تسجيل الدخولVelian yang berdiri di belakang Rhys sudah tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan semacam itu. Sebelum Dylen, Lucien pun pernah menerima pertanyaan yang sama.Dylen sendiri tampak berpikir sejenak, seolah sedang mencari jawaban yang paling aman. “Banyak duke dari berbagai negeri yang dikabarkan menyukai Eira, meskipun kebanyakan hanya sebatas rumor.”Rhys menatapnya tajam. “Jadi, kau menyukai Eira?”Dylen justru tersenyum tipis. “Namun, ada juga pria-pria yang tidak menyukai kepribadiannya yang dingin dan galak, meskipun dia memiliki paras yang cantik rupawan.” Ia sengaja berhenti sejenak. “Menurutmu, aku berada di kubu yang mana?”“Jawab saja.”“Baiklah.” Dylen mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Tenang saja. Aku menyukai perempuan bernama Velian, bukan Eira. Bukan pula selirmu yang lain.” Ia tersenyum santai. “Puas?”Velian yang sejak tadi mendengar percakapan mereka langsung melotot. Tubuhnya bahkan terpaku di tempat.Apa tadi bisa disebut pengakuan cinta?Atau Dylen
Namun, ketika Dylen berbalik untuk mencari keberadaan Velian—yang sejak tadi tidak ikut turun dari tribun—pemandangan yang dilihatnya justru membuat langkahnya terhenti.Velian masih berada di tempatnya.Bukan sedang mengkhawatirkan Alverine.Bukan pula sedang menyusul Rhys.Perempuan itu malah asyik memegang Vox Device di depan wajahnya, memiringkan kepala sedikit, lalu mengambil foto dirinya sendiri.Satu foto.Kemudian satu lagi.Dylen memejamkan mata rapat-rapat.Kepalanya tertunduk, seolah sedang berusaha menahan umpatan yang memenuhi pikirannya. 'Bisa-bisanya dia selfie di tengah semua orang yang sedang panik.' Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memanggil,“Nona Eira.”Velian menurunkan Vox Device dan menoleh santai. “Apa?”Dylen menatapnya beberapa detik. “Ada yang perlu kita bicarakan mengenai Alverine dan latihannya tadi.”“Oh.” Velian melirik ke bawah, ke arah Alverine yang kini ditemani Rhys. Lalu kembali menatap Vox Device di tangannya. “Sebentar. Aku belum dap
Dylen meminta Alverine kembali duduk. “Kita ulangi sekali lagi. Kali ini, pertahankan ketenanganmu selama lima menit."Alverine mengangguk patuh. Ia memejamkan mata, lalu menarik napas perlahan seperti yang telah diajarkan Dylen.Satu menit berlalu. Tidak ada perubahan. Napasnya teratur, bahunya rileks, dan cahaya keemasan di sekitar inti magisnya berpendar lembut.Menit kedua masih stabil. Bahkan denyutan energi emas itu mulai semakin halus, seolah telah mengikuti ritme napasnya.Dylen yang berdiri beberapa langkah di depannya mulai yakin bahwa latihan hari itu akan berjalan lebih baik daripada perkiraannya.Lalu, pada menit ketiga—Alverine melihat sesuatu.Bukan ruangan tempat ia berada. Bukan wajah Dylen. Bukan pula ingatan miliknya.Sebuah koridor istana terbentang di hadapannya.Sepi dan dingin.Kemudian terdengar suara seseorang memanggil sebuah nama.“Eira...”Alverine terdiam.Ia melihat sepasang tangan yang gemetar.Merasakan sesak yang menusuk dada.Kemudian sosok seorang pr
Alverine, Velian, Raven, dan Leona menunggu kepulangan Rhys di teras depan mansion.Raven dan Leona duduk di kursi santai berbahan rotan dengan sandaran tinggi yang nyaman. Sementara itu, Velian berdiri bersandar pada kusen pintu di sisi kiri, sesekali memeriksa kuku tangannya yang baru saja selesai dirawat.Alverine?Gadis kecil itu memilih duduk di salah satu anak tangga, sibuk mengobrol dengan Xuu seolah anjing kecil itu adalah teman sebaya yang paling bisa dipercaya."Menurutmu nanti Tuan Dylen ngajarnya susah tidak?"Guk!"Kalau susah, aku pura-pura tidak mengerti saja."Guk!Alverine terkikik.Beberapa menit kemudian, suara mesin kendaraan terdengar dari arah gerbang.Mobil Rhys memasuki halaman dan berhenti tepat di depan tangga utama.Leona menjadi orang pertama yang bangkit. Senyumnya langsung merekah begitu Rhys turun dari mobil dan menaiki beberapa anak tangga."Aku merindukanmu, Rhys."Rhys hanya tersenyum. Tangann
Alverine akhirnya selesai bermain bersama Putra Mahkota Lucien. Karena Rhys masih dalam perjalanan pulang, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum Lucien kembali ke istana.Di tengah persiapan makan, Vox Device milik Raven bergetar singkat.Sebuah pesan masuk dari Rhys: "Saya dalam perjalanan pulang.Raven segera membalas: "Baik. Tapi sebelumnya, maaf, Rhys. Kami akan makan siang lebih awal bersama Yang Mulia. Rasanya tidak enak jika beliau kembali ke istana tanpa makan terlebih dahulu."Balasan Rhys datang tak lama kemudian: "Tidak masalah."Kursi yang biasanya ditempati Rhys tetap kosong di ujung meja. Sebagai gantinya, Lucien duduk di sebelah Alverine. Entah mengapa, berbicara dengan seorang anak kecil terasa jauh lebih mudah daripada menghadapi tiga perempuan dewasa yang duduk berseberangan dengannya."Alvie," Raven membuka percakapan. "Papa sedang dalam perjalanan pulang."Alverine yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya menole
Pagi yang tenang menyelimuti Mansion Vance.Sinar matahari perlahan menyelinap di sela-sela tirai kamar Eira, membangunkannya dari tidur yang panjang. Ia membuka mata dengan perlahan. Entah mengapa, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan biasanya.Eira menarik napas dalam-dalam. Dada yang hampir setiap pagi terasa sesak kini justru lapang. Jantungnya berdetak stabil tanpa rasa nyeri yang selama ini telah menjadi bagian dari rutinitasnya setiap bangun tidur.Ia terdiam beberapa saat."Aneh..."Namun Eira tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Mungkin saja tubuhnya hanya sedang berada dalam kondisi yang lebih baik.Rambut panjangnya sedikit mengembang akibat semalaman bergesekan dengan bantal. Meski begitu, wajahnya tetap tampak bersih dan cantik, memperlihatkan sisi sederhana seorang perempuan yang baru saja bangun tidur, jauh dari kesan anggun yang selalu melekat padanya di hadapan orang lain.Sementara itu, di ruang makan...Alverine sudah bangun sejak pukul enam pagi.D
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru







