Share

Jamuan yang Panjang

last update publish date: 2026-05-12 09:33:52

Pagi itu Aruna pulang dari rumah sakit dengan tubuh yang terasa seperti habis diperas sampai tidak menyisakan tenaga sedikit pun ,langit masih pucat ketika ojek online yang membawanya berhenti di depan rumah besar Oxavio ,udara pagi sebenarnya cukup sejuk, tetapi kepalanya terasa panas dan berat ,shift malam selalu melelahkan, namun hari ini terasa jauh lebih panjang ,dua pasien gawat darurat datang hampir bersamaan ketika ia sedang membantu jaga IGD ,Satu korban kecelakaan dengan luka parah

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   oleh oleh Aruna

    Setelah duduk cukup lama di batu besar itu, Aruna akhirnya berdiri perlahan matahari sudah semakin tinggi dan kabut yang tadi pagi menyelimuti lembah perlahan mulai menghilang Nina meregangkan tubuhnya.“Baiklah,” katanya sambil menghela napas panjang, “sepertinya kita harus kembali ke dunia nyata.”Aruna tersenyum tipis kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari ,mereka berjalan kembali menuju penginapan untuk membereskan barang-barang ,tas Aruna sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya beberapa pakaian dan barang kecil yang ia bawa namun sebelum benar-benar turun menuju kota, Nina tiba-tiba berkata,“Eh, kita mampir dulu ya.”Aruna mengangkat alis.“Mampir ke mana?”“Toko oleh-oleh.”Aruna tertawa kecil.“ya ya boleh, beli yang banyak untuk orang rumah "Nina menunjuknya dengan ekspresi penuh kemenangan.“Justru kamu yang harus beli oleh-oleh.”“Kok aku, untuk siapa ?”Nina menatapnya seolah itu pertanyaan yang sangat

  • Aku ,Target balas dendam CEO   pagi terakhir

    Malam di penginapan kecil itu berakhir dengan tawa yang masih tersisa di udara ,api unggun perlahan mengecil, para tamu satu per satu kembali ke kamar masing-masing, dan pegunungan kembali tenggelam dalam kesunyian yang damai.Aruna tidur nyenyak malam itu mungkin karena sebagian beban yang selama ini ia pendam sudah ia bagi dengan Nina ,pikirannya untuk sementara tidak sedang berperang dengan apa pun.Pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus tirai kamar ,Aruna membuka mata perlahan ,beberapa detik ia hanya berbaring menatap langit-langit kayu kamar penginapan yang sederhana itu ,ia hampir lupa di mana ia berada namun suara burung dari luar jendela segera mengingatkannya ia sedang di bandung.Liburan dua hari yang hampir selesai ,ia bangun perlahan lalu membuka jendela kamar, udara dingin langsung masuk bersama aroma tanah basah dan dedaunan ,kabut pagi masih menggantung rendah di antara pepohonan ,pemandangan lembah yang kemarin mereka lihat kini terlihat seperti

  • Aku ,Target balas dendam CEO   bahagia ?

    Malam di tempat seperti ini terasa seperti selimut yang perlahan turun dari langit.Udara menjadi lebih dingin kabut mulai kembali merayap di antara pepohonan“Dingin ya malam di sini.”Aruna mengangguk sambil menghembuskan napas yang berubah menjadi uap tipis.“Tapi enak.”Nina meliriknya.“Kamu kelihatan betah sekali.”Aruna tertawa kecil.“Kalau boleh jujur… aku ingin waktu berhenti di sini saja.”Lampu-lampu kuning hangat menyala di teras, membuat tempat itu terlihat nyaman seperti rumah kecil di tengah hutan ,pemilik penginapan sedang menyalakan api unggun kecil di halaman ,Nina langsung bersorak kecil.“Wah ada api unggun!”Aruna tersenyum mereka duduk di kursi kayu yang menghadap api itu ,api kecil itu menari-nari, memantulkan cahaya hangat di wajah mereka beberapa tamu lain juga duduk di sekitar api unggun, tapi suasananya tetap tenang ,tidak ramai hanya suara kayu yang sesekali berderak saat terbakar Nina mengulurkan tangannya ke

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Hari yang dipenuhi Tawa

    Udara sore di pegunungan mulai berubah lebih dingin langit perlahan berubah warna ,biru terang yang sejak pagi membentang di atas Kawah Sunan Ibu kini mulai bercampur semburat jingga dan abu lembut ,kabut tipis turun perlahan di antara pepohonan, Aruna berjalan pelan di samping Nina sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket ,wajahnya masih menyisakan senyum kecil setelah percakapan mereka tadi ,sudah lama sekali ia tidak tertawa sebanyak hari ini, terlalu lama bahkan sampai rasanya asing mendengar suaranya sendiri terdengar sebebas itu. Aruna dan Nina duduk di batu besar di puncak bukit kecil itu ,beberapa saat yang lalu mereka sempat diam menikmati pemandangan tapi seperti biasa Nina tidak pernah bisa terlalu lama berada dalam suasana yang terlalu serius Nina tiba-tiba menoleh pada Aruna dan menyipitkan mata. “Kamu tahu tidak?” “Apa?” tanya Aruna. Nina menunjuk wajahnya. “Kamu kelihatan jauh lebih cantik kalau ketawa.”

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Alam Mengajarkan Tenang

    Bangun pagi di pegunungan datang dengan cara yang berbeda ,tidak tergesa-gesa ,tidak dipenuhi suara klakson kendaraan atau langkah manusia yang sibuk mengejar waktu.Pagi di tempat seperti ini lahir perlahan seolah alam sengaja membiarkan dunia bangun sedikit demi sedikit ,kabut turun lembut menutupi lembah seperti selimut tipis berwarna abu keperakan ,embun menggantung di ujung daun pinus dan memantulkan cahaya matahari pertama yang mulai menembus pepohonan tinggi ,udara terasa dingin namun dingin yang menenangkan bukan dingin yang membuat sesak.Aruna sudah terbangun sejak subuh ,ia duduk sendiri di balkon penginapan dengan secangkir teh hangat di tangannya ,uap tipis mengepul dari permukaan cangkir, menari pelan bersama embusan angin pagi yang menyentuh wajahnya ,ia menarik napas panjang seolah ingin memenuhi paru-parunya dengan udara pegunungan sebanyak mungkin sebelum kembali ke kehidupan yang menunggunya di kota ,rasanya tenang dan justru karena itulah dadanya terasa n

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Perjalanan yang Ditunggu

    Pagi itu datang lebih cepat bahkan sebelum alarm ponselnya berbunyi, Aruna sudah lebih dulu membuka mata ,langit kamar masih sedikit gelap ,udara dini hari terasa dingin ,ia menatap langit-langit kamar seolah sedang memastikan bahwa hari ini benar-benar nyata bahwa setelah sekian lama ia benar-benar akan pergi ,meski hanya dua hari namun bagi Aruna, waktu sesingkat itu terasa seperti celah kecil untuk bernapas di tengah hidup yang terlalu lama menekannya.Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur ,tubuhnya masih menyisakan rasa pegal kelelahan itu belum benar-benar pergi namun anehnya pagi ini dadanya terasa plong sekali.Di luar kamar terdengar suara langkah kaki ,Aruna refleks berdiri dan merapikan kerudung sebelum membuka pintu kamar ,Aroma kopi hitam langsung tercium samar dari arah ruang makan ,seperti biasa Oxavio sudah duduk di sana dengan laptop terbuka di depannya ,cahaya layar memantul di wajahnya yang dingin dan nyaris tanpa ekspresi ,ia tampak sibuk membaca sesuatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status