登入Andi berdehem gugup dan menarik kerah bajunya. Ia mengarahkan tangannya ke arah wanita bergaun merah itu.
"Ah, ya. Sherine, biar kenalkan kamu dengan seseorang," ucap Andi cepat. "Ini Chloe. Dia sekretaris pribadi baruku. Dia baru mulai bekerja di sini minggu ini, dan kami baru saja membahas beberapa berkas bisnis penting." Aku menatap Chloe dan memberinya anggukan sopan. Aku bisa dengan mudah melihat lipstiknya sedikit berantakan di bibirnya, dan matanya tampak sangat kesal karena aku merusak momen romantis mereka. Namun, dia membalasnya dengan senyuman kecil dan palsu. "Halo, Ny. Sherine. Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda," ucap Chloe dengan nada sok sopan, namun suaranya terdengar dingin. "Senang berkenalan denganmu juga, Chloe," jawabku dengan lancar dan tenang. Lalu, aku berbalik menatap Andi. Aku berjalan mendekatinya dan berdiri sangat dekat dengan tubuhnya. Aku mengangkat tangan kananku, melingkarkan lengannya di leher Andi, dan menyentuh kulitnya dengan lembut. Aku mengusap tengkuknya dengan jemariku dan merapikan kerah kemejanya yang berantakan dengan tangan satunya lagi, berpura-pura menjadi istri yang sangat penyayang. "Kamu kelihatan begitu lelah, Sayangku," kataku lembut, menatap tepat ke dalam mata Andi. "Rambutmu sedikit berantakan, dan kerah kemejamu tidak rapi. Kamu benar-benar harus lebih menjaga diri saat aku tidak ada di sisimu." Andi tampak benar-benar terkejut dengan tindakan penuh kasih sayangku yang tiba-tiba. Ia mematung di tempat dan bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Aku melirik Chloe dari sudut mataku. Aku melihat matanya membelalak karena marah, dan dia melipat kedua tangannya erat-erat di depan dada. Wajahnya berubah pucat dan sangat cemburu saat melihatku menyentuh leher Andi begitu intim. Di dalam hati, aku menertawakan reaksinya yang konyol. Dia pikir dia bisa dengan mudah merebut posisiku, tapi dia sama sekali tidak tahu bahwa aku sedang mempermainkan mereka berdua. Setiap sentuhan itu hanyalah akting belaka untuk membuat mereka tetap tidak curiga terhadap rencana perceraian yang sesungguhnya. "Yah, aku tidak boleh terlalu lama di sini dan mengganggu pekerjaan kalian," ucapku dengan senyuman hangat, lalu menurunkan tanganku dari leher Andi dengan perlahan. "Kamu sudah mau pergi?" tanya Andi, terlihat sedikit lega karena aku akan segera pergi. "Iya, Sayang," jawabku sambil memungut tas tangan mewahku. "Aku mau ikut kelas yoga hari ini bersama Clara. Kami menemukan studio yoga baru yang bagus sekali di dekat sini, dan kami ingin mencobanya bersama. Aku mungkin akan pergi cukup lama hari ini, jadi tolong habiskan makan siangmu mumpung masih hangat." "Baiklah, bersenang-senanglah dengan Clara," kata Andi sambil mengangguk riang. "Jangan pulang terlalu larut." "Selamat tinggal, Andi. Selamat tinggal, Chloe," ucapku dengan manis sebelum berbalik dan melangkah keluar kantor dengan langkah yang ringan serta anggun. ---- Dua puluh menit kemudian, aku tiba di sebuah studio yoga yang bersih dan indah di pusat kota. Clara sudah menungguku di dekat meja resepsionis, mengenakan pakaian olahraga hitam dan memegang dua botol air mineral dingin. Begitu melihatku masuk, dia berlari menghampiriku dengan senyuman lebar. "Bagaimana tadi di kantornya?" bisik Clara secara rahasia ke telingaku. "Apa kamu tetap tenang?" "Semuanya berjalan sempurna," bisikku balik sambil tersenyum miring. "Aku memergoki mereka berdua, mengambil foto-foto jelas lewat dinding kaca, dan berakting menjadi istri manis yang sempurna di hadapan sekretaris barunya. Dia tampak begitu cemburu saat aku menyentuh Andi." "Kamu memang luar biasa, Sherine!" Clara tertawa pelan, lalu mengajakku tos. "Sekarang, lupakan pria sampah itu selama dua jam ke depan. Mari kita tenangkan pikiran dan regangkan tubuh kita di kelas ini." Kami berjalan memasuki ruang yoga yang luas. Ruangan itu terasa sangat damai, dipenuhi alunan musik bambu yang lembut dan aroma lavender yang menenangkan. Kami membentangkan matras yoga ungu milik kami berdampingan di dekat barisan depan dan mulai melakukan peregangan tangan serta kaki sembari menunggu kelas dimulai. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka, dan seorang pemuda tampan melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia tinggi, atletis, memiliki kulit kecokelatan yang hangat dengan rambut pendek gelap. Dia mengenakan kaus abu-abu sederhana dan celana olahraga gelap. Dia memiliki senyuman yang sangat ramah, membuat seluruh ruangan seketika terasa hangat dan nyaman. "Selamat siang semuanya," ucap pria itu dengan suara yang dalam, halus, dan lembut. "Nama saya Leo, dan saya instruktur yoga baru kalian untuk sesi hari ini. Kita akan fokus pada pernapasan dalam, keseimbangan tubuh, dan melepaskan stres dari pikiran kita." Clara menyenggol bahuku dengan sikunya dan berbisik pelan, "Wah, lihat dia, Sherine! Dia tampan sekali dan jauh lebih keren daripada Andi." Aku tersenyum kecil dan menggelengkan kepala mendengar gurauan konyol Clara, tapi aku harus akui bahwa Leo memancarkan energi yang sangat menarik dan menenangkan. Kami memulai kelas yoga, mengikuti instruksi tenang dari Leo saat kami bergerak melalui berbagai pose gerakan. Di tengah-tengah kelas, kami mencoba pose keseimbangan yang cukup sulit dengan satu kaki. Keseimbanganku sedikit goyah dan kakiku terpeleset di atas matras. Sebelum aku sempat jatuh ke lantai kayu, sebuah tangan yang hangat dan kokoh dengan lembut merangkul pinggangku dari belakang, menyangga berat badanku dengan aman. "Pelan-pelan," bisik Leo dengan ramah, mendekat untuk membantuku berdiri tegak kembali. "Jaga pernapasanmu agar tetap lambat dan stabil, lalu pusatkan pandanganmu pada satu titik di depan." Aku menolehkan kepalaku dan mendongak, menatap ke dalam sepasang mata cokelatnya yang hangat. Dia berdiri sangat dekat denganku, dan dia tidak langsung menarik tangannya. Dia menatap wajahku dengan ekspresi lembut dan penuh perhatian—rasanya sangat berbeda dari mata Andi yang dingin dan egois. Untuk sesaat, jantungku berdetak melebihi biasanya. "Terima kasih, Leo," kataku pelan, merasakan rona merah muda muncul di kedua pipiku. "Kamu melakukannya dengan sangat baik, Sherine," ucap Leo dengan senyuman lembut yang menawan, menyebut namaku secara langsung. "Nikmati saja kelasnya dan jangan terlalu memaksakan diri hari ini." Dia melangkah mundur perlahan untuk membantu murid-murid lain di kelas, tetapi selama sisa sesi latihan itu, aku menyadari Leo beberapa kali mencuri pandang ke arahku dengan binar ketertarikan yang tenang di matanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seolah-olah ada seseorang yang benar-benar peduli padaku sebagai seorang manusia.Suasana di ruang persemayaman yang hening itu terasa semakin sesak oleh kehadiran Andi. Aku menatap pria yang selama ini menjadi sumber air mataku, namun kini berdiri dengan sorot mata yang tampak berbeda—jauh lebih tenang, tidak ada kilat arogansi yang biasanya selalu melekat pada dirinya setiap kali kami berdebat."Terima kasih sudah mengurus pemakaman Ayah," ucapku dingin, berusaha menjaga jarak dan mempertahankan harga diriku di hadapannya.Andi tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Aku melakukannya bukan untuk mencari pujian darimu, Sher. Aku tahu aku salah besar padamu. Kebodohanku kehilanganmu adalah hal paling disesali dalam hidupku."Mendengar kata-kata penyesalan itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang dulu hobi berselingkuh, aku mendengus sinis. "Penyesalanmu sudah terlambat, Andi. Proses perceraian kita tetap jalan terus.""Aku tahu," balas Andi lirih, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum maskulinnya menguar ke udara. Ia m
"Panggilan video dari siapa, Sher?"Suara Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunanku. Ponsel di genggamanku terus bergetar menampilkan layar hitam dengan teror pesan singkat tersebut. Tanpa ragu, aku langsung menekan tombol merah untuk menolak dan mengabaikan panggilan itu, lalu melemparkan ponsel ke atas sofa dengan tangan yang sedikit bergetar."Bukan siapa-siapa, cuma nomor spam," jawabku berbohong, berusaha menyembunyikan kepanikan yang mendadak mencengkeram dadaku. Aku tidak mau membuat Clara cemas, apalagi hari ini ia berencana keluar untuk menenangkan diri.Setelah Clara pergi, aku memutuskan untuk bersiap-siap membersihkan diri dan mandi pagi agar pikiran-pikiran buruk akibat teror pesan tadi bisa sedikit mereda. Namun, baru saja handuk melilit di tubuhku dan aku melangkah keluar kamar mandi, suara dering telepon berbunyi dan ini dari nomer rumah sakit dimana ayahku dirawat. Dering itu memecah kesunyian, menciptakan firasat buruk yang langsung mendesir
"Siapa yang datang, Sher?"Suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar dari arah kamar tidur dalam. Clara melangkah keluar dengan rambut dicepol seadanya dan mata yang masih menyipit, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menerobos masuk dari jendela dapur. Pandangan sahabatku itu langsung tertuju pada map cokelat asing dan raut mukanya yang masih masam.Aku menggeleng pelan, berjalan lemes menuju dapur untuk melanjutkan niat bikin sarapan yang sempat tertunda. "Bukan siapa-siapa. Cuma Johan dan... Sasa."Nama terakhir yang kuucapkan membuat Clara langsung terkesiap, kantuknya menguap seketika. "Sasa?! Mantan nya Leo si brengsek itu? Ngapain dia ke sini pagi-pagi buta bareng CEO seram yang kamu ceritain kemarin?!" tanya Clara heboh, langsung menyusulku ke area dapur dengan langkah cepat."Mereka cuma mengantar berkas ini," jawabku singkat, meraih cangkir berisi air hangat yang sempat kuabaikan tadi.Clara langsung menyambar map cokelat di atas meja, membukanya deng
Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna pemandangan gila di luar pintu apartemen sempit Clara.Apa-apaan ini? Johan datang ke apartemen murah kami bersama Sasa—wanita yang pernah membuat keributan besar rumah lama Clara sebelumnya karena urusan lelaki buaya darat bernama Leo?Dengan tangan bergetar karena emosi yang mendadak meluap, aku langsung menarik gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin koridor apartemen langsung menyergap wajahku."Apa maksud kalian datang ke sini pagi-pagi buta?!" kataku tajam, menatap Johan dan Sasa bergantian dengan tatapan tidak suka.Johan menurunkan ponsel dari telinganya. Senyum tipis terukir di bibirnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada suaraku yang ketus. Pria itu tampak begitu kontras dengan dinding koridor yang kusam, memancarkan aura dominasi yang langsung membuatku merasa kecil, namun di saat yang sama juga memicu rasa jengkel yang luar biasa."Selamat pagi juga, Sherine," sapa Johan tenang, mengabaikan pertanyaanku dan m
Sentuhan bibir kami yang mendadak beradu di balik meja bar yang remang-remang langsung memadamkan segala perdebatan sengit di antara kami. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan ringan; itu adalah ledakan dari rasa rindu, frustrasi, amarah, dan keinginan mendalam yang selama berbulan-bulan kami pendam rapat-rapat.Johan sempat tertegun sepersekian detik karena terkejut atas inisiatifku yang begitu liar. Namun, dominasi pria itu langsung mengambil alih. Tangannya yang semula mencengkeram pinggangku kini merayap naik ke tengkukku, menahan kepalaku agar tidak bisa lari, sementara bibirnya balas melumat bibirku dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan menghanyutkan.Desahan tertahan lolos begitu saja dari sela-sela bibirku saat lidah Johan mendesak masuk, mengeksplorasi setiap inci rongga mulutku tanpa ampun. Suasana bising di dalam The Velvet Lounge—mulai dari dentuman musik jazz hingga riuh rendah suara para tamu—seolah lenyap tak bersisa. Dunia di sekeliling kami seakan berhenti b
"Tidak, Tuan Arman. Sepertinya malam ini saya sudah cukup melayani Anda," kataku dengan suara dingin, mendadak kehilangan selera untuk pura-pura ramah.Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung menyambar nampan perak di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan sofa nomor dua belas. Arman sempat memanggil namaku pelan, namun aku sama sekali tidak peduli. Seluruh perhatian dan fokusku kini sepenuhnya tersedot ke arah sofa VIP di seberang ruangan—tempat di mana Johan dan Sasa duduk terlalu dekat, tampak begitu menikmati kebersamaan mereka.Aku berjalan cepat menuju area bar utama, meletakkan nampan dengan sedikit sentakan keras hingga pelayan lain menoleh kaget. Napasku memburu, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena gejolak emosi aneh yang mendadak membakar dada. Cemburu? Apakah aku baru saja merasa cemburu melihat Johan bersama wanita lain?Tidak mungkin! batinku menyangkal keras. Aku yang memilih kabur darinya. Aku yang menolak sangkar emasnya demi kebebasan. Jadi







