Teilen

Bab 9. RHA Group

last update Veröffentlichungsdatum: 20.06.2026 08:25:13

“Nama Anda sudah didaftarkan sebagai pemilik akses permanen. Anda bebas menggunakan kamar VIP ini kapan pun Anda mau.”

Hening.

Minari membeku di tempatnya.

Di sampingnya, Rin bahkan tersedak kecil.

“Ha?” suara Rin nyaris tidak keluar.

Minari menatap kartu hitam di tangannya. Permukaannya dingin. Berat, meski hanya selembar kartu tipis.

Selama ini, hidupnya penuh batas. Harus izin. Harus dijaga. Harus diawasi.

Bahkan untuk sekadar bernapas dengan bebas, selalu ada seseorang yang memastika
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 12. Satu Nama

    “Kau ada di sampingku tapi kau tidak melakukan apa-apa. Itu jauh menyebalkan daripada ocehan mereka.”Kalimat Minari membuat udara di antara mereka mendadak terasa berat.Angin pegunungan berembus pelan, menggerakkan ujung rambutnya. Namun tidak cukup untuk meredakan panas yang memenuhi dadanya.“Kau ada di sana. Kau mendengar semuanya.” Suaranya bergetar. “Tapi kau membiarkan mereka bicara seperti itu tentang papaku.”Zian mengatupkan rahang.Ia sempat mengangkat tangan, memberi isyarat agar Minari mengecilkan suara. Namun Minari menepisnya.“Aku mau pulang.”Nada suaranya datar. Justru karena terlalu datar, kalimat itu terdengar lebih serius.Zian mengembuskan napas panjang. “Minari—”“Aku mau pulang.” Ia mengulanginya. Tidak ada ruang untuk berdebat.Sayangnya, suasana hati Zian juga sedang buruk. Ia belum sepenuhnya mengerti kenapa Minari harus semarah itu karena sebuah obrolan biasa keluarganya, ia tertawa mengejek.“Kau benar-benar marah hanya karena itu?”Minari menatapnya tak

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 11. Keluarga Ravenshow

    Zian datang tepat pukul delapan pagi.Ia menyetir sendiri. Tidak ada sopir. Tidak ada asisten. Hanya mobil hitam miliknya yang berhenti di depan mansion Minari.Minari masuk ke kursi penumpang tanpa banyak bicara.Zian hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi.Entah karena mereka memang tidak terbiasa bersikap seperti pasangan, atau karena kejadian semalam masih menggantung di antara mereka.Mobil melaju meninggalkan kawasan mansion.Semakin jauh mereka pergi, semakin sepi jalanan yang dilalui. Gedung-gedung tinggi berganti pepohonan. Permukiman berganti perbukitan.Tak lama kemudian, jalan mulai menanjak.Di kanan kiri hanya terlihat hutan dengan pohon-pohon tinggi menjulang. Jalur aspal yang mereka lalui bahkan hanya cukup untuk satu mobil.Minari memandangi pemandangan di luar jendela.Jika berjalan sendirian di tempat seperti ini,

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 10. Nama yang Tidak Seharusnya Ada

    Minari masih membeku di tempat.Pikirannya berlari ke sana kemari, mencoba menyusun potongan-potongan yang tidak masuk akal.Hingga akhirnya ia sampai pada satu kesimpulan yang paling mustahil.“Apa mungkin dia tahu tentang mimpiku?”Kalimat itu membuatnya sendiri terdiam setelah mengucapkannya.Minari tidak bisa lagi menebak-nebak.Nama itu terlalu sering muncul di kepalanya. Mimpi yang sama. Sosok pria yang semakin lama semakin jelas. Dan suara yang selalu menyebut satu nama yang sama.Rooha.Selama ini ia hanya bisa bertanya dalam diam, tanpa tahu harus kepada siapa.Tapi malam ini berbeda.Nama itu muncul di kartu yang ia pegang. Sebuah kartu akses yang diberikan Evan.Seolah dunia tiba-tiba mempertemukan sesuatu yang seharusnya tidak saling terhubung.Dadanya berdebar lebih keras dari biasanya.Mungkin, kalau ia bertanya pada Evan, ia akan mendapatkan jawaban.Setidaknya, ia akan tahu apa arti Rooha. Atau kenapa nama itu ada di perusahaannya. Mungkin itu satu-satunya jalan untuk

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 9. RHA Group

    “Nama Anda sudah didaftarkan sebagai pemilik akses permanen. Anda bebas menggunakan kamar VIP ini kapan pun Anda mau.” Hening. Minari membeku di tempatnya. Di sampingnya, Rin bahkan tersedak kecil. “Ha?” suara Rin nyaris tidak keluar. Minari menatap kartu hitam di tangannya. Permukaannya dingin. Berat, meski hanya selembar kartu tipis. Selama ini, hidupnya penuh batas. Harus izin. Harus dijaga. Harus diawasi. Bahkan untuk sekadar bernapas dengan bebas, selalu ada seseorang yang memastikan ia tidak melangkah terlalu jauh. Tapi kartu ini justru sebaliknya. Seolah seseorang baru saja membuka semua pintu yang selama ini dikunci rapat untuknya. “Benar… kamar ini untukku?” suara Minari nyaris tak terdengar. “Benar, Nona.” Jawaban itu tegas. Tidak ada ragu sedikit pun. Rin langsung menyenggol lengannya. “Minari… itu gila. Kau harus ambil!” Minari masih terpaku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah, tolong sampaikan terima kasihku pada Pak Evan.” “Baik, No

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 8. Kartu Akses

    “Hello?”“Evan, kau baik-baik saja?”“Aku baik-baik saja, Mom. Memangnya ada apa?”“Biasanya kamu tidak pernah berada di negara lain lebih dari lima hari. Kenapa sekarang hampir satu bulan kamu di Indonesia?”Evan menatap keluar jendela kamar VIP.“Aku ada keperluan di sini, Mom.”“Keperluan pekerjaan atau pribadi?”“Keduanya.”Di seberang sana terdengar helaan napas pelan.“Baiklah. Aku hanya memastikan keadaanmu saja. Lakukan apa yang memang harus kamu lakukan.”Evan terdiam.“Tapi jangan lupa,” lanjut sang ibu, “kau tahu kapan waktunya kembali.”Jari Evan sedikit mengencang di ponselnya.“Baik, Mom.”Panggilan terputus.Beberapa saat Evan masih berdiri diam sebelum akhirnya memasukkan ponselnya ke saku.Dari balkon, Minari sebenarnya sempat menangkap beberapa bagian percakapan mereka.Bukan isi pembicaraannya yang menarik perhatian Minari. Melainkan cara Evan berbicara. Bahasa Inggrisnya terdengar alami. Aksennya khas. Dan anehnya suara itu terasa familiar. Seolah ia pernah mende

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 7. VIP

    Pagi itu Minari sedang bersantai di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Dua asisten rumah tangga di kejauhan sibuk mengatur vas bunga baru di ruang tamu.Suasana tenang. Terlalu tenang. Sampai ponselnya berdering.Nama yang muncul di layar membuat alis Minari terangkat.Rin.Begitu panggilan tersambung ia berteriak.“MINARIIIIII!”Minari refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.“Kenapa teriak?”“Aku mau mati!”“Kalau mau mati, telepon ambulans.”“Bukan itu!” Rin mengeluh dramatis. “Penyanyi favoritku datang. Hari ini. Di atrium hotel bintang tujuh!”Minari mengernyit. “Lalu?”“Aku mau nonton.”“Hm.”“Tapi aku tidak punya teman!”Hening.Minari menopang dagu.“Ayo, aku temani.”Sunyi sesaat.“Hah? Kau serius?” Rin terdengar syok. “Bukannya, kau biasanya dikawal ke mana-mana?”Minari mendengkus pelan.“Itu dulu. Sekarang aku tinggal sendiri.” Jeda sebentar. “Aku bebas.”Senyum kecil muncul di bibirnya. Ia masih menyukai kata itu.Bebas.Tidak ada pengawasan. Tidak ada jadwal

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 6. Kebebasan Pertama

    Minari bermimpi lagi. Masih seperti sebelumnya. Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya. “Rooha...” Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari. “Rooha...” Pria

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 5. Semanggi

    Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia me

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 2. Rumah Impian

    “Lehermu. Aku bisa melihat bekas ciuman di sana.”Zian terkesiap. Namun hanya sepersekian detik.Setelah itu, ia kembali pada ekspresi santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.“Apa maksudmu?” tanyanya ringan.Minari tersenyum miring. “Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semuanya. Termasuk hobimu yang s

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 1. Harga Untuk Kebebasan

    “Kalau kau ingin keluar dari rumah ini, kau harus mau dijodohkan dengan putra keluarga Ravenshow.”Kalimat itu menjadi alasan Minari Halden berdiri tegap mengikuti acara pertunangan hari ini.Papanya – Alistair Halden, memilih Zian Nathaniel Ravenshow sebagai pasangan hidupnya. Putra satu-satunya ke

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status