แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: L.S
Aku segera berlari menuju kawasan kota tua seperti orang yang kehilangan akal.

Di kepalaku hanya ada satu pikiran.

Jantung nenekku lemah. Dia tidak boleh mengalami guncangan emosi.

Namun begitu sampai di lantai atas, langkahku langsung terhenti. Seluruh dinding lorong telah dicoret dengan cat semprot merah menyala.

[Pelakor mati saja!]

[Semoga satu keluarga jalang ini mati!]

[Dasar nggak tahu malu!]

Beberapa karangan bunga duka dipasang miring di depan pintu rumah.

Uang kertas sembahyang berserakan memenuhi lantai.

Beberapa tetangga berdiri di lorong sambil berbisik-bisik membicarakanku.

Aku mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah. Di dapur, sup jagung dan iga kesukaanku masih mengepul di dalam panci.

Aroma yang begitu akrab memenuhi seluruh ruangan.

Namun, nenekku tergeletak tak bergerak di depan pintu dapur.

"Nenek!"

Aku langsung menerjang ke arahnya. Tanganku gemetar hebat hingga hampir tidak sanggup menopang tubuhnya.

Wajah nenekku pucat pasi. Dia sudah tidak sadarkan diri.

Akan tetapi, orang-orang yang berdiri di luar pintu, tidak ada satu pun yang mau masuk membantu. Mereka hanya menunjuk-nunjukku sambil terus bergunjing.

Aku menggigit bibir sekuat tenaga, lalu menggendong nenekku yang tak sadarkan diri menuruni tangga seorang diri dan membawanya ke rumah sakit.

Lampu ruang gawat darurat menyala begitu terang hingga terasa menyilaukan mata.

Aku berdiri di luar dengan penampilan yang sangat berantakan.

Pipiku masih bengkak. Luka bakar di lenganku sudah dipenuhi lepuhan.

Namun, aku sama sekali tidak memedulikannya.

Seorang suster bergegas keluar dengan ekspresi serius.

"Pasien mengalami serangan jantung akut. Dia harus segera menjalani operasi."

Aku seperti menemukan secercah harapan.

"Lakukan! Tolong segera lakukan operasinya!"

Hanya saja, suster itu terlihat ragu-ragu sejenak.

"Dokter senior yang dapat melakukan operasi ini sedang menangani pasien VIP .... Kemungkinan kalian harus menunggu sebentar."

Seluruh tubuhku langsung membeku.

"Nyawa nenekku sudah di ujung tanduk! Kalian malah menyuruhku menunggu?"

Suster itu terlihat sangat serba salah.

"Maaf, pasien itu memiliki status khusus. Kami juga nggak bisa apa-apa ...."

Kepalaku berdengung. Tanpa berpikir panjang, aku berbalik dan berlari menuju ruang pemeriksaan VIP.

Aku langsung mendorong pintunya hingga terbuka. Di dalam, Ivana sedang duduk santai di ranjang pasien.

Begitu melihatku, Ivana sempat tertegun, lalu perlahan-lahan tersenyum.

"Kak Ferlin?"

Aku mengepalkan kedua tangan sekuat tenaga.

"Suruh dokter itu pergi menyelamatkan nenekku dulu. Kondisinya sudah kritis."

Ivana mengedipkan mata dengan ekspresi polos, lalu dia membalas dengan suara lembut.

"Tapi, jantungku juga sedang nggak enak. Kemarin aku terlalu emosi gara-gara kamu, makanya dokter sedang memeriksaku sekarang."

Aku hampir kehilangan kendali.

"Ivana, ini menyangkut nyawa orang!"

"Kalau memang mau melampiaskan semuanya, lakukan saja padaku! Jangan libatkan nenekku!"

Ibuku sudah meninggal.

Ayahku juga sudah tiada.

Nenekku adalah satu-satunya keluarga sedarah yang masih kumiliki di dunia ini.

Aku tidak boleh kehilangan dia.

Ivana menatapku sambil tersenyum tipis.

"Boleh. Kalau kamu berlutut memohon padaku, aku akan menyuruh dokter ke sana."

Aku hanya terpaku selama beberapa detik, lalu aku benar-benar berlutut di hadapannya.

Dulu, saat aku dipaksa meninggalkan Negara Tortaz ....

Demi tidak menyeret nenekku ke dalam masalah, selama beberapa tahun pertama aku bahkan tidak berani menghubunginya.

Semua hal menjijikkan yang kualami, aku juga tidak pernah berani menceritakannya kepada nenekku.

Aku hanya berharap nenekku bisa hidup dengan damai, panjang umur, dan sehat selalu.

Aku sudah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak bisa kehilangan nenekku juga.

"Kumohon ... suruh dokter selamatkan nenekku ...."

Melihatku benar-benar berlutut, senyum Ivana makin lebar.

Dengan sepatu hak tingginya, Ivana berjalan perlahan menghampiriku. Kemudian, dia berdiri tepat di depanku sambil menatapku dari atas.

"Ferlin, lihat dirimu sekarang ... benar-benar seperti seekor anjing."

Usai berkata demikian, tumit sepatu hak tinggi Ivana langsung menginjak punggung tanganku dengan keras.

Rasa sakit yang menusuk ....

Membuatku mengerang tertahan.

Namun, Ivana justru menambah kekuatannya, seolah-olah ingin menghancurkan tulang-tulang tanganku.

Wanita itu perlahan membungkuk, lalu berbisik tepat di telingaku dan mengucapkan setiap kata dengan sangat jelas.

"Nenekmu."

"Begitu juga ayah dan ibumu."

"Mereka semua pantas mati."

"Siapa suruh mereka melahirkan wanita hina sepertimu?"

Aku mengangkat kepala. Mataku sudah merah dipenuhi amarah.

Saat itulah, terdengar suara seorang pria yang berat dari arah pintu.

"Ivana."

Dalam sekejap, ekspresi Ivana langsung berubah.

Air matanya mengalir begitu saja.

Dia segera berlari dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Adrian.

"Kak Adrian ... jantungku sakit banget ...."

"Tapi, Kak Ferlin nggak mengizinkanku diperiksa dokter!"

"Jangan-jangan, dia mau aku mati .... Dengan begitu, kalian bisa balikan ...."

Adrian mengerutkan kening sambil menatapku. Sorot matanya dipenuhi kekecewaan.

"Ferlin, dulu kamu sendiri yang bersikeras mau putus denganku."

"Sekarang, kamu malah terus menyusahkan tunanganku. Sebenarnya, apa yang kamu inginkan?"

Mana mungkin aku masih punya waktu meladeni mereka?

Sekarang, aku hanya ingin menyelamatkan nenekku.

Dengan mata memerah, aku berujar dingin, "Minggir."

Seharusnya, sejak awal aku tidak berharap binatang bisa bertindak seperti manusia.

Jelas cara ini tidak akan berhasil.

Aku berbalik dan berniat menghubungi rumah sakit lain.

Namun baru berjalan beberapa langkah, pergelangan tanganku kembali dicengkeram Adrian.

Pria menatapku lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara berat.

"Ferlin, jangan-jangan kamu menyesal? Itu sebabnya kamu terus muncul di hadapanku lagi dan lagi?"

Aku langsung mengibaskan tangannya dengan kasar.

"Kamu sakit jiwa ya?"

Aku berlari secepat mungkin kembali ke ruang gawat darurat.

Namun, para tenaga medis sudah melepaskan masker mereka.

Mereka menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami."

Aku membeku di tempat.

Tiba-tiba semua suara di sekitarku lenyap.

Seolah-olah seluruh dunia mendadak dibungkam.

Perlahan aku mengangkat kepala.

Kulihat tubuh nenekku terbaring tenang di atas ranjang rumah sakit. Seluruh tubuhnya telah tertutup kain putih.

Saat itulah aku benar-benar menyadari bahwa di dunia ini, aku sudah tidak memiliki seorang pun keluarga sedarah yang tersisa.

Dalam sekejap, aku seperti kembali ke sore hari ketika kehilangan ibuku.

Langit seakan runtuh dan dunia menjadi gelap. Bahkan, bernapas pun terasa begitu sulit bagiku.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 19

    Pernikahan kami berlangsung dengan sangat megah.Peter seolah-olah menghadirkan semua hal terbaik yang ada di Kota Agenso untukku.Lorong menuju pelaminan dipenuhi hamparan bunga mawar.Lampu-lampu kristal berkilauan bagaikan hamparan bintang.Sementara itu, aku yang mengenakan gaun pengantin melangkah perlahan ke arahnya.Tiba-tiba aku teringat pada diriku bertahun-tahun yang lalu.Saat aku meninggalkan Kota Agenso seorang diri, bahkan untuk sekadar bertahan hidup pun terasa begitu sulit.Saat itu, aku merasa seolah seluruh dunia telah meninggalkanku.Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mencintaiku sedalam ini.Saat tiba giliran mengucapkan janji pernikahan, Peter yang biasanya begitu tenang pun terlihat sedikit gugup.Peter menggenggam erat tanganku, lalu berbicara dengan suara pelan."Sejujurnya, pada awalnya aku cuma mau mencari seorang istri yang cocok.""Seseorang yang cantik, pintar, bisa membawa diri, dan yang paling penting

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 18

    Tindakan Adrian benar-benar membuat Peter murka.Dia langsung berdiri, lalu menghantamkan tinjunya dengan keras ke wajah Adrian!Adrian sama sekali tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung mundur karena pukulan itu dan seketika darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, Peter masih belum puas. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Adrian, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung."Kamu ini belum puas juga ya?""Dia mau menerima lamaranku atau nggak, tetap saja merupakan istriku!""Kamu sudah menyakitinya, tapi beraninya masih berdiri di sini?"Wajah Adrian sudah memar akibat pukulan itu. Namun, pandangannya tetap tertuju kepadaku.Saat itu, aku meraih tangan Peter."Sudahlah."Peter menoleh kepadaku. Kemarahan di matanya masih belum reda."Sayang, dia ...."Aku hanya menggeleng pelan."Jangan sampai orang yang sudah nggak penting merusak momen indah kita."Wajah Adrian langsung berubah pucat pasi.Sementara itu, aku mengulurkan tangan, mengambil cinci

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 17

    Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 16

    Adrian tanpa sadar melirik ke arahku.Di wajahnya, bahkan terlihat sedikit kepanikan.Saat berikutnya, dia segera berjalan cepat menghampiriku dan buru-buru memberikan penjelasan."Ferlin, jangan salah paham.""Dia adik sepupuku.""Dia akan segera menikah. Aku cuma menemaninya datang untuk mencoba gaun pengantin."Aku sedikit tertegun.Aku benar-benar tidak mengerti alasan Adrian merasa perlu menjelaskan semua itu kepadaku.Sesaat kemudian, aku tidak bisa menahan tawa."Adrian, sebanyak apa pun adikmu, memangnya ada hubungannya denganku?"Wajah Adrian langsung sedikit memucat.Sementara itu, aku sudah terlalu malas untuk terus memandangnya."Bisa tolong keluar? Aku mau mulai mencoba gaun pengantinku."Staf butik yang berdiri di samping kami juga terlihat canggung."Pak Adrian, gimana kalau Anda ...."Namun, Adrian seolah sama sekali tidak mendengarnya.Tatapannya jatuh pada beberapa gaun pengantin utama yang dipajang di samping.Makin lama, wajahnya terlihat makin pucat.Terutama ketik

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 15

    "Lagi lihat apa?"Tiba-tiba terdengar suara Peter yang jernih dari belakangku.Aku tersadar dari lamunanku, lalu mengulurkan tangan untuk menutup rapat tirai jendela."Bukan apa-apa.""Aku cuma melihat seseorang yang sudah nggak penting."Cahaya merah kecil dari ujung rokok di luar jendela seketika tertutup oleh tirai yang tebal.Seolah-olah, orang itu juga benar-benar telah terpisah dari kehidupanku untuk selamanya.Peter memelukku dari belakang, sementara dagunya bersandar di bahuku."Benaran sudah nggak penting?"Aku berbalik menghadapnya, lalu memegang kedua pipinya dan menciumnya dengan mantap."Ya. Bagiku, kamulah orang yang paling penting."Saat kata-kata itu terucap ....Untuk pertama kalinya, hatiku terasa begitu ringan.Seolah-olah akhirnya aku benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.Sorot mata Peter seketika dipenuhi senyum.Saat berikutnya, dia langsung menggendongku dan menjatuhkanku kembali ke atas ranjang."Sayang, malam ini kamu pintar sekali meray

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 14

    Adrian menatap tangan kami yang saling menggenggam. Wajahnya perlahan berubah makin pucat."Mana mungkin ...."Peter terkekeh pelan.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa aku memang sepenuhnya miliknya."Pak Adrian, harus seperti apa lagi supaya kamu percaya bahwa kami ini benar-benar suami istri?"Peter mengangkat pandangan dengan santai, tetapi nada bicaranya terdengar sangat menyebalkan."Gimana kalau aku dan istriku langsung memperlihatkannya sekali di depanmu?"Aku hanya bisa terdiam.Wajahku sontak memerah. Aku pun segera memukul lengannya pelan."Peter, jangan bicara sembarangan!"Melihat diriku yang langsung salah tingkah, Peter justru tertawa makin puas.Dia meraih tanganku, lalu menunduk dan mengecup punggung tanganku dengan lembut."Kenapa malu? Bukannya hal seperti itu wajar dilakukan oleh suami istri?"Wajahku terasa makin panas.Sementara itu, raut wajah Adrian sudah berubah sangat muram.Tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status