MasukTeja menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Bagas serta Sonya yang merangsek masuk ke arah ranjang. Pria berambut panjang itu memutus aliran energi Qi-nya, lalu menarik telapak tangannya kembali dengan raut wajah yang tetap tenang."Mau malapraktik ya? Dasar dokter gadungan! Masih berani-beraninya kamu cari keuntungan di rumah ini?!" sembur Sonya dengan nada melengking penuh tuduhan yang berprikemanusiaan. Mata wanita paruh baya itu membelalak tajam menatap Teja seolah sedang menangkap basah seorang pencuri."Yah, ngapain sih mau diperiksa sama si miskin ini?!" imbuh Bagas tak kalah sinis. Pria muda itu melangkah maju dua jengkal, melipat kedua tangannya di dada sembari memamerkan tatapan meremehkan seperti saat berada di ruang tamu tadi.Bob segera pasang badan. Pria konglomerat itu melangkah perlahan dan berdiri tepat di samping Teja, menghalangi gerak Bagas dan Sonya. "Teja sedang memeriksa kondisi Yulio. Kalian tolong jangan mengganggu!" tegurnya dengan suara berat berw
"Nggak masalah, Pak," Teja mengangguk. Pria berambut panjang itu tersenyum tipis, menunjukkan rasa maklum yang besar tanpa menyimpan dendam atas perlakuan buruk tuan rumah perempuan dan pemuda tadi.Bob tidak menjawab, namun wajahnya masih menunjukkan kekesalan atas penghinaan pada anak angkatnya itu. Pria konglomerat itu tetap menyandarkan punggungnya di sofa dengan napas berat dan garis bibir yang terkatup kaku."Eh iya, ada apa nih kok tiba-tiba datang ke sini?" tanya Yulio mencairkan suasana. Pria berjambang lebat itu mengalihkan pembicaraan demi mengikis sisa-sisa hawa tidak menyenangkan di dalam ruang tamu tersebut.Bob berdehem sejenak untuk menetralisir emosinya. Pria itu memperbaiki posisi duduknya lalu menatap sahabat lamanya dengan raut wajah yang kembali serius."Bukannya aku udah janji bakal datengin orang yang bisa nyembuhin kamu, Yul?!" tegas Bob mengingatkan percakapan mereka beberapa waktu lalu.Yulio terhenyak. Manik matanya membelalak kaget, lalu berganti menatap
Saat tiba di depan rumah yang dimaksudkan oleh Bob, Teja segera mengangguk yakin karena rumah itu persis sama dengan yang ia datangi tempo hari. Bangunan megah bergaya modern klasik itu berdiri kokoh di sudut jalan utama kawasan perumahan elite tersebut."Ini rumah Pak Brewok kan, Yah?" tanya Teja."Pak Brewok? Brewoknya Yulio memang lebat, tapi aku nggak pernah tahu ada panggilan dia kayak gitu," sahut Bob Salim terkekeh pelan menyimak sebutan unik dari anak angkatnya itu.Mereka turun dari mobil dan melangkah ke pintu yang masih tertutup. Halaman depan yang luas dan asri terpapar tenang di bawah naungan dedaunan pohon hias yang rindang.Beberapa kali mengetuk, pintu terbuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya berwajah angkuh muncul dengan riasan tebal serta pakaian berkelas yang melekat di tubuhnya."Kamu?!" Wanita itu mendelik melihat Teja. Sorot matanya seketika memancarkan nada ketidaksukaan yang sangat kentara saat mengenali sosok pria berambut panjang di hadapannya.Namun wa
"Maaf, Ayah, aku datang agak terlambat," ucap Teja begitu tiba di rumah Bob Salim. Pria berambut panjang itu melangkah masuk ke dalam ruang tamu megah yang bernuansa modern tersebut."Nggak masalah, Ja. Kebetulan aku juga baru selesai makan siang sama Susan," sahut Bob Salim santai sembari membetulkan posisi duduknya di sofa kulit.Susan yang duduk di samping ayahnya segera berdiri saat melihat kehadiran Teja. Gadis cantik itu memandang Teja dengan binar mata yang dipenuhi aura kehangatan."Kamu udah makan siang, Ja? Nggak mau makan dulu di sini?" Susan tersenyum manis."Aku belum, San. Nanti aja gampang," jawab Teja. Pria itu mengusap tengkuknya sembari membalas senyuman ramah sang putri konglomerat."Ah jangan gitu, Ja. Nggak baik nunda-nunda waktu makan. Kalau makan nggak teratur nanti malah jadi penyakit," nasihat Bob. Pria tua itu menggeleng pelan menyikapi kebiasaan Teja yang suka mengabaikan jam makan."Tuh dengerin apa kata Ayah! Ayo sini ikut aku," ajak Susan penuh semangat
"Ja, kita sudah sama-sama dewasa. Coba kamu ceritakan, ada berapa banyak wanitamu selain aku?!" bisik Sari ketika keduanya sudah bersandar mesra di sandaran ranjang beberapa menit setelah puncak orgasme Teja tadi."Tapi dilarang cemburu ya," ucap Teja sebelum bercerita. Pria berambut panjang itu mengelus lembut bahu mulus Sari yang masih hangat oleh sisa-sisa peluh."Nggak akan, Ja. Kamu terlalu kuat buat dilayani seorang diri. Katakan, Sayang," balas Sari mengulas senyum lembut."Hmm. Selain kamu, ada seorang janda berusia 30 tahun, namanya Septa," tutur Teja mengawali pengakuannya."Lalu ada teman kampus yang sangat dekat sama aku, namanya Nana," lanjut Teja tenang."Eh tunggu, Ja. Nana yang penyanyi terkenal itu?!" potong Sari mendadak menatap wajah Teja dengan mata membelalak heran."Iya, dia justru yang mengambil keperjakaanku dulu," sahut Teja terkekeh pelan."Wah keren abis. Kamu luar biasa sampai bisa naklukin penyanyi terkenal secantik Nana. Terus, siapa lagi, Sayang?" Sari s
Teja mendorong lutut Sari dan memanggul pergelangan kaki Sari di pundaknya. Posisi menanjak itu membuat area panggul sang janda muda terlihat sangat ideal hingga seluruh celah kewanitaannya terbuka tanpa halangan.Dengan begitu, bentukan bokong dan liang merekah Sari menjadi tersembul menghadap tepat di depan milik Teja yang sudah siap untuk mengarunginya lagi. Pemandangan eksotis itu memancarkan kilau pelicin alami yang merefleksikan cahaya lampu ruangan.Sari menahan napas karena posisi ini jelas akan membuat milik Teja yang super-super besar dan panjang itu melesak jauh lebih dalam. Manik matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah bercampur sedikit kecemasan akan kedalaman tusukan yang akan ia terima.Teja mendorong keras pinggulnya! Benda berukuran monster itu langsung mendesak kuat mengisi milik Sari yang tidak lagi terhalang paha. Tusukan itu menerobos lurus tanpa hambatan hingga menumbuk dasar terujung dari rahim sang instruktur senam."Ohh, Ja. Ini posisi paling ekstrem. Ras
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







