로그인Baru melangkah beberapa meter, tiba-tiba dari atas atap gua yang mereka lalui tadi terlihat sesuatu yang bergerak melompat ke arah mereka. Bayangan hitam raksasa memotong pendar cahaya bulan di langit malam dengan kecepatan yang sangat mengerikan."Berpencar!" teriak Teja. Teja secepat mungkin mendorong tubuh Linda dan Panda secara bersamaan ke arah kanan.Semua ikut bergerak cepat. Bintang dan Pedro melompat sigap ke arah kiri, sementara Teja berguling di atas tanah basah untuk menghindari dampak benturan maut tersebut.Sesuatu yang besar tadi tiba di tanah dengan begitu keras hingga menimbulkan suara berdebam dan memicu ledakan debu serta pasir ke segala arah.Hantaman bobot luar biasa itu menciptakan getaran hebat yang menggoncang permukaan tanah di sekitar telaga seperti gempa lokal.Saat debu mulai menghilang, semua ternganga. Sulur sinar rembulan yang menerobos di antara sela-sela ranting pohon purba memperlihatkan siluet hewan berbulu tebal yang berdiri tegap di hadapan mere
Namun, sebelum mereka melanjutkan, tiba-tiba terdengar suara geraman keras dari sisi gua yang lebih dalam. Suara menggema itu begitu nyaring dan berat, memantul di antara dinding-dinding batu yang lembap.Keduanya segera terjaga dan kembali merapikan pakaian masing-masing. Panda bergerak amat cepat menarik naik celana seragamnya, sementara Teja dengan sigap membetulkan celana serta sabuknya."Suara apa itu, Ja?" tanya Panda sangat kaget. Gadis oriental itu berdiri di samping Teja sembari menatap tajam ke arah kegelapan lorong bagian dalam gua."Entahlah, Nda. Aku udah nyoba ngeraba pakai mata batin tapi kayak kehalang dinding tebal, nggak bisa nembus. Energi Qi tingkat dua-ku masih kurang tinggi buat nembus lebih jauh," aku Teja jujur. Ia mengusap dadanya sembari menajamkan kembali inderanya, namun sayangnya tetap tidak membuahkan hasil.Teja segera meraih obor di dinding gua dan mendekat ke arah dinding bagian dalam gua itu. Pendar cahaya keemasan menerangi dinding batu tebal ya
"Kan cuma tanya aja, apa salahnya?" jawab Teja tanpa merasa bersalah. Ia menyunggingkan senyum tipis sembari menatap gemas ke arah Panda yang sedang merengut."Yang salah itu pilihan sikonnya, Tejaaa! Orang lagi konsentrasi enak kok digodain mulu," cebik Panda. Gadis berkulit super putih itu mengerucutkan bibirnya diliputi perasaan tak nyaman.Teja tak menanggapinya dengan kata-kata melainkan langsung melakukan hentakan dari bawah dengan begitu bertenaga dan cepat. Ia mengangkat pinggulnya secara mendadak, menembus lorong sempit Panda hingga batas maksimal yang sanggup ditampung oleh tubuh gadis itu.Panda yang awalnya cemberut seketika terbelalak hebat. Seluruh otot tubuhnya menegang kaku menerima desakan mendadak yang begitu padat dan berisi dari arah bawah."Tejaa! Ohhh!" pekiknya nyaring memenuhi ruangan. Jeritan nikmat itu memantul di dinding-dinding batu gua, mengikis habis sisa-sisa kedongkolan yang baru saja ia rasakan.Teja pura-pura tuli dan terus melakukan gempuran brut
Panda tersenyum lembut bercampur sensual, kemudian mulai menarik kembali tubuhnya ke atas. Gerakan perlahan itu membuat gesekan basah berbunyi nyaring di dalam keheningan gua batu yang dingin.Saat menghujam kembali ke bawah, tangannya sengaja turun ke bawah untuk membantu. Jemari lentiknya menyentuh area pangkal kewanitannya yang kini meregang hebat menampung batang tebal milik Teja.Namun seketika Panda terkejut mendapati keanehan yang terjadi. Ia menahan sentuhan tangannya di pangkal paha Teja sembari matanya membelalak lebar mendapati kelangkaan yang ia temui."Ja, ini di aku udah mentok parah, tapi punyamu ternyata baru masuk separo! Edan bener ukuran ini, Ja. Oh-oh," lenguhnya sembari semakin bersemangat melakukan gerakan ke bawah kembali.Teja terkekeh pelan mendengar ungkapan jujur dari gadis oriental tersebut. Pria berambut panjang itu menatap lekat raut wajah Panda yang kian memerah merona."Ukuranku emang terlalu gitu, Nda. Aku bahkan sampai khawatir bakal menyusahkan kam
Cahaya obor yang menerpa kulit tubuh Panda yang begitu putih bersih membuat nuansa keindahan yang begitu eksotis di mata Teja. Pendar keemasan dari nyala api menari-nari di atas lekuk tubuhnya yang mulus tanpa cela.Sensasi baru sangat terasa saat menikmati keindahan tubuh Panda tersebut di alam liar dan dengan pencahayaan seadanya. Suasana gua batu yang sunyi di tengah lebatnya Hutan Camar Hitam kian menambah gairah di antara mereka berdua.Panda melangkah mendekat dan langsung kembali mengangkangi tubuh Teja. Gerakannya sangat gemulai saat ia menyeimbangkan posisi berdirinya di atas pangkal paha pria berambut panjang tersebut.Ia menggesekkan celah miliknya dengan milik Teja yang masih terhampar panjang di atas perut. Sentuhan hangat dan lembap itu seketika memicu getaran heboh yang menyengat saraf di ujung labia mayora miliknya.Gerakan Panda beranjak menghentak, mengundang lelehan pelumas alami membasahi batang Teja. Gesekan teratur itu melumuri seluruh permukaan kulit tebal milik
"Panda, kamu kenapa?!" tanya Teja kaget mendapati Panda yang berubah sangat agresif. Pria berambut panjang serta berwajah tampan itu menahan kedua bahu Panda yang mendadak menindih tubuhnya dengan begitu erat."Tolong aku, Ja. Aku panas banget ini," pinta Panda. Suaranya terdengar parau dan serak, sementara manik matanya meredup sayu diliputi hawa gairah yang menyelimuti tubuhnya."Tunggu, Nda. Bukankah itu tadi racun pelemah tulang? Bukan racun perangsang, kan? Mana bisa bikin hasratmu jadi naik begini?!" bantah Teja. Teja menggeleng heran menatap perubahan sikap gadis oriental di atasnya yang begitu bernafsu tersebut."Badanku tadi menggigil kena dinginnya racun itu, Ja. Begitu sembuh, ternyata hawa hangat yang mendadak masuk langsung merangsang semua sarafku," Panda menjelaskan apa yang ia rasakan pada tubuhnya. Napas Panda memburu halus, menyapu kulit leher Teja dengan sensasi panas yang membakar saraf kelaki-lakinya."Tapi, gimana kalau Linda atau dua anak buahku tadi balik?"
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.







