แชร์

27. Saling Menghukum

ผู้เขียน: Leva Lorich
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-10 11:43:29
"I-itu tadi refleks, Bu. Soalnya kan Bu Septa naik tangga pas ada di depan saya," jawab Teja terbata-bata, mencoba membela diri dengan alasan yang logis sembari berusaha mengalihkan pandangannya dari belahan gaun satin ungu yang begitu dekat.

Septa menggelengkan kepalanya dengan cepat, senyum godanya semakin melebar melihat kegugupan pemuda di hadapannya. "Aku nggak nerima alesan!"

"La-lalu gimana dong ini, Bu?" tanya Teja pasrah, merasa sudut kamarnya tiba-tiba terasa sangat sempit.

"Ya..
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   44. Masih Ada Juga!

    Teja sedikit terkejut mendengar permintaan Nana yang tiba-tiba ingin memegang kendali di atas tubuhnya.Nana tersenyum manja, lalu dengan sisa tenaganya ia membalikkan posisi hingga kini duduk di atas perut Teja.Rambut panjang Nana yang sedikit berantakan terurai ke depan, menambah kesan seksi pada penampilannya malam itu.Teja hanya bisa pasrah dan menatap keindahan tubuh gadis di atasnya yang kini mulai bergerak meraba dadanya."Kamu siap, Jo? Aku bener-bener udah nggak tahan lagi," bisik Nana dengan napas yang kembali memburu hebat.Teja mengangguk pelan, membiarkan Nana menuntun sendiri permainan panas mereka.“Hati-hati, Na. Jangan terlalu menggebu, soalnya punyaku terlalu besar. Nanti bisa bahaya buat milik kamu!“ pesan Teja memberikan perhatian.Nana perlahan menggeser duduknya ke bawah, mengarahkan pusat miliknya tepat di atas milik Teja yang sudah menegang tegak seperti pohon jati raksasa.Saat ujung milik Teja yang berukuran raksasa itu menyentuh celahnya, Nana seketika ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   43. Masih Kurang

    Mendengar respon Nana yang begitu menyukainya, Teja tentu saja semakin bersemangat.Tak hanya lidah, kini bibirnya mulai terkembang dan mulai menerjang labia mayora Nana yang sudah sangat basah itu.“Hoemmhhh, hemmm.“Lidahnya menjulur kaku menyeruak di dalam celah merah merona milik Nana!“Jooo. Ohhhh shhhh ahhhhh,” suara lenguhan Nana meledak, sangat tinggi hingga menggema di dalam kamarnya.Gerakan pinggul Nana pun semakin liar karena rangsangan yang diberikan Teja melalui lidah dan bibirnya.Pinggul itu bergeser resah ke kiri dan kanan, sesekali terangkat naik mengejar pergerakan bibir Teja. “Uhhh, Jooo,” mata Nana terpejam erat menikmatinya.Demi melihat gelora tersebut, Teja juga merasa gairahnya meningkat drastis.Ia pun tanpa menunda lagi segera menghadirkan jari tengahnya untuk membantu pekerjaan lidah dan bibir yang sedang bekerja keras pada lubang berlendir wangi Nana SLOPPP!“Ohh, Jooo!“ teriak Nana saat jari Teja menerkam masuk, mengorek sisi dalam dari lorong basahnya.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   42. Lepas Dari Pengaruh

    “Kenapa, Jo, kaget ya?“ senyum lembut Nana kembali terulas di bibirnya, namun tetap saja senyuman itu mengandung napas hasrat yang kian meninggi.Napas Nana yang semakin panas tersebut menerpa selaksa kulit perut Teja yang terbuka, membuat pria berambut panjang itu sedikit menggelinjang geli.“Lanjutkan saja, Na. Biar pengaruh obat itu bisa cepet hilang,” jawab Teja berusaha meredakan kembali rasa terkejutnya.Tanpa diminta untuk kedua kalinya, Nana langsung bergerak turun, memposisikan wajahnya tepat di hadapan monster milik Teja yang masih terbungkus celana dalam hitam.Meski masih terbungkus ketat oleh celana dalam tersebut, milik Teja yang berukuran luar biasa besar itu tetap tercetak jelas di sana. Bahkan, karena tak muat lagi, ujung kepala miliknya yang seperti jamur raksasa terlihat menyembul dari celah karet bagian atas celana dalam.Tubuh Nana yang masih terpengaruh obat afrodisiak semakin gemetar menatap benda itu dari jarak yang sangat dekat. Hingga kemudian—Cupp!“Ehmmahh

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   41. Menolongnya

    “Mereka sudah diamankan, Tang?“ tanya Teja ketika mobil sudah melaju cepat menuruni arega pegunungan tersebut.“Beres, Bos. Enam orang sudah dibawa anak buah kita ke markas. Siap menunggu instruksi Bos Teja selanjutnya,” jawab Bintang sembari tetap fokus mengemudi.Mobil semakin melesat cepat memasuki kota di bawah kendali Bintang yang ternyata sangat mahir mengemudi.“Tang, tolong arahkan mobil ke rumah Nana dulu. Setelah itu tolong kamu antarkan Citra pulang ya,” perintah Teja penuh ketegasan.“Baik, Bos,” jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aspal di depan mereka.Tak lama kemudian mobil sudah tiba di depan rumah Nana. Teja segera menuntun Nana masuk ke rumahnya tersebut, sedangkan Bintang kembali melajukan mobil untuk mengantar Citra pulang.“Bawa, aku langsung ke kamar, Jo. Orang tuaku nggak ada di rumah. Mereka sering banget ke luar kota,” lirih Nana bernada kecewa karena kurangnya perhatian kedua orang tuanya.Teja mendudukkan Nana di ranjang kamarnya, kemudia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   40. Membawa Pulang

    Nana dan Citra terbelalak kaget. Mereka tak menyangka jika skenario Leon dan Marcel akan sebejat ini!“Ja-jangan, jangan mendekat! Aku nggak mau!“ susah payah Nana melontarkan kalimatnya dalam deraan rasa ingin yang kian menjalari tubuhnya. Jantung sudah berdegup sangat kencang.“Tolong, ampun. Jangan kayak gini!“ imbuh Citra yang tak kalah memerah wajahnya terdesak hasrat.Mereka berdua baru menyadari jika es buah yang mereka minum tadi nampaknya telah dicampurkan obat afrodisiak oleh dua pria tak tahu diri tersebut.Meski mendengar teriakan itu, Leon dan Marcel masih diam tak bergerak. Hanya tangan mereka yang kini bergerak mengelus milik masing-masing yang sudah mengembang di balik celana dalam sembari menatap mesum ke arah Citra dan Nana.“Terus saja silakan menolak. Nggak lama lagi kalian bakal sepenuhnya menggelepar dan justru meminta-minta sama kami, hehe,” suara Marcel menyeruak di dalam keheningan kamar vila itu yang entah kenapa justru terdengar begitu seksi di telinga Nana

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   39. Pesta Gila

    Bab 39TINN!TINN.Leon menekan klakson beberapa kali saat mobilnya mendekati sebuah vila besar yang letaknya sedikit terpisah dari kumpulan vila lainnya.Pintu pagar tinggi langsung terbuka begitu saja, memudahkan mobil mewah Leon memasuki carport vila tersebut.Di belakang sana, dua penjaga kembali menutup pintu pagar itu dengan sigap dan waspada.“Yon, kok sepi? Katanya temen-temen SMA kita bakal datang ke sini?“ perasaan Nana semakin tak enak.“Belum datang kayaknya, Na. Santai aja, nanti juga dateng sendiri. Turun yuk,” jawab Leon santai sembari membuka pintu mobilnya.Meski enggan dan ragu, Nana tetap memberanikan diri untuk turun dan mengikuti langkah Leon masuk ke dalam vila.Begitu mereka tiba di dalam sana, seorang pria lain menyambut dengan riang.“Ahhh, akhirnya si cantik Nana juga dateng. Makin seru nih pesta kita nanti,” sambut Marcel dengan senyum terkembang.Tak hanya itu, dari pintu toilet keluar sosok Citra, sahabat Nana.“Lho, Ci. Kamu sudah dateng juga rupanya?!“ s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status