로그인“Bukankah itu Aaron? CEO yang beberapa waktu terakhir sering muncul di berita bisnis?”“Benar! Aku mengenalinya. Aku pernah melihat fotonya di majalah.”“Jadi, wanita yang bersamanya itu istrinya?”“Sepertinya begitu. Aku dengar dia baru menikah beberapa bulan lalu.”Aku berusaha tetap fokus pada pakaian di tanganku, tetapi percakapan mereka masih terdengar cukup jelas.Wanita yang mengenakan gaun bermerek itu kemudian melirik ke arahku, lalu kembali memandang Aaron.“Dia tampak sangat berbeda ketika bersama istrinya. Aku pernah melihatnya dalam sebuah acara bisnis. Wajahnya begitu dingin sampai nggak ada seorang pun yang berani mendekatinya.”Temannya terkekeh pelan. “Kalau aku menjadi istrinya, aku juga nggak akan keberatan memiliki suami setampan itu.”Aku hampir tersedak mendengar ucapan tersebut.Aaron, yang rupanya juga mendengarnya, justru mendekatkan wajahnya ke telingaku.“Sepertinya aku cukup populer hari ini.”Aku mencubit lengannya pelan. “Jangan besar kepala.”“Aku hanya
Keesokan paginya, aku akhirnya memberanikan diri menyampaikan keinginanku kepada Aaron.“Aaron, apa hari ini kamu punya waktu luang?”Suamiku yang sedang menikmati sarapan bersamaku langsung mengangkat wajah. Arsen berada di kursi bayi di samping kami, sibuk memainkan sendok kecil yang sengaja diberikan pelayan untuk mengalihkan perhatiannya.“Untuk apa, Sayang?” Aaron meletakkan cangkir kopinya. “Kamu ingin pergi ke suatu tempat?”Aku mengangguk, berusaha menahan senyum yang sejak tadi ingin merekah di bibirku.“Aku ingin pergi berbelanja.”Aaron terdiam sesaat.“Berbelanja?” ulangnya, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.Aku mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu nggak mau menemaniku?”“Bukan begitu.” Senyum Aaron langsung mengembang. “Aku hanya sedang memastikan bahwa istriku benar-benar mengajakku berkencan.”Aku spontan tertawa kecil. “Siapa yang bilang ini kencan? Aku hanya ingin berbelanja.”“Kalau begitu, aku akan menganggapnya sebagai kencan belanja.” Ia meraih
Dengan Arsen dalam gendongannya, Aaron meninggalkan kamar dan berjalan menuju rumah kaca.Ia sudah menduga Fay berada di sana. Sejak beberapa waktu terakhir, rumah kaca menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi istrinya. Di antara tanaman dan bunga yang dirawat dengan penuh perhatian, Fay bisa menghabiskan waktu tanpa harus menghadapi terlalu banyak pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya.Ketika Aaron tiba di depan rumah kaca, dugaannya terbukti benar.Fay berada di dalam, berdiri di dekat salah satu rangkaian tanaman berbunga. Cahaya matahari yang menembus kubah kaca menyinari wajahnya, tetapi tidak mampu mengusir kesedihan yang masih membayang di sana.Tatapannya kosong.Tangannya terulur menyentuh sehelai daun, tetapi gerakannya terhenti begitu saja. Ia seolah sedang berada di tempat itu secara fisik, sementara pikirannya entah melayang ke mana.Langkah Aaron melambat. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar.Pemandangan itu bukan sesuatu yang ba
Dua bulan setelah acara pesta pernikahan Aaron dan Fay, semuanya berjalan seperti yang dikehendaki. Sejak mendapat peringatan dari Edward, sampai detik ini Tetua Marcus tidak berani bergerak. Ia tidak melakukan apa pun, setidaknya untuk saat ini. Marcus memilih bermain aman sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk melanjutkan rencananya.Sementara itu, di kediaman pribadi Aaron, suasana justru semakin diliputi ketegangan dan kesedihan.Tim pencari yang dipimpin langsung oleh Aldrick, Sang Beta, belum berhasil menemukan keberadaan Hendra. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi setelah melarikan diri dari hotel.Aldrick berdiri di hadapan Aaron dengan sikap tenang. Sebagai Beta, ia memahami bahwa kegagalan menemukan Hendra bukan sekadar masalah kehilangan jejak seorang buronan. Ada kemungkinan pria itu telah mempersiapkan pelariannya jauh sebelum insiden di hotel terjadi.“Tuan, kami telah memeriksa seluruh jalur yang memungkinkan Hendra melarikan diri, termasuk meminta keterangan d
Fay menatap Aaron dengan pandangan kabur oleh air mata. Untuk sesaat, ia seolah ingin mempercayai bahwa jawaban suaminya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Namun, ketika pikirannya kembali pada belati yang nyaris mengenai kepalanya, rasa sakit itu kembali muncul.Fay perlahan melepaskan pelukannya.Ia menggeleng sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.“Nggak, Aaron. Aku nggak bisa menerima alasan seperti itu.”Aaron membiarkan kedua tangannya turun, tetapi ia tetap berdiri dekat dengan istrinya. “Aku tahu kamu sedang terluka, Fay.”“Bukan hanya karena aku terluka!” Fay menatapnya dengan mata merah. “Aku nggak peduli apa pun yang sedang Ayah hadapi. Kalau dia memiliki masalah, dia bisa membicarakannya dengan kami. Kalau ada sesuatu yang membuatnya marah, dia bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”Suaranya bergetar, tetapi kali ini ada ketegasan yang mulai muncul di antara kesedihannya.“Dia nggak harus menyerang Arsen. Dia nggak harus melemparkan belati ke arahku
Begitu merasakan kehangatan tubuh Aaron, seluruh pertahanan yang sejak tadi menahannya seketika runtuh.Tangis Fay pecah.Bukan lagi isakan tertahan, melainkan tangisan keras yang keluar bersama seluruh ketakutan, kebingungan, dan kepedihan yang tidak sanggup ditanggungnya seorang diri.“Aaron....”Ia memanggil suaminya lagi, tetapi suaranya terputus oleh isakan.Aaron segera merengkuhnya lebih erat. Satu tangannya menopang punggung Fay, sementara tangan lainnya membelai rambutnya dengan gerakan perlahan.“Tenanglah, aku sudah di sini.” Suara Aaron terdengar rendah dan lembut, jauh berbeda dari nada dingin yang digunakannya saat memberikan perintah kepada para prajurit. “Kamu nggak sendirian, Sayang.”Namun, kalimat itu justru membuat tangis Fay semakin keras.“Aku nggak ngerti, Aaron. Aku benar-benar nggak ngerti!” Fay menggeleng berkali-kali di dada suaminya. “Ayah ... kenapa Ayah melakukan itu kepada kami? Kenapa?”Aaron tidak menyela.Ia membiarkan istrinya mengeluarkan seluruh pe
"Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu
Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank
Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela."Fok
Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil







