LOGINSaat Elisa memutuskan menemui Velia, ia tidak pernah membayangkan akan terjadi kekerasan seperti ini. Ia hanya ingin memperingatkan Velia agar berhenti mendekati Leo dan bahwa semua yang Velia lakukan tidak akan berpengaruh pada rumah tangganya. Hanya itu. Tapi mendadak Velia menyerangnya. Elisa kaget dan tidak menyangka. Saat tubuhnya didorong begitu keras, Elisa sudah siap menahan sakit, tapi ia malah jatuh ke pelukan Liandro yang mendadak masuk. "Velia, apa yang kau lakukan?" pekik Liandro sambil memeluk Elisa. "Anda tidak apa, Bu Elisa? Ada apa ini? Apa yang terjadi, hah?" Napas Elisa masih tersengal dan rambutnya acak-acakan, tapi ia berusaha berdiri dibantu Melda, ibu Velia. "Anda tidak apa, Bu Elisa? Maafkan Velia! Ada apa di sini, Velia? Mengapa kau mendorong Bu Elisa?" bentak Melda juga. "Kau tidak sedang mabuk kan, Velia?" bentak Garren juga, ayah Velia. Velia menggeleng panik. "Grandpa, Ayah, Ibu, masalahnya tidak seperti yang kalian pikir." "Lalu seperti apa? Jelas
Elisa segera bersiap pagi itu. Setelah mendapat pencerahan dari Bik Imah, Elisa kembali bersemangat. Dari yang awalnya ia tidak niat ke mana-mana, sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan. Elisa menelepon Ririn dan memintanya memastikan sesuatu, sebelum Elisa pergi ke Liandro Group untuk menemui Velia di sana. Sementara Velia sendiri sudah kembali dari Bali sejak kemarin. Begitu mendapat peringatan dari Leo, ia tidak tahan lagi. Setelah memastikan Heri pergi dari sana, ia pun pulang dan tahu lagi apa yang Leo lakukan. Velia berniat mengurung dirinya di rumah saja, tapi sialnya, ada banyak pekerjaan yang menunggunya sampai akhirnya ia harus pergi ke kantor. Namun, pikirannya tidak pernah benar. Velia ketakutan menghadapi Leo, bahkan ketakutan ini melebihi rasa takutnya waktu Susan disekap. "Sial! Jangan memikirkannya, Velia! Jangan memikirkannya!" Velia pun masih mencoba kembali fokus saat pintu ruangannya diketuk dan asistennya masuk ke dalam. "Selamat pagi, Bu. Ada yang menc
Elisa tidak bisa tidur lagi malam itu. Bahkan setelah suaminya pulang, ia makin tidak bisa tidur. Air matanya tidak mau berhenti mengalir walaupun Leo sudah menjelaskan semuanya dengan jujur. Leo yang melihat istrinya tidur memunggunginya sambil menangis pun merasa bersalah. Ini yang ia takutkan, membuat istrinya bersedih. Lebih baik Elisa marah, lebih baik Elisa berteriak dan menamparnya, tapi yang ada, istrinya itu malah diam. "Sayang, aku tahu kau belum tidur." Leo mendekat dan memeluk istrinya dari belakang, tapi air mata Elisa mengalir makin deras. "Elisa, Sayang, maafkan aku karena ada kejadian seperti ini. Tapi aku bersumpah aku tidak merasa melakukan apa pun dengannya. Bahkan di saat seperti itu, hanya kau yang ada di pikiranku. Maafkan aku, Sayang." Leo mencium mesra bahu Elisa, tapi Elisa tetap diam dan memejamkan matanya. Ia tidak tidur, tapi juga tidak membuka matanya dan tidak bicara. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu harus berkata apa. Bahkan Elisa ak
"Dia sama sekali bukan pria yang mudah, Velia! Sama sekali bukan pria yang mudah!" seru Rosie begitu Leo dan timnya sudah keluar dari sana. "Aku sudah bilang sejak awal kalau ini salah kan? Tapi kalian tidak mau mendengarkan aku!" omel Terry. Velia yang masih berjalan mondar-mandir pun makin marah. "Diam! Diam semuanya! Jangan membuatku makin pusing!" bentaknya. Rosie dan Terry pun terdiam dengan napas yang masih tersengal. "Baiklah, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Velia?" "Aku tidak tahu, Rosie! Aku tidak tahu! Berhenti bertanya dan berhenti bicara! Aku makin pusing! Sial! Yang pasti aku tidak melangkah sejauh ini untuk membiarkannya begitu saja, tapi aku juga takut untuk melangkah lebih jauh! Siallll!!!"Velia masih ketakutan dan ia tidak bisa berpikir apa pun. Ia pun memastikan Heri tidak bicara dan menyuruhnya keluar saja dari hotel. Tentu saja Velia memberinya banyak uang sebagai ganti gajinya selama satu tahun. Sedangkan Leo yang seharusnya pulang besok, malah ak
Elisa mimpi buruk malam itu. Dalam mimpinya, ia melihat Velia menggandeng tangan Leo pergi sampai Elisa terus menjerit. "Jangan pergi, Leo! Jangan pergi!" Elisa pun terbangun dengan kaget dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamarnya. "Ya ampun, aku hanya bermimpi. Ah, dadaku kencang sekali." Tepat saat itu, Alden merengek pelan. Elisa pun langsung mengangkatnya dan menyusuinya. Untung saja Alden minum susu dengan tenang dan rakus sampai kedua dada Elisa yang tadinya kencang mulai terasa lega. Namun, ingatan akan mimpi tadi masih menghantuinya. "Mimpi apa itu? Pasti karena aku terlalu banyak memikirkan Leo dan Velia tadi. Bisa-bisanya Velia muncul di mimpiku. Tapi jam berapa ini?" Elisa meraih ponsel untuk melihat jam dan jam masih menunjukkan jam tiga subuh, tapi ada pesan yang dibalas oleh Leo sekitar lima menit yang lalu. "Maafkan aku, Sayang, aku tertidur tadi. Aku akan meneleponmu saat kau bangun nanti." Elisa langsung tersenyum sumringah. "Lima men
"Ini CCTV di ballroom, Pak." Manager hotel dan petugas CCTV membantu Leo memeriksa CCTV. Mereka melihat semua alurnya sejak Leo masuk ke ballroom, tapi tidak ditemukan keanehan sama sekali. Posisi saat Velia memanggil Heri dan memberikan obat tidak terdeteksi di CCTV sehingga Leo tidak menemukan bukti apa pun. "Itu pelayan yang memberikan aku minum." "Dia memang pelayan di sini, sudah bekerja sekitar setengah tahun, tidak pernah ada masalah dengannya, Pak." "Dia juga pelayan yang membantuku naik ke kamar. Sekarang coba cek CCTV di depan kamarku." Petugas menunjukkan CCTV di depan kamar Leo, tapi CCTV-nya mati. Rosie sendiri tadi dibantu oleh orang dalam untuk mematikan CCTV dan itu dilakukan di luar pengawasan petugas CCTV."Maaf, Pak, aku belum tahu apa kesalahannya, tapi kebetulan CCTV sedang mati di lorong itu. Memang ada beberapa CCTV di lorong yang mati dan sedang dilakukan perbaikan." Rusman menggeram. "Hal seperti ini harus dilakukan segera, jangan ditunda! Kita tidak pe
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







