แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: L.S
Bekas tamparanku dengan cepat terlihat jelas di wajah Adrian yang putih bersih.

Dia sendiri nyaris tidak bereaksi. Justru Ivana yang langsung kehilangan kendali.

"Ferlin!"

Wanita itu menjerit nyaring, lalu tiba-tiba meraih secangkir kopi yang ada di atas meja di sampingnya, lalu menyiramkannya ke arahku sekuat tenaga.

Aku secara refleks mengangkat tangan untuk melindungi wajahku. Namun, cairan kopi yang masih mendidih itu langsung mengguyur lenganku.

Rasa perih yang luar biasa seketika menjalar. Wajahku langsung memucat karena kesakitan.

Dalam hitungan detik, kulit lenganku memerah luas, bahkan mulai melepuh.

Dengan mata merah dipenuhi amarah, Ivana berseru.

"Kalau kamu memukulku, aku masih bisa terima! Tapi, beraninya kamu menampar tunanganku? Memangnya kamu ini siapa?"

Para karyawan yang sejak tadi menonton segera mengerubungi kami.

"Astaga! Lihat sampai seperti apa Bu Ivana dipaksa olehnya ...."

"Ferlin pantas diperlakukan begitu, 'kan? Siapa suruh dia yang lebih dulu memukul orang."

"Benar. Pak Adrian baik banget. Kalau aku sih, dari tadi sudah lapor polisi."

Seluruh tubuhku gemetar menahan sakit. Hanya saja, aku tetap menatap Ivana tanpa berkedip.

"Ini sudah termasuk penganiayaan dengan sengaja. Aku akan melapor ke polisi."

Raut wajah Ivana sedikit berubah.

Namun tak lama kemudian, Adrian mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tanganku.

Pria itu menunduk untuk melirik luka bakar di lenganku. Alisnya sedikit berkerut.

"Sudahlah, jangan buat keributan lagi. Masuk ke ruang kerjaku dulu dan obati luka bakarmu."

Aku langsung mengibaskan tangan Adrian.

"Lepaskan."

Ekspresi wajah Adrian pun menjadi muram.

"Ferlin, kamu bersikeras mau membesarkan masalah ini ya?"

Aku malah tertawa saking emosinya.

"Memangnya aku yang membesarkan masalah?"

"Yang dipukul itu aku! Yang disiram kopi juga aku!"

"Kenapa? Pak Adrian mau mengulang kejadian lima tahun lalu lagi? Kamu masih nggak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah?"

Napas Adrian sempat terhenti. Dia terdiam beberapa saat sebelum berucap pelan.

"Kalau kamu lapor ke polisi sekarang, selain bikin dirimu makin malu, itu sama sekali nggak ada gunanya."

"Obati dulu lukamu. Jangan sampai meninggalkan bekas."

Aku sama sekali tidak menghiraukan Adrian. Aku langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon polisi.

Dua puluh menit kemudian, polisi pun tiba.

Begitu petugas yang memimpin masuk dan melihat Adrian, wajahnya langsung dipenuhi senyum menjilat.

"Pak Adrian, ternyata Anda juga ada di sini."

Nada bicaranya terlalu sopan untuk ukuran orang yang sedang menangani perkara.

Hatiku perlahan diliputi firasat buruk.

Resepsionis segera menghampiri mereka dan berbicara sambil tersenyum.

"Maaf, kamera CCTV rusak sejak bulan lalu. Sampai sekarang masih belum sempat diperbaiki ...."

Para karyawan di sekitar juga langsung ikut angkat bicara.

"Dia yang lebih dulu memukul orang."

"Selain itu, dia terus mengganggu Pak Adrian ...."

"Tadi dia juga sengaja datang ke firma hukum untuk membuat keributan."

Semua orang membela Ivana.

Tidak ada satu pun yang berdiri di pihakku.

Ternyata setelah bertahun-tahun berlalu, semuanya masih sama.

Orang yang punya uang dan kekuasaan akan selalu memiliki orang-orang yang bersedia memutarbalikkan fakta demi mereka.

Petugas polisi itu mengernyit.

"Nona, mohon ikut bersama kami untuk menjalani pemeriksaan."

Aku menatapnya dengan tidak percaya.

"Yang terluka itu aku! Kenapa dia nggak ditangkap, malah aku yang mau dibawa pergi?"

Nada suara polisi itu mulai terdengar tidak sabar.

"Mohon bekerja sama. Kalau nggak, kami terpaksa mengambil tindakan paksa."

Pada saat itu, Adrian sedikit menunduk hingga bibirnya berada dekat telingaku, lalu dia berujar dengan suara rendah.

"Ferlin, kamu memang selalu keras kepala dan semaunya sendiri. Sudah waktunya kamu mendapat pelajaran."

Aku menatap raut wajah Adrian yang dingin. Hatiku terasa begitu hampa.

Aku masih ingat saat kami kuliah dulu, aku pernah bertanya kepadanya alasan dia memilih belajar hukum.

Adrian menjawab supaya bisa menegakkan keadilan dan mengembalikan dunia pada tempat yang benar.

Di momen itu, Adrian adalah sosok yang paling bersinar di mataku.

Namun sekarang, demi Ivana, dia berulang kali menginjak-injak hukum.

Bahkan, menginjak-injak diriku.

Adrian yang pernah kucintai itu ternyata tak lebih dari mimpi indah di masa remajaku.

Begitu terbangun, tak ada sedikit pun jejak yang tersisa.

Aku dibawa ke rumah tahanan. Ponselku juga disita.

Aku pun mengajukan pertanyaan.

"Bolehkah aku menghubungi suamiku?"

Petugas itu bahkan tidak mengangkat kepala.

"Sekarang belum bisa. Besok saja."

Aku pun didorong masuk ke dalam sel tahanan.

Di dalam, sudah ada beberapa wanita yang sedang mengobrol.

Begitu melihatku masuk, mereka saling bertukar pandang.

Salah seorang wanita berambut pendek tiba-tiba tersenyum sinis.

"Oh, jadi kamu pelakor yang menggoda tunangan orang itu?"

Sambil berkata demikian, dia mengangkat seember air dingin dan langsung menyiramkannya ke atas ranjangku.

"Malam ini kamu tidur di situ."

Orang-orang di sekitarnya langsung tertawa ramai.

"Padahal berani tampil seseksi itu, tapi masih takut dingin juga?"

"Masih berani pula memukul tunangan orang."

Baru saat itulah aku sadar, semua ini memang sudah direncanakan.

Kemungkinan besar Ivana sudah lebih dulu mengatur semuanya.

Sepanjang malam itu, tidak ada seorang pun yang membiarkanku tidur.

Setiap kali aku baru memejamkan mata, selalu ada yang sengaja menendang ranjangku.

Ada juga yang dengan sengaja melemparkan sampah ke tubuhku.

Menjelang dini hari, seseorang bahkan langsung menyiram wajahku dengan air dingin.

Aku meringkuk di atas ranjang yang dingin dan basah. Seluruh tubuhku menggigil kedinginan.

Luka gores di wajah akibat kuku Ivana terasa sangat perih. Lenganku pun terasa panas dan perih.

Namun, pikiranku justru makin jernih.

Lima tahun yang lalu ....

Mereka telah menabrak ibuku hingga meninggal. Mereka juga secara tidak langsung telah menyebabkan kematian ayahku.

Sekarang, mereka masih juga tidak mau melepaskanku.

Keesokan paginya ....

Akhirnya aku dibebaskan.

Seluruh tubuhku terasa limbung, seolah-olah seluruh tenagaku telah terkuras habis.

Seorang petugas mengembalikan ponselku.

"Pak Adrian berhati baik. Dia memutuskan nggak akan mempermasalahkan kejadian ini, jadi kamu boleh pulang. Lain kali jangan membuat masalah lagi."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk dan menyalakan ponselku.

Saat berikutnya, puluhan bahkan ratusan notifikasi bermunculan tanpa henti.

Keributan kemarin ternyata sudah menjadi berita yang sedang viral.

Video yang beredar jelas sudah diedit dengan sengaja.

Yang tersisa hanya rekaman saat aku menampar Adrian.

Juga adegan Ivana menangis hingga kehilangan kendali.

Kolom komentar dipenuhi hujatan kepadaku.

[Wanita ini sakit jiwa ya?]

[Katanya dulu dia memang tipe yang mengejar pria sampai nggak punya harga diri.]

[Nona Ivana kasihan banget.]

[Pelakor seperti ini kenapa nggak mati saja?]

Bahkan, sudah ada orang yang berhasil mencari identitasku.

Ada pula yang menemukan alamat rumah nenekku di kawasan kota tua.

Napasku seketika tercekat.

Tak lama kemudian, aku melihat sebuah video lain.

Di depan pasar tradisional ....

Nenekku yang hampir berusia 80 tahun dikerubungi oleh sekelompok wartawan. Belasan kamera diarahkan tepat ke wajahnya.

"Apakah cucu Anda seorang pelakor?"

"Benarkah dia mengalami gangguan jiwa?"

"Kami dengar sejak zaman kuliah dia memang suka merebut pacar orang. Apa itu benar?"

Nenekku hanya berdiri di tengah kerumunan dengan ekspresi bingung dan tak berdaya.

Di pelukannya, masih tergenggam erat jagung dan iga yang baru saja dibelinya.

Kemarin sebelum berangkat, aku sempat menelepon nenekku.

Aku bilang setelah urusanku selesai, aku akan datang menemuinya. Aku juga mengatakan bahwa aku ingin makan sup jagung dan iga buatannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 19

    Pernikahan kami berlangsung dengan sangat megah.Peter seolah-olah menghadirkan semua hal terbaik yang ada di Kota Agenso untukku.Lorong menuju pelaminan dipenuhi hamparan bunga mawar.Lampu-lampu kristal berkilauan bagaikan hamparan bintang.Sementara itu, aku yang mengenakan gaun pengantin melangkah perlahan ke arahnya.Tiba-tiba aku teringat pada diriku bertahun-tahun yang lalu.Saat aku meninggalkan Kota Agenso seorang diri, bahkan untuk sekadar bertahan hidup pun terasa begitu sulit.Saat itu, aku merasa seolah seluruh dunia telah meninggalkanku.Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mencintaiku sedalam ini.Saat tiba giliran mengucapkan janji pernikahan, Peter yang biasanya begitu tenang pun terlihat sedikit gugup.Peter menggenggam erat tanganku, lalu berbicara dengan suara pelan."Sejujurnya, pada awalnya aku cuma mau mencari seorang istri yang cocok.""Seseorang yang cantik, pintar, bisa membawa diri, dan yang paling penting

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 18

    Tindakan Adrian benar-benar membuat Peter murka.Dia langsung berdiri, lalu menghantamkan tinjunya dengan keras ke wajah Adrian!Adrian sama sekali tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung mundur karena pukulan itu dan seketika darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, Peter masih belum puas. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Adrian, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung."Kamu ini belum puas juga ya?""Dia mau menerima lamaranku atau nggak, tetap saja merupakan istriku!""Kamu sudah menyakitinya, tapi beraninya masih berdiri di sini?"Wajah Adrian sudah memar akibat pukulan itu. Namun, pandangannya tetap tertuju kepadaku.Saat itu, aku meraih tangan Peter."Sudahlah."Peter menoleh kepadaku. Kemarahan di matanya masih belum reda."Sayang, dia ...."Aku hanya menggeleng pelan."Jangan sampai orang yang sudah nggak penting merusak momen indah kita."Wajah Adrian langsung berubah pucat pasi.Sementara itu, aku mengulurkan tangan, mengambil cinci

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 17

    Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 16

    Adrian tanpa sadar melirik ke arahku.Di wajahnya, bahkan terlihat sedikit kepanikan.Saat berikutnya, dia segera berjalan cepat menghampiriku dan buru-buru memberikan penjelasan."Ferlin, jangan salah paham.""Dia adik sepupuku.""Dia akan segera menikah. Aku cuma menemaninya datang untuk mencoba gaun pengantin."Aku sedikit tertegun.Aku benar-benar tidak mengerti alasan Adrian merasa perlu menjelaskan semua itu kepadaku.Sesaat kemudian, aku tidak bisa menahan tawa."Adrian, sebanyak apa pun adikmu, memangnya ada hubungannya denganku?"Wajah Adrian langsung sedikit memucat.Sementara itu, aku sudah terlalu malas untuk terus memandangnya."Bisa tolong keluar? Aku mau mulai mencoba gaun pengantinku."Staf butik yang berdiri di samping kami juga terlihat canggung."Pak Adrian, gimana kalau Anda ...."Namun, Adrian seolah sama sekali tidak mendengarnya.Tatapannya jatuh pada beberapa gaun pengantin utama yang dipajang di samping.Makin lama, wajahnya terlihat makin pucat.Terutama ketik

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 15

    "Lagi lihat apa?"Tiba-tiba terdengar suara Peter yang jernih dari belakangku.Aku tersadar dari lamunanku, lalu mengulurkan tangan untuk menutup rapat tirai jendela."Bukan apa-apa.""Aku cuma melihat seseorang yang sudah nggak penting."Cahaya merah kecil dari ujung rokok di luar jendela seketika tertutup oleh tirai yang tebal.Seolah-olah, orang itu juga benar-benar telah terpisah dari kehidupanku untuk selamanya.Peter memelukku dari belakang, sementara dagunya bersandar di bahuku."Benaran sudah nggak penting?"Aku berbalik menghadapnya, lalu memegang kedua pipinya dan menciumnya dengan mantap."Ya. Bagiku, kamulah orang yang paling penting."Saat kata-kata itu terucap ....Untuk pertama kalinya, hatiku terasa begitu ringan.Seolah-olah akhirnya aku benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.Sorot mata Peter seketika dipenuhi senyum.Saat berikutnya, dia langsung menggendongku dan menjatuhkanku kembali ke atas ranjang."Sayang, malam ini kamu pintar sekali meray

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 14

    Adrian menatap tangan kami yang saling menggenggam. Wajahnya perlahan berubah makin pucat."Mana mungkin ...."Peter terkekeh pelan.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa aku memang sepenuhnya miliknya."Pak Adrian, harus seperti apa lagi supaya kamu percaya bahwa kami ini benar-benar suami istri?"Peter mengangkat pandangan dengan santai, tetapi nada bicaranya terdengar sangat menyebalkan."Gimana kalau aku dan istriku langsung memperlihatkannya sekali di depanmu?"Aku hanya bisa terdiam.Wajahku sontak memerah. Aku pun segera memukul lengannya pelan."Peter, jangan bicara sembarangan!"Melihat diriku yang langsung salah tingkah, Peter justru tertawa makin puas.Dia meraih tanganku, lalu menunduk dan mengecup punggung tanganku dengan lembut."Kenapa malu? Bukannya hal seperti itu wajar dilakukan oleh suami istri?"Wajahku terasa makin panas.Sementara itu, raut wajah Adrian sudah berubah sangat muram.Tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status