แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: L.S
Suasana mendadak hening selama beberapa saat.

Tak lama kemudian, Adrian mendengus pelan, seolah-olah baru saja mendengar lelucon yang menggelikan.

"Ferlin, sebelum berbohong, setidaknya pakailah otakmu dulu."

"Cerita yang nggak masuk akal begitu, kamu sendiri percaya?"

Salah satu teman kuliah kami yang kini bekerja di firma hukumnya segera ikut menimpali sambil tersenyum sinis.

"Benar. Cuma dengan menyewa mobil mewah dan menyuruh seorang aktor berpura-pura bekerja sama, memangnya kamu bisa menyulap diri jadi istri keluarga konglomerat?"

Tawa lirih kembali terdengar di sekelilingku.

"Astaga, tadi aku sampai kaget. Kukira dia benar-benar menikah dengan orang hebat ...."

"Paling juga cuma dapat pria tua yang lumayan kaya."

Aku begitu marah hingga seluruh tubuhku gemetar.

Baru saja hendak membalas ....

Terdengar suara wanita yang tajam memanggil namaku. "Ferlin!"

Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar makin mendekat.

Saat berikutnya, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipiku.

Plak!

Kepalaku sampai tersentak ke samping karena pukulan itu. Telingaku berdenging hebat.

Ivana berdiri di hadapanku dengan mata memerah. Dia mencengkeram kerah bajuku erat-erat.

"Masih berani juga kamu datang mencari Kak Adrian?"

"Kami sudah bertunangan! Kenapa kamu masih terus menghantui hidup kami?"

Aku baru tersadar dari keterkejutanku dan langsung mengangkat tangan untuk membalas tamparan Ivana.

Namun, pergelangan tanganku tiba-tiba dicengkeram seseorang.

Aroma kayu yang dingin dan begitu kukenal kembali memenuhi indra penciumanku.

Itu Adrian.

Pria itu mengernyit, lalu mengingatkan dengan suara rendah.

"Ferlin, jangan membuat keributan."

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

Yang ditampar adalah aku.

Namun, orang yang Adrian hentikan juga aku.

Melihat itu, secercah kemenangan melintas di mata Ivana.

Segera setelah itu, Ivana tiba-tiba menerjangku dan mencengkeram rambutku dengan kasar.

"Kamu masih punya malu atau nggak?"

"Dari zaman kuliah dulu, kamu sudah terus menempel pada Kak Adrian!"

"Kamu tahu jelas kami tumbuh bersama sejak kecil, tapi tetap saja sengaja menyelip di antara kami!"

"Sekarang setelah bertahun-tahun berlalu, kamu bahkan mengejarnya sampai ke firma hukum ini!"

Kuku-kuku Ivana yang panjang menggores wajahku.

Plak! Plak! Plak! Beberapa tamparan lagi mendarat tanpa ampun di wajahku.

Suasana di sekeliling langsung gempar.

"Astaga .... Kenapa begitu seram ...."

"Sudah berapa tahun berlalu, masih saja mengganggu Pak Adrian?"

"Bu Ivana benar-benar kasihan."

Bahkan, beberapa orang sudah mengangkat ponsel mereka dan mulai merekam video. Lensa kamera hampir ditempelkan ke wajahku.

"Rekam yang jelas."

"Jarang-jarang ada drama pelakor datang mengganggu seperti ini."

"Dengar-dengar, dulu waktu kuliah memang dialah yang mati-matian mengejar Pak Adrian."

"Benar saja. Orang yang terlalu mengemis cinta akhirnya nggak akan mendapatkan apa-apa."

Suara cibiran dari segala arah menerjangku seperti gelombang yang tak ada habisnya.

Rambutku terus ditarik hingga kulit kepalaku terasa nyeri. Tubuhku limbung hingga hampir tidak sanggup berdiri lagi.

Sementara itu, Adrian hanya berdiri di tempat. Dia sama sekali tidak berusaha menarik Ivana menjauh dariku.

Setelah lelah memukulku, Ivana langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan Adrian sambil menangis tersedu-sedu.

"Kak Adrian ... aku benar-benar takut ...."

"Apa dia mau merebutmu kembali dariku ...."

Orang-orang di sekitar langsung menenangkan Ivana.

"Tenang saja, Bu Ivana. Mana mungkin Pak Adrian akan tertarik sama wanita begitu?"

"Benar. Semua orang tahu kamu dan Pak Adrian tumbuh bersama sejak kecil. Dia paling menyayangimu."

"Memang ada saja orang yang nggak tahu diri."

Aku tiba-tiba ingin tertawa.

Lima tahun yang lalu ....

Saat Ivana menabrak ibuku hingga meninggal dunia ....

Adrian juga melakukan hal yang sama.

Dia berdiri di seberangku sambil melindungi Ivana.

Seolah-olah akulah yang telah melakukan semua kesalahan.

Seharusnya, sejak dulu aku sudah terbiasa dengan semua ini ....

Adrian menatapku dari atas dengan sikap merendahkan, lalu berujar seolah sedang memberiku belas kasihan.

"Ferlin, kalau kamu minta maaf sekarang ...."

"Juga berjanji setelah ini kamu nggak akan bohong dan bikin keributan lagi ...."

"Aku akan membantumu menyelesaikan semuanya."

Aku hanya menatap Adrian tanpa berkedip.

Yang kurasakan hanyalah betapa tidak masuk akalnya semua ini.

Aku tidak pernah berbohong, mengejar Adrian, ataupun membuat keributan.

Atas dasar apa Adrian memperlakukanku seperti seorang pengemis yang sedang diberi sedekah?

Aku tersenyum. Namun, kedua mataku sudah memerah.

"Adrian, kamu benar-benar membuatku muak."

Aku mengangkat tanganku, lalu menampar wajahnya keras-keras.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 19

    Pernikahan kami berlangsung dengan sangat megah.Peter seolah-olah menghadirkan semua hal terbaik yang ada di Kota Agenso untukku.Lorong menuju pelaminan dipenuhi hamparan bunga mawar.Lampu-lampu kristal berkilauan bagaikan hamparan bintang.Sementara itu, aku yang mengenakan gaun pengantin melangkah perlahan ke arahnya.Tiba-tiba aku teringat pada diriku bertahun-tahun yang lalu.Saat aku meninggalkan Kota Agenso seorang diri, bahkan untuk sekadar bertahan hidup pun terasa begitu sulit.Saat itu, aku merasa seolah seluruh dunia telah meninggalkanku.Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mencintaiku sedalam ini.Saat tiba giliran mengucapkan janji pernikahan, Peter yang biasanya begitu tenang pun terlihat sedikit gugup.Peter menggenggam erat tanganku, lalu berbicara dengan suara pelan."Sejujurnya, pada awalnya aku cuma mau mencari seorang istri yang cocok.""Seseorang yang cantik, pintar, bisa membawa diri, dan yang paling penting

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 18

    Tindakan Adrian benar-benar membuat Peter murka.Dia langsung berdiri, lalu menghantamkan tinjunya dengan keras ke wajah Adrian!Adrian sama sekali tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung mundur karena pukulan itu dan seketika darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, Peter masih belum puas. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Adrian, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung."Kamu ini belum puas juga ya?""Dia mau menerima lamaranku atau nggak, tetap saja merupakan istriku!""Kamu sudah menyakitinya, tapi beraninya masih berdiri di sini?"Wajah Adrian sudah memar akibat pukulan itu. Namun, pandangannya tetap tertuju kepadaku.Saat itu, aku meraih tangan Peter."Sudahlah."Peter menoleh kepadaku. Kemarahan di matanya masih belum reda."Sayang, dia ...."Aku hanya menggeleng pelan."Jangan sampai orang yang sudah nggak penting merusak momen indah kita."Wajah Adrian langsung berubah pucat pasi.Sementara itu, aku mengulurkan tangan, mengambil cinci

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 17

    Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 16

    Adrian tanpa sadar melirik ke arahku.Di wajahnya, bahkan terlihat sedikit kepanikan.Saat berikutnya, dia segera berjalan cepat menghampiriku dan buru-buru memberikan penjelasan."Ferlin, jangan salah paham.""Dia adik sepupuku.""Dia akan segera menikah. Aku cuma menemaninya datang untuk mencoba gaun pengantin."Aku sedikit tertegun.Aku benar-benar tidak mengerti alasan Adrian merasa perlu menjelaskan semua itu kepadaku.Sesaat kemudian, aku tidak bisa menahan tawa."Adrian, sebanyak apa pun adikmu, memangnya ada hubungannya denganku?"Wajah Adrian langsung sedikit memucat.Sementara itu, aku sudah terlalu malas untuk terus memandangnya."Bisa tolong keluar? Aku mau mulai mencoba gaun pengantinku."Staf butik yang berdiri di samping kami juga terlihat canggung."Pak Adrian, gimana kalau Anda ...."Namun, Adrian seolah sama sekali tidak mendengarnya.Tatapannya jatuh pada beberapa gaun pengantin utama yang dipajang di samping.Makin lama, wajahnya terlihat makin pucat.Terutama ketik

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 15

    "Lagi lihat apa?"Tiba-tiba terdengar suara Peter yang jernih dari belakangku.Aku tersadar dari lamunanku, lalu mengulurkan tangan untuk menutup rapat tirai jendela."Bukan apa-apa.""Aku cuma melihat seseorang yang sudah nggak penting."Cahaya merah kecil dari ujung rokok di luar jendela seketika tertutup oleh tirai yang tebal.Seolah-olah, orang itu juga benar-benar telah terpisah dari kehidupanku untuk selamanya.Peter memelukku dari belakang, sementara dagunya bersandar di bahuku."Benaran sudah nggak penting?"Aku berbalik menghadapnya, lalu memegang kedua pipinya dan menciumnya dengan mantap."Ya. Bagiku, kamulah orang yang paling penting."Saat kata-kata itu terucap ....Untuk pertama kalinya, hatiku terasa begitu ringan.Seolah-olah akhirnya aku benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.Sorot mata Peter seketika dipenuhi senyum.Saat berikutnya, dia langsung menggendongku dan menjatuhkanku kembali ke atas ranjang."Sayang, malam ini kamu pintar sekali meray

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 14

    Adrian menatap tangan kami yang saling menggenggam. Wajahnya perlahan berubah makin pucat."Mana mungkin ...."Peter terkekeh pelan.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa aku memang sepenuhnya miliknya."Pak Adrian, harus seperti apa lagi supaya kamu percaya bahwa kami ini benar-benar suami istri?"Peter mengangkat pandangan dengan santai, tetapi nada bicaranya terdengar sangat menyebalkan."Gimana kalau aku dan istriku langsung memperlihatkannya sekali di depanmu?"Aku hanya bisa terdiam.Wajahku sontak memerah. Aku pun segera memukul lengannya pelan."Peter, jangan bicara sembarangan!"Melihat diriku yang langsung salah tingkah, Peter justru tertawa makin puas.Dia meraih tanganku, lalu menunduk dan mengecup punggung tanganku dengan lembut."Kenapa malu? Bukannya hal seperti itu wajar dilakukan oleh suami istri?"Wajahku terasa makin panas.Sementara itu, raut wajah Adrian sudah berubah sangat muram.Tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status