تسجيل الدخولPintu ruang tamu panti terbuka pelan. Bu Siti menuntun seorang anak kecil keluar. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong asal, baju kebesaran melorot di bahu. Tapi matanya... matanya sama persis dengan mataku waktu kecil.
Jantungku berhenti sedetik. Napasku tercekat di tenggorokan. Itu Azka. Tujuh tahun aku membayangkan wajahnya dari foto USG yang pudar. Tujuh tahun aku mengarang-ngarang bentuk hidungnya, bentuk dagunya. Tapi tidak ada yang sama dengaAku ingin berlari menghampiri mereka secepat mungkin. Namun kakiku terasa berat seakan terpaku di lantai. Rey menahan bahuku pelan namun mantap. “Percayalah kepada Ayah, Rin. Tetaplah tenang.”Dari kejauhan aku memperhatikan Ayah berdiri tegak. Wibawa dan ketenangannya tak pernah berubah—pria yang tak banyak berbicara, namun sekali bersuara semua orang akan diam mendengar. Ayah melangkah mendekati Maya dengan tenang. Suaranya rendah namun tegas dan berwibawa. Aku tak mendengar jelas apa yang diucapkannya. Hanya melihat bibir Ayah bergerak pelan, lalu tangannya terulur menarik perlahan pergelangan tangan Denis, memisahkan anak itu dari genggaman tangan Maya.Maya pun berdiri. Bahunya naik turun tak beraturan menahan emosi. Lalu, di hadapan puluhan pasang mata tamu yang sedang memperhatikan…Ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai marmer yang licin dan mengkilap.Dengan suara lantang dan penuh tangis yang dibuat-buat, ia membungkuk rendah sea
Aku tak pernah sekalipun membayangkan pernikahanku akan terasa seindah ini. Gaun yang kupilih jatuh sempurna menuruni lekuk tubuhku. Setiap jahitan payet halusnya menangkap cahaya lampu gantung yang berkilau lembut, lalu memantulkannya kembali bagai kunang-kunang yang turun berjatuhan. Pelaminan menjulang anggun berbalut kain putih bersih berpadu dedaunan hijau segar, dihiasi rangkaian bunga eustoma dan mawar putih yang harumnya samar namun menenangkan hati. Tidak berlebihan. Tidak mencolok mata. Persis seperti apa yang selalu kuimpikan dalam diam,sewaktu aku masih terbaring di kamar kos sempit dulu: sederhana, elegan, dan terasa begitu hangat. Barisan kursi tamu terisi penuh. Suara tawa, bisik-bisik penuh haru, dan alunan lagu romantis yang dinyanyikan langsung berpadu menyatu. Penyanyinya ternyata teman kuliah Rey dulu. Suaranya merdu dan menyentuh hingga ke relung dada, membuat mata para tamu yang hadir berkaca-kaca terharu. Di sampingku, Rey berdiri tegap dan tenang. Jas hit
Jam tiga dini hari, layar HP-ku padam. Foto Azka yang meringkuk di kasur tipis panti itu menolak pergi dari kepalaku. Tubuhku rebah, tapi pikiranku terjaga. Hanya dua jam aku memejam. Itu pun gelisah.Pagi baru mau menyapa, gawai di meja bergetar. Nama Rey terpampang. “Foto prewedding sudah jadi, Rin. Undangannya akan disebar hari ini.” Suaranya tenang, datar seperti biasa. Tapi aku tahu, di ujung sana dia tersenyum.Aku menjawab dengan suara serak yang belum bangun sempurna. “Hm… iya.” “Kenapa suaramu begitu? Begadang semalaman?” Aku menarik selimut hingga ke dagu. “Tadi malam ada yang mengirim foto, Rey.” Hening sejenak di seberang sana. Lalu dia berkata pelan, “Jangan dipedulikan. Jika dia berbuat lebih dari itu, kita siap melapor.” “Rey…” bisikku, “jaga kesehatanmu. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena terlalu banyak memikirkan kami.” Hanya “iya” lirih yang
Dua hari berlalu. Ponselku bergetar pelan. Pesan masuk dari Tania. “Rin, ini alamat Butik Salsa yang kemarin kita bahas. Sekalian datang ya buat cobain gaun pengantin, sekalian kita makan bareng. Anak-anak sudah aku suruh Alif jemput ke rumah Ayahmu, jadi kita bertiga saja sama Rey. Aku butuh waktu mengobrol bareng kamu." Aku sangat membutuhkannya. Butuh jeda sejenak. Butuh menarik napas panjang dari segala kekacauan yang ditimbulkan oleh Maya. Aku pun membalas: “Oke Sampai di sana jaml sebelas ya, Tan.” Di butik itu, aku mengenakan gaun Sage green yang lembut. Kainnya jatuh anggun membentuk siluet tubuh, model sederhana namun terlihat begitu elegan. Dari balik tirai penutup, suara Tania terdengar riang memuji. “Cantik banget kamu Rin! Rey pasti kelepek-klepek!” Belum selesai aku menata gaun itu, pintu butik terbuka. Rey datang membawa kantong belanjaan. “Cantik sekali kamu Rin.” "Makasih, Rey," jawabku. "habis dari
Denis, akhirnya anak itu mulai berani menceritakan apa yang terjadi. Aku bersiap mendengarkan nya. “Denis… Denis mau bercerita, Mamah. Tante Maya bilang…” Suara Denis pecah sebelum kalimatnya selesai. Dia menunduk dalam, bahu kecilnya bergetar hebat menahan tangis yang tak kunjung meluap. Ruangan seketika hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding yang berputar pelan. Aku duduk di tengah, Rey di sebelah kananku, sementara Azka memeluk lengan kakaknya erat dari samping. Kami menunggu. Tak ada yang mendesak, tak ada yang memaksa. Hanya memberi ruang agar keberaniannya tumbuh sedikit demi sedikit. Denis menarik napas panjang, seakan mengumpulkan seluruh kekuatan yang dia miliki. Saat mendongak, matanya sudah basah berkaca-kaca. “Tante Maya bilang… Denis bukan anak kandung Mamah. Bahwa Mamah lebih menyayangi Azka karena Azka lahir dari rahim Mamah sendiri.” Rasanya seakan ada pisau tajam yang ditarik perlahan melintasi dadaku. Saki
Dua hari telah berlalu sejak Denis bertanya pelan, “Mamah… kalau anak sudah tumbuh besar, apakah bisa diusir dari rumah?” Dua hari itu terasa seakan dua tahun lamanya. Denis masih tampak murung, masih banyak diam, dan sering terlihat melamun di meja makan seakan terpisah dari dunia di sekelilingnya. Pertanyaan itu sesekali kembali terngiang di telingaku, menusuk pelan namun terus-menerus bagai jarum yang tak pernah patah. “Aku tak bisa lagi berdiam diri,” ucapku lirih kepada diri sendiri pagi itu. Aku tak ingin menunggu hingga Denis bersedia bercerita atas kemauannya sendiri. Aku tak ingin membiarkan racun yang ditanamkan Maya semakin menyebar, semakin berakar kuat di hati kecilnya, hingga kelak tak sanggup lagi kucabut. Hari ini aku harus mencari jawabannya sendiri. Pukul delapan pagi aku sudah duduk di warung tak jauh dari gerbang sekolah. Sebuah laptop terbuka di meja, secangkir teh hangat dan sepotong roti bakar tersaji di







