pengorbanan itu maka rencana mereka tidak akan sukses, membuatnya terpaksa mengeraskan hati.Pagi-pagi sekali kemarin dia sudah diantarkan oleh sopir bayaran keluarga Nayanthara untuk kembali ke Akademi Natyadharma. Bagastya dan Amayra menyambutnya di depan Griya Nayika, disusul oleh Ibu Berlian yang juga datang dengan dalih memeriksa keadaan. Untung saja wanita itu hadir, sebab tanpanya, Ridhika tidak yakin bisa masuk ke asrama dengan tenang. Para siswi terus mengerubunginya seper
"Kalau kau bergerak sekali lagi, aku akan membunuhmu," omel Adishra datar dengan mata mendelik ke arah Ridhika."Salep ini ... membuat kulitku gatal.""Oh, ya? Jadi, haruskah sekarang kami mencarikan ramuan ajaib untuk menyembuhkan gatal, tuan puteri?"Hampir seminggu "didampingi" untuk mengurus luka-lukanya oleh Adishra membuat Ridhika sudah terbiasa dengan sarkasme gadis itu. Namun, ada hal lain yang juga dipelajarinya melalui rutinitas sehari-hari mereka, yaitu bahwa gadis yang selalu tampak bermuka masam itu ternyata cukup berhati lembut. Entah sudah berapa kali Ridhika melihat Adishra diam-diam mengusap air mata ketika mengganti perban atau mengoleskan salep di tubuhnya."Para orangtua sedang mengobrol," ujar Amayra selagi masuk ke dalam ruangan dengan tangan membawa nampan teh dan camilan. "Sepertinya tidak lama lagi mereka akan melancarkan rencana lainnya."Amayra menyerahkan segelas teh pada Adishra, lalu membantu Ridhika untuk duduk bersandar agar bisa meminum tehnya sendiri
Kematian adalah peristiwa yang sangat tidak terduga. Dia berjalan mendekat ketika manusia masih menginginkan kehidupan, dan justru menjauh ketika manusia sedang mendambakannya. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Ridhika selama melewati hari-hari seperti pesakitan entah dimana.Kesadarannya jelas tidak berada di tempat, tetapi dalam apa yang seharusnya menjadi lelap pun, Ridhika masih bisa merasakan rasa sakit menghantamnya satu demi satu secara bergantian. Kadang tubuhnya yang ngilu bekas dipukuli, kadang bagian dalam tubuhnya yang terasa terbakar, kadang wajahnya yang nyeri, kadang semuanya menjadi satu sekaligus.Perasaan Ridhika campur aduk antara bersyukur dia masih hidup atau mengutuk karena dia masih hiduplah maka dia harus menahan semua kesakitan itu. Selama berhari-hari, berminggu-minggu atau mungkin pula berbulan-bulan yang rasa-rasanya lebih mirip seperti sebuah keabadian, yang dilakukannya hanya menunggu saat dimana tubuhnya akhirnya mendapat kekuatan untuk bangkit dar
Ridhika menatap nyalang ke arah Binar yang berjalan ke arahnya dengan tangan memainkan pisau. Wajah yang selalu menguarkan citra lembut dan keibuan itu tidak tampak bengis bahkan ketika dia jelas menyimpan niat membunuh. Akan tetapi, bagi Ridhika justru itu lebih menakutkan. Sebab, dia tidak bisa menebak muslihat macam apa yang sedang bermain dalam kepala wanita itu."Ckck, Ridhika yang manis pasti sekarang memiliki banyak pertanyaan, ya?" Binar berlutut di samping Ridhika, lantas menggoreskan pisaunya di pipi gadis itu. "Sikha selalu ingin merusak wajah cantikmu ini. Dia pikir, ini sangat mengganggu."Darah perlahan mengalir dari luka dangkal itu. Menambah kesan mengenaskan pada tubuh Ridhika yang sudah hampir luluh lantak. Meskipun begitu, si pemilik tubuh sudah tidak sanggup lagi melakukan perlawanan. Bahkan sekadar untuk menahan air mata saja sudah menjelma hal mustahil baginya. Sudut matanya terus mengucurkan benda itu, serupa keran air yang sudah kehilangan fungsi matinya."Jang
(Warning! Terdapat Adegan Kekerasan!)Pandangan Ridhika sempat buram selama beberapa saat ketika dia baru sadarkan diri. Kendati begitu, ada banyak hal yang langsung disadarinya saat itu juga. Seperti kedua tangan dan kakinya yang nyeri karena diikat terlalu kuat, dan mulutnya yang terasa asam karena disumpal dengan kain kotor. Demikianlah dia mengetahui bahwa, kali ini, Sikha Airlangga tidak hanya sedang bermain air dengannya, melainkan berniat mendorongnya sekaligus ke dalam lautan.Tidak langsung terjadi apa-apa padanya. Ridhika menghabiskan siang dan malam di sebuah tempat yang tampak seperti pabrik tidak terpakai selama beberapa hari terlebih dahulu. Mungkin dua hari? Dia tidak bisa menghitung dengan jelas, terutama karena disana dia tidak diberi makan atau minum, dan bahkan tidak bisa tidur dengan benar karena posisinya yang tidak memungkinkan.Yang jelas bagi Ridhika adalah tempat itu selalu menakutkan setiap waktu. Dinding-dindingnya dipenuhi lumur, atapnya disarangi oleh pulu
Sore hari ketika Ridhika dan Bagastya sedang dalam perjalanan kembali ke akademi adalah sore hari yang tenang ... dan ganjil, menurut gadis itu. Seperti awan kelabu yang perlahan datang sebagai tanda akan turunnya hujan, begitulah perasaan Ridhika terhadap sore itu. Namun, dia berusaha menekan kerisauannya dengan memperhatikan pemandangan yang berlalu cepat di sekitar mereka.Menjelang jam 5, langit yang tadinya cerah tiba-tiba benar-benar berubah mendung. Tidak perlu waktu lama bagi angkasa di atas mereka untuk memuntahkan tetesan air yang cukup deras untuk membuat keduanya terpaksa berteduh di sebuah pondok yang terletak di pinggir jalan. Ini dia, pikir Ridhika. Pasti inilah sebabnya dia merasa tidak enak hati. Rupanya peristiwa tidak terduga sungguh terjadi."Ck! Aku lupa memasukkan kembali jas hujan kita ke dalam jok!" Keluh Bagastya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya."Tidak masalah. Kita bisa tunggu sampai hujannya reda saja."Ridhika mengancingkan cardigan rajut yang di
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan







