تسجيل الدخولSetelah Dokter Reynard benar-benar pamit dan Aldrick serta Lucien keluar untuk mengatur para pengawal, rumah kembali sedikit tenang.Hanya tersisa aku, ayah, dan nenek di ruang tamu.Lalu tiba-tiba ayah membuka suara. “Ada satu hal yang menggangguku.”Aku menoleh ke arah ayah penuh minat sembari menunggu beliau bicara.Tatapan ayah perlahan beralih ke nenek. “Tadi aku dengar dokter itu bilang tentang kaum kami sampai dua kali. Apa maksudnya?”Tubuhku spontan menegang. Aku lekas menunduk, sementara nenek tetap terlihat tenang.“Kamu tahu semua masa lalu Elena,” ucapnya pelan. “Jadi kamu seharusnya juga tahu apa maksud dari ucapan itu.”Wajah ayah seketika berubah. Matanya membelalak dan mulai terlihat tidak tenang.“Jadi ...,” Suaranya mengecil, “Ayah dari janin ini adalah—”Beliau tidak melanjutkan ucapannya, tetapi nenek menjawabnya dengan anggukan pelan. Tatapannya tajam lurus ke arah ayah, seolah keterkejutan itu sama sekali tidak mengubah apa pun baginya.Ruangan mendadak terasa s
Aku duduk diam di tepi ranjang sementara Dokter Reynard memeriksa kandunganku dengan alat medis yang belum pernah kulihat sebelumnya.Ruangan terasa sangat sunyi. Hanya ada suara detak halus dari alat itu dan hembusan angin dari luar jendela.Nenek berdiri tidak jauh dariku dengan wajah tenang seperti biasa. Sulit sekali menebak apa yang sedang dipikirkannya.Sementara itu, Dokter Reynard terlihat fokus sejak tadi. Sesekali keningnya berkerut saat menatap layar di tangannya. Dan entah kenapa, itu membuatku mulai gugup.“Dokter,” panggilku pelan. “Apa ada masalah?”Pria itu tidak langsung menjawab. Tangannya masih bergerak perlahan di atas perutku, seolah sedang memastikan sesuatu.Lalu beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba terdiam. Benar-benar diam.Tubuhku seketika menegang.“Ada apa?” tanyaku cepat. “Bayiku kenapa?”Dokter Reynard mengangkat pandangannya perlahan ke arahku. Sorot matanya terlihat aneh. Seperti terkejut, namun juga ragu.“Ini … cukup luar biasa,” gumamnya pelan.Jant
Keesokan paginya, cahaya matahari baru saja menembus sela pepohonan pinus ketika pintu kamar Fay terbuka perlahan.Hendra yang sedang duduk di ruang tamu spontan menoleh. Dan untuk sesaat, pria itu benar-benar terlihat terkejut.“Fay?”Putrinya berjalan pelan menghampirinya dengan pakaian rumah sederhana berwarna krem. Wajahnya masih terlihat pucat, bahkan ada kantung tipis di bawah matanya akibat kurang tidur semalaman.Namun, ia tampak jauh lebih baik dibanding tadi malam. Tidak lemas, juga tidak kesakitan. Bahkan langkahnya terlihat stabil.Fay tersenyum kecil. “Kenapa menatapku seperti itu?”Hendra cepat-cepat mengalihkan ekspresinya lalu terkekeh pelan. “Ayah cuma kaget kamu sudah bangun sepagi ini.”“Kalau terus di kamar aku malah bosan.”“Bagus kalau begitu.” Hendra menarik kursi untuknya. “Duduk dulu.”Fay duduk perlahan sambil mengusap perutnya.“Ayah terlihat seperti belum tidur,” gumamnya memperhatikan wajah pria itu.Hendra mendengkus pelan. “Karena seseorang membuat semua
Brak!Pintu rumah kayu itu terbuka keras hingga menghantam dinding. Aldrick dan Lucien bergerak masuk hampir bersamaan dengan kecepatan yang membuat udara di dalam rumah langsung berubah tegang.Aura keduanya menekan kuat, penuh kewaspadaan, seolah siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh target yang mereka lindungi.“Nona Fay!” Suara Aldrick terdengar tajam dan tegas.Sementara Lucien langsung menyapu seluruh ruangan dengan mata predatornya, memperhatikan meja, cangkir teh, posisi duduk setiap orang, hingga aroma asing sekecil apa pun di udara.Di tengah kepanikan itu, Fay masih duduk sambil memegangi perutnya erat. Napasnya memburu, wajahnya sedikit pucat akibat nyeri yang tadi menghantam mendadak.Hendra yang berada di sampingnya langsung meraih pundaknya dengan wajah penuh kekhawatiran.“Fay?” panggilnya cepat. “Apa yang kamu rasakan?”Sang nenek tidak ikut panik. Wanita tua itu hanya diam dengan sorot mata yang sulit ditebak.“Tarik napas panjang, Fay,” ucapnya tenang. “Lalu
Brak!Sebuah gelas kristal menghantam dinding kamar VVIP hotel dan pecah berkeping-keping di atas lantai.Aaron berdiri dengan napas berat di tengah ruangan mewah yang dipenuhi cahaya kota Singapura dari balik jendela kaca. Rahangnya mengeras kuat, sementara urat di lehernya tampak menonjol.Malam semakin larut, namun kegelisahannya justru semakin memuncak. Ia sudah mondar-mandir tanpa henti sejak menerima kabar tadi siang bahwa pertemuan bisnis dengan investor itu ditunda sampai besok pagi.Dan itu membuat emosinya semakin buruk.“Apa-apaan ini...,” geramnya rendah.Biasanya Aaron adalah tipe pria yang mampu mengendalikan segalanya dengan kepala dingin. Bahkan dalam perang antar klan sekalipun, ia jarang kehilangan kontrol seperti ini.Namun malam ini berbeda.Karena Fay tidak berada dalam jangkauannya.Pikiran itu terus menghantam kepalanya tanpa ampun. Tatapan Aaron turun ke ponselnya yang sejak tadi sunyi. Tidak ada pesan dari Fay. Tidak ada kabar apa pun. Lalu dalam beberapa deti
Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok yang sudah terbiasa melakukan hal-hal mengerikan tanpa keraguan demi bertahan hidup.Dari mulut botol, cairan bening itu menetes perlahan, jatuh tepat ke dalam cairan teh hangat milik Fay. Satu tetes. Hanya satu tetes. Cairan itu langsung menyatu tanpa mengubah warna ataupun aroma teh sedikit pun.Hanya butuh satu tetes. Jumlah yang sangat sedikit, namun dampaknya akan sangat fatal untuk menghancurkan hidup Fay, sekaligus membunuh janin yang sedang dikandungnya.Hendra segera menutup kembali botol itu dengan gerakan cepat, menyembunyikannya kembali ke dalam saku jaket tebalnya, tepat sebelum suara langkah kaki sang nenek terdengar mulai mendekat kembali dari arah dapur.Dalam sekejap mata, e







