เข้าสู่ระบบPukul 07.00 pagi, notifikasi WhatsApp masuk dari Rey. Pesannya singkat, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Rey: "Ririn, hari ini kami mengurus penetapan hakim ke Dinas Sosial dan tiga panti asuhan terbesar di kota ini. Target kami: bayi laki-laki dengan berat badan 3,2 kg yang masuk tanggal 12-20 Agustus 2019. Bidan Sri ikut bersama kami. Doakan, ya."Aku membalas sambil menemani Denis sarapan bubur ayam. "Baik, Rey... Hati-hati di jalan. Aku di rumah sajaMalam perlahan turun, membawa kedamaian yang sempat terasa jauh sepanjang hari yang panjang ini. Gaun pengantin yang tadi siang begitu indah kini sudah kuganti dengan pakaian rumahan berwarna biru tua yang sederhana. Riasan yang melukis wajahku dengan cantik tadi sudah dibersihkan hingga bersih kembali, menyisakan wajahku yang polos dan segar. Setelah menata diri, aku melangkah menuju ruang makan, tempat di mana aroma masakan hangat menyambut kedatanganku. Begitu pun dengan Rey. Pria yang kini telah resmi menjadi suamiku duduk di kursi tepat di sampingku, menatapku dengan tatapan lembut yang tak pernah berubah sejak pagi tadi. Tanganku bergerak menyendokkan nasi ke piringnya, lalu mengambilkan beberapa jenis lauk — setelah sebelumnya aku bertanya dengan lembut hidangan apa saja yang ia inginkan. "Terima kasih!" ucapnya, sambil menatap ke arahku dengan senyum yang hangat menyentuh hatiku. "Sama-sama." Aku pun menyendokkan nasi untuk d
Hatiku terasa perih tersayat. Begitu mudah sekali Maya memutarbalikkan keadaan dan mengaku sebagai pihak yang paling menderita. Selalu memelas mencari belas kasih.“Lalu apa lagi yang dia katakan, Nak?” tanyaku berusaha menahan agar suaraku tak ikut bergetar.Denis perlahan mendongak. Setetes air mata mulai jatuh membasahi pipinya, lalu menyusul tetesan berikutnya. “Tante Maya bilang… kalau Denis mau tinggal bersamanya, dia berjanji tak akan lagi merasa kesepian dan sakit. Dia juga berjanji akan memberikan kamar yang indah untuk Denis. Banyak mainan. Ada pendingin ruangan. Dan dia berjanji tak akan pernah meninggalkan Denis seperti… seperti dulu.”Kata-kata terakhir itu terasa tajam bagai pisau tumpul yang melukai pelan namun dalam. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang untuk menahan rasa sakit yang menyergap dada.“Namun Tante Maya meminta satu hal sebagai syarat,” lanjut Denis dengan suara nyaris tak terdengar. “Dia menyuruh Den
Aku ingin berlari menghampiri mereka secepat mungkin. Namun kakiku terasa berat seakan terpaku di lantai. Rey menahan bahuku pelan namun mantap. “Percayalah kepada Ayah, Rin. Tetaplah tenang.”Dari kejauhan aku memperhatikan Ayah berdiri tegak. Wibawa dan ketenangannya tak pernah berubah—pria yang tak banyak berbicara, namun sekali bersuara semua orang akan diam mendengar. Ayah melangkah mendekati Maya dengan tenang. Suaranya rendah namun tegas dan berwibawa. Aku tak mendengar jelas apa yang diucapkannya. Hanya melihat bibir Ayah bergerak pelan, lalu tangannya terulur menarik perlahan pergelangan tangan Denis, memisahkan anak itu dari genggaman tangan Maya.Maya pun berdiri. Bahunya naik turun tak beraturan menahan emosi. Lalu, di hadapan puluhan pasang mata tamu yang sedang memperhatikan…Ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai marmer yang licin dan mengkilap.Dengan suara lantang dan penuh tangis yang dibuat-buat, ia membungkuk rendah sea
Aku tak pernah sekalipun membayangkan pernikahanku akan terasa seindah ini. Gaun yang kupilih jatuh sempurna menuruni lekuk tubuhku. Setiap jahitan payet halusnya menangkap cahaya lampu gantung yang berkilau lembut, lalu memantulkannya kembali bagai kunang-kunang yang turun berjatuhan. Pelaminan menjulang anggun berbalut kain putih bersih berpadu dedaunan hijau segar, dihiasi rangkaian bunga eustoma dan mawar putih yang harumnya samar namun menenangkan hati. Tidak berlebihan. Tidak mencolok mata. Persis seperti apa yang selalu kuimpikan dalam diam,sewaktu aku masih terbaring di kamar kos sempit dulu: sederhana, elegan, dan terasa begitu hangat. Barisan kursi tamu terisi penuh. Suara tawa, bisik-bisik penuh haru, dan alunan lagu romantis yang dinyanyikan langsung berpadu menyatu. Penyanyinya ternyata teman kuliah Rey dulu. Suaranya merdu dan menyentuh hingga ke relung dada, membuat mata para tamu yang hadir berkaca-kaca terharu. Di sampingku, Rey berdiri tegap dan tenang. Jas hit
Jam tiga dini hari, layar HP-ku padam. Foto Azka yang meringkuk di kasur tipis panti itu menolak pergi dari kepalaku. Tubuhku rebah, tapi pikiranku terjaga. Hanya dua jam aku memejam. Itu pun gelisah.Pagi baru mau menyapa, gawai di meja bergetar. Nama Rey terpampang. “Foto prewedding sudah jadi, Rin. Undangannya akan disebar hari ini.” Suaranya tenang, datar seperti biasa. Tapi aku tahu, di ujung sana dia tersenyum.Aku menjawab dengan suara serak yang belum bangun sempurna. “Hm… iya.” “Kenapa suaramu begitu? Begadang semalaman?” Aku menarik selimut hingga ke dagu. “Tadi malam ada yang mengirim foto, Rey.” Hening sejenak di seberang sana. Lalu dia berkata pelan, “Jangan dipedulikan. Jika dia berbuat lebih dari itu, kita siap melapor.” “Rey…” bisikku, “jaga kesehatanmu. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena terlalu banyak memikirkan kami.” Hanya “iya” lirih yang
Dua hari berlalu. Ponselku bergetar pelan. Pesan masuk dari Tania. “Rin, ini alamat Butik Salsa yang kemarin kita bahas. Sekalian datang ya buat cobain gaun pengantin, sekalian kita makan bareng. Anak-anak sudah aku suruh Alif jemput ke rumah Ayahmu, jadi kita bertiga saja sama Rey. Aku butuh waktu mengobrol bareng kamu." Aku sangat membutuhkannya. Butuh jeda sejenak. Butuh menarik napas panjang dari segala kekacauan yang ditimbulkan oleh Maya. Aku pun membalas: “Oke Sampai di sana jaml sebelas ya, Tan.” Di butik itu, aku mengenakan gaun Sage green yang lembut. Kainnya jatuh anggun membentuk siluet tubuh, model sederhana namun terlihat begitu elegan. Dari balik tirai penutup, suara Tania terdengar riang memuji. “Cantik banget kamu Rin! Rey pasti kelepek-klepek!” Belum selesai aku menata gaun itu, pintu butik terbuka. Rey datang membawa kantong belanjaan. “Cantik sekali kamu Rin.” "Makasih, Rey," jawabku. "habis dari







